بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
BAB KELIMA:
TAUBAT 2
وَيُحْكَى عَنْ أَبِي حَفْصٍ الحَدَّادِ أَنَّهُ قَالَ : ( تَرَكْتُ العَمَلَ كَذَا وَكَذَا مَرَّةً ، فَعُدْتُ إِلَيْهِ ، ثُمَّ تَرَكَنِي العَمَلُ ، فَلَمْ أَعُدْ بَعْدَهُ إِلَيْهِ )
وَقِيلَ : إِنَّ أَبَا عَمْرِو بْنَ نُجَيْدٍ فِي ابْتِدَاءِ أَمْرِهِ اخْتَلَفَ إِلَى مَجْلِسِ أَبِي عُثْمَانَ ، فَأَثَّرَ فِي قَلْبِهِ كَلَامُهُ ، فَتَابَ عَلَى يَدِهِ ، ثُمَّ إِنَّهُ وَقَعَتْ لَهُ فَتْرَةٌ ، فَكَانَ يَهْرُبُ مِنْ أَبِي عُثْمَانَ إِذَا رَآهُ ، وَيَتَأَخَّرُ عَنْ مَجْلِسِهِ ، فَاسْتَقْبَلَهُ أَبُو عُثْمَانَ يَوْمًا ، فَحَادَ أَبُو عَمْرٍو عَنْ طَرِيقِهِ ، وَسَلَكَ طَرِيقًا آخَرَ ، فَتَبِعَهُ أَبُو عُثْمَانَ ، فَمَا زَالَ يَقْفُو أَثَرَهُ حَتَّى لَحِقَهُ ، ثُمَّ قَالَ لَهُ : يَا بُنَيَّ ؛ لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُحِبُّكَ إِلَّا مَعْصُومًا ، إِنَّمَا يَنْفَعُكَ أَبُو عُثْمَانَ فِي مِثْلِ هَذِهِ الْحَالَةِ
قَالَ : فَتَابَ أَبُو عَمْرِو بْنُ نُجَيْدٍ ، وَعَادَ إِلَى الْإِرَادَةِ وَنَفَذَ
سَمِعْتُ الشَّيْخَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ رَحِمَهُ اللَّهُ يَقُولُ : تَابَ بَعْضُ الْمُرِيدِينَ ، ثُمَّ وَقَعَتْ لَهُ فَتْرَةٌ ، فَكَانَ يُفَكِّرُ وَقْتًا : لَوْ عَادَ إِلَى التَّوْبَةِ . . كَيْفَ حُكْمُهُ ؟ فَهَتَفَ بِهِ هَاتِفٌ يَا أَبَا فُلَانٍ ؛ أَطَعْتَنَا فَشَكَرْنَاكَ ، ثُمَّ تَرَكْتَنَا فَأَمْهَلْنَاكَ ، فَإِنْ عُدْتَ إِلَيْنَا . . قَبِلْنَاكَ . فَعَادَ الْفَتَى إِلَى الْإِرَادَةِ وَنَفَذَ
فَإِذَا تَرَكَ الْمَعَاصِيَ ، وَحَلَّ عَنْ قَلْبِهِ عُقْدَةَ الْإِصْرَارِ ، وَعَزَمَ عَلَى أَلَّا يَعُودَ إِلَى مِثْلِهِ فَعِنْدَ ذَلِكَ يَخْلُصُ إِلَى قَلْبِهِ صَادِقُ النَّدَمِ ، فَيَتَأَسَّفُ عَلَى مَا عَمِلَهُ ، وَيَأْخُذُ فِي التَّحَسُّرِ عَلَى مَا ضَيَّعَهُ مِنْ أَحْوَالِهِ ، وَارْتَكَبَهُ مِنْ قَبِيحِ أَعْمَالِهِ ، فَتَتِمُّ تَوْبَتُهُ ، وَتَصْدُقُ مُجَاهَدَتُهُ ، وَيَسْتَبْدِلُ بِمُخَالَطَتِهِ الْعُزْلَةَ ، وَبِصُحْبَتِهِ مَعَ أَخْدَانِ السُّوءِ التَّوَحُّشَ عَنْهُمْ ، وَالْخَلْوَةَ دُونَهُمْ ، وَيَصِلُ لَيْلَهُ بِنَهَارِهِ فِي التَّلَهُّفِ ، وَيَعْتَنِقُ فِي عُمُومِ أَحْوَالِهِ صِدْقَ التَّأَسُّفِ ، يَمْحُو بِصَوْبِ عَبْرَتِهِ آثَارَ عَثْرَتِهِ ، وَيَأْسُو بِحُسْنِ تَوْبَتِهِ كُلُومَ حَوْبَتِهِ ، يُعْرَفُ مِنْ بَيْنِ أَمْثَالِهِ بِذُبُولِهِ ، وَيُسْتَدَلُّ عَلَى صِحَّةِ حَالِهِ بِنُحُولِهِ
وَلَنْ يَتِمَّ لَهُ شَيْءٌ مِنْ هَذَا إِلَّا بَعْدَ فَرَاغِهِ مِنْ إِرْضَاءِ خُصُومِهِ ، وَالْخُرُوجِ عَمَّا لَزِمَهُ مِنْ مَظَالِمِهِ ؛ فَإِنَّ أَوَّلَ مَنْزِلَةٍ فِي التَّوْبَةِ إِرْضَاءُ الْخُصُومِ بِمَا أَمْكَنَهُ ، فَإِنِ اتَّسَعَ ذَاتُ يَدِهِ لِإِيصَالِ حُقُوقِهِمْ إِلَيْهِمْ ، أَوْ سَمَحَتْ نُفُوسُهُمْ بِإِحْلَالِهِ وَالْبَرَاءَةِ عَنْهُ ، وَإِلَّا . . فَالْعَزْمُ بِقَلْبِهِ عَلَى أَنْ يَخْرُجَ مِنْ حُقُوقِهِمْ عِنْدَ الْإِمْكَانِ ، وَالرُّجُوعُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِصِدْقِ الِابْتِهَالِ وَالدُّعَاءِ لَهُمْ
وَلِلتَّائِبِينَ صِفَاتٌ وَأَحْوَالٌ هِيَ مِنْ خِصَالِهِمْ ، يُعَدُّ ذَلِكَ مِنْ جُمْلَةِ التَّوْبَةِ لِكَوْنِهَا مِنْ صِفَاتِهِمْ ، لَا لِأَنَّهَا مِنْ شَرْطِ صِحَّتِهَا ، وَإِلَى ذَلِكَ تُشِيرُ أَقَاوِيلُ الشُّيُوخِ فِي مَعْنَى التَّوْبَةِ
Diceritakan pula dari Abu Hafs
Al-Haddad bahwasanya beliau berkata: (Aku pernah meninggalkan amalan/dosa
tersebut berkali-kali, namun aku kembali lagi kepadanya. Hingga akhirnya amalan
buruk itu yang meninggalkanku, dan aku tidak pernah lagi kembali kepadanya
setelah itu).
Dikatakan: Bahwa Abu 'Amr bin Nujaid
pada awal perjalanannya sering menghadiri majelis Abu 'Utsman. Ucapan Abu
'Utsman memberi pengaruh mendalam pada hatinya, sehingga ia bertobat di
hadapannya. Namun, setelah itu ia mengalami masa fatrah
(kemunduran/kelemahan iman), sehingga ia kerap lari menghindari Abu 'Utsman
jika melihatnya dan tidak hadir di majelisnya.
Suatu hari, Abu 'Utsman berpapasan
dengannya, lalu Abu 'Amr membelok menghindar dan mengambil jalan lain. Abu
'Utsman terus mengikutinya dan menelusuri jejaknya hingga berhasil menyusulnya.
Abu 'Utsman kemudian berkata kepadanya: "Wahai anakku, janganlah engkau
bersahabat dengan orang yang tidak menyukaimu kecuali ketika engkau dalam
keadaan ma'shum (terpelihara dari dosa). Sesungguhnya Abu 'Utsman justru
berguna bagimu dalam keadaan seperti ini."
Kata periwayat: Maka Abu 'Amr bin
Nujaid pun bertobat, kembali kepada iradah (keinginan kuat menuju
Allah), dan melangkah maju secara konsisten.
Aku mendengar Syaikh Abu 'Ali
ad-Daqqaq rahimahullah berkata: Seorang murid pernah bertobat, kemudian
ia mengalami masa kemunduran (fatrah). Suatu ketika ia berpikir: "Seandainya
aku kembali bertobat... bagaimana hukumnya bagiku?" Tiba-tiba ada
suara tanpa rupa (hatif) menyerunya: "Wahai Fulan, engkau menaati Kami
maka Kami bersyukur kepadamu, lalu engkau meninggalkan Kami maka Kami memberi
penangguhan padamu. Jika engkau kembali kepada Kami... Kami akan
memenerimamu." Maka pemuda itu kembali pada iradah-nya dan
melangkah maju secara konsisten.
Apabila seseorang telah meninggalkan
kemaksiatan, melepaskan ikatan kegigihan berbuat dosa dari hatinya, dan
bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, maka pada saat itulah penyesalan yang
jujur akan masuk ke dalam hatinya. Ia menyesali apa yang telah diperbuatnya dan
mulai bersedih atas waktu-waktu yang ia sia-siakan serta perbuatan buruk yang
dilakukannya. Dengan demikian, bertambah sempurnalah tobatnya dan jujurlah
kesungguhannya (mujahadah).
Ia mengganti pergaulannya dengan
kesendirian ('uzlah), mengganti kebersamaannya dengan teman-teman yang
buruk dengan menjauhi mereka serta berkhalwat tanpa kehadiran mereka. Ia
menyambung malam dan siangnya dalam kerinduan/kesedihan, serta senantiasa
memeluk penyesalan yang jujur dalam seluruh keadaannya. Ia menghapus
bekas-bekas kesalahannya dengan gururan air matanya, dan mengobati luka-luka
dosanya dengan indahnya tobatnya. Ia dikenali di antara sesamanya dari
kelayuannya (wajah yang pudar karena ibadah/rasa takut), dan kesehatan
keadaannya dapat diketahui dari keadaannya yang kurus.
Semua hal tersebut tidak akan
sempurna baginya kecuali setelah ia selesai memuaskan (meminta maaf/meringankan
beban dari) orang-orang yang berselisih dengannya (khushum), dan
membebaskan diri dari kezaliman yang menjadi tanggungannya. Kedudukan pertama
dalam bertobat adalah meredakan/memuaskan lawan berselisih sejauh kemampuan.
Jika ia memiliki kelapangan rezeki untuk menyampaikan hak-hak mereka kepada
mereka, atau jika jiwa mereka rela memaafkan dan membebaskannya, [maka selesailah];
jika tidak, maka hatinya harus bertekad untuk menyelesaikan hak-hak mereka saat
ada kemampuan, serta kembali kepada Allah Ta'ala dengan tulus berdoa dan
memohonkan kebaikan untuk mereka.
Bagi orang-orang yang bertobat,
terdapat sifat-sifat dan keadaan yang menjadi bagian dari karakter mereka. Hal
itu dianggap sebagai bagian dari cakupan tobat karena menjadi sifat/ciri
mereka, bukan karena menjadi syarat sahnya tobat. Kepada hal itulah ucapan para
guru (Syaikh) merujuk mengenai makna tobat.
Diceritakan pula dari Abu Hafs
Al-Haddad bahwasanya beliau berkata: (Aku pernah meninggalkan amalan/dosa
tersebut berkali-kali, namun aku kembali lagi kepadanya. Hingga akhirnya amalan
buruk itu yang meninggalkanku, dan aku tidak pernah lagi kembali kepadanya
setelah itu).
سَمِعْتُ الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ : ( التَّوْبَةُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ : أَوَّلُهَا : التَّوْبَةُ ، وَأَوْسَطُهَا : الإِنَابَةُ ، وَآخِرُهَا : الأَوْبَةُ )
فَجَعَلَ التَّوْبَةَ بِدَايَةً ، وَالأَوْبَةَ نِهَايَةً ، وَالإِنَابَةَ وَاسِطَتَهُمَا
فَكُلُّ مَنْ تَابَ لِخَوْفِ العُقُوبَةِ . . فَهُوَ صَاحِبُ تَوْبَةٍ ، وَمَنْ تَابَ طَمَعاً فِي الثَّوَابِ . فَهُوَ صَاحِبُ إِنَابَةٍ ، وَمَنْ تَابَ مُرَاعَاةً لِلْأَمْرِ ، لَا لِرَغْبَةٍ فِي الثَّوَابِ أَوْ رَهْبَةٍ مِنَ العِقَابِ . . فَهُوَ صَاحِبُ أَوْبَةٍ
وَيُقَالُ أَيْضاً : التَّوْبَةُ صِفَةُ المُؤْمِنِينَ ، قَالَ اللهُ تَعَالَى : ﴿ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ ﴾ ، وَالإِنَابَةُ صِفَةُ الأَوْلِيَاءِ وَالمُقَرَّبِينَ ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : ﴿ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ ﴾ ، وَالأَوْبَةُ صِفَةُ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِينَ ، قَالَ اللهُ تَعَالَى : ﴿ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ
سَمِعْتُ الشَّيْخَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ مَنْصُورَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ جَعْفَرَ ابْنَ نُصَيْرٍ يَقُولُ : سَمِعْتُ الجُنَيْدَ يَقُولُ : ( التَّوْبَةُ عَلَى ثَلَاثَةِ مَعَانٍ : أَوَّلُهَا : النَّدَمُ ، وَالثَّانِي : العَزْمُ عَلَى تَرْكِ المَعَاوَدَةِ إِلَى مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ ، وَالثَّالِثُ : السَّعْيُ فِي أَدَاءِ المَظَالِمِ )
وَقَالَ سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللهِ : ( التَّوْبَةُ : تَرْكُ التَّسْوِيفِ )
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ الرَّازِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللهِ القُرَشِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ الجُنَيْدَ يَقُولُ : سَمِعْتُ الحَارِثَ يَقُولُ : ( مَا قُلْتُ قَطُّ : اللَّهُمَّ ؛ إِنِّي أَسْأَلُكَ التَّوْبَةَ ، وَلَكِنِّي أَقُولُ : أَسْأَلُكَ شَهْوَةَ التَّوْبَةِ )
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الشِّيرَازِيُّ قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدَ بْنَ مُصْلِحٍ بِالأَهْوَازِ يَقُولُ : سَمِعْتُ ابْنَ زِيزَى يَقُولُ : سَمِعْتُ الجُنَيْدَ يَقُولُ : دَخَلْتُ عَلَى السَّرِيِّ يَوْماً ، فَرَأَيْتُهُ مُتَغَيِّراً ، فَقُلْتُ لَهُ : مَا لَكَ ؟ فَقَالَ : دَخَلَ عَلَيَّ شَابٌّ فَسَأَلَنِي عَنِ التَّوْبَةِ ، فَقُلْتُ لَهُ : أَلَّا تَنْسَى ذَنْبَكَ ، فَعَارَضَنِي وَقَالَ : بَلِ التَّوْبَةُ أَنْ تَنْسَى ذَنْبَكَ
فَقُلْتُ : إِنَّ الأَمْرَ عِنْدِي مَا قَالَهُ الشَّابُّ ، فَقَالَ : لِمَ ؟ قُلْتُ : لِأَنِّي إِذَا كُنْتُ فِي حَالِ الجَفَاءِ فَنَقَلَنِي إِلَى حَالِ الوَفَاءِ . . فَذِكْرُ الجَفَاءِ فِي حَالِ الصَّفَاءِ جَفَاءٌ ، فَسَكَتَ
Aku mendengar Al-Ustadz Abu 'Ali
Ad-Daqqaq rahimahullah berkata: "Tobat itu terbagi menjadi tiga
tingkatan: pertama adalah Taubah (tobat), pertengahannya adalah Inabah
(kembali), dan puncaknya adalah Aubah (kembali total)."
Beliau menjadikan Taubah
sebagai permulaan, Aubah sebagai tingkatan akhir, dan Inabah
sebagai perantara di antara keduanya.
- Barang siapa bertobat karena takut akan siksaan, maka
ia adalah pemilik Taubah.
- Barang siapa bertobat karena mendambakan pahala, maka
ia adalah pemilik Inabah.
- Dan barang siapa bertobat demi menaati perintah
Allah—bukan karena mendambakan pahala maupun takut akan siksa—maka ia
adalah pemilik Aubah.
Dikatakan pula: Taubah adalah
sifat orang-orang beriman, Allah Ta'ala berfirman: “Dan bertobatlah kamu
sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman” (QS. An-Nur: 31). Inabah
adalah sifat para wali dan Muqarrabin (orang-orang yang didekatkan),
Allah 'Azza wa Jalla berfirman: “(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang
Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan dan dia datang dengan hati yang
bertobat (munib)” (QS. Qaf: 33). Dan Aubah adalah sifat para nabi
dan rasul, Allah Ta'ala berfirman: “Dia adalah sebaik-baik hamba.
Sesungguhnya dia amat taat/kembali kepada Allah (awwab)” (QS. Shad: 30).
Aku mendengar Syaikh Abu
'Abdirrahman As-Sulami berkata: Aku mendengar Manshur bin 'Abdillah berkata:
Aku mendengar Ja'far bin Nushair berkata: Aku mendengar Al-Junaid berkata: "Tobat
itu mencakup tiga makna: pertama adalah penyesalan, kedua adalah tekad untuk
tidak mengulangi kembali apa yang dilarang oleh Allah, dan ketiga adalah
bersungguh-sungguh mengembalikan/menyelesaikan kezaliman (hak-hak orang
lain)."
Sahl bin 'Abdillah berkata: "Tobat
adalah meninggalkan sikap menunda-nunda."
Aku mendengar Muhammad bin Al-Husain
berkata: Aku mendengar Abu Bakr Ar-Razi berkata: Aku mendengar Abu 'Abdillah
Al-Qurasyi berkata: Aku mendengar Al-Junaid berkata: Aku mendengar Al-Harits
berkata: "Aku tidak pernah berdoa: 'Ya Allah, sesungguhnya aku memohon
kepada-Mu tobat,' melainkan aku berdoa: 'Aku memohon kepada-Mu keinginan/hasrat
untuk bertobat.'"
Abu 'Abdillah Asy-Syirazi
mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu 'Abdillah Muhammad bin
Mushlih di Ahwaz berkata: Aku mendengar Ibn Ziza berkata: Aku mendengar
Al-Junaid berkata:
Pada suatu hari aku menemui As-Sari
(Al-Saqati), lalu aku melihat raut wajahnya berubah (bingung/gelisah). Aku
bertanya kepadanya: "Ada apa denganmu?"
Ia menjawab: "Seorang pemuda
datang menemuiku dan bertanya tentang tobat. Aku katakan padanya: '(Hakikat
tobat adalah) engkau tidak melupakan dosamu.' Namun ia menyanggahku dan
berkata: 'Justeru hakikat tobat adalah engkau melupakan dosamu!'"
Maka aku (Al-Junaid) berkata: "Menurut
pandanganku, yang benar adalah apa yang dikatakan pemuda itu."
As-Sari bertanya: "Mengapa
begitu?"
Aku menjawab: "Karena jika
tadinya aku berada dalam keadaan berpaling (jafa'), lalu Allah memindahkanku ke
dalam keadaan penuh kesetiaan (wafa')... maka mengingat-ingat masa saat
berpaling di tengah keadaan yang sudah murni (shafa') adalah suatu perbuatan
yang menyakitkan/berpaling (jafa')." Maka As-Sari pun diam (menerima
penjelasan tersebut).
سَمِعْتُ أَبَا حَاتِمٍ السِّجِسْتَانِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا نَصْرٍ السَّرَّاجَ الصُّوفِيَّ يَقُولُ : سُئِلَ سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ التَّوْبَةِ ، فَقَالَ : أَلَّا تَنْسَى ذَنْبَكَ ، وَسُئِلَ الْجُنَيْدُ عَنِ التَّوْبَةِ ، فَقَالَ : أَنْ تَنْسَى ذَنْبَكَ
قَالَ أَبُو نَصْرٍ السَّرَّاجُ : أَشَارَ سَهْلٌ إِلَى أَحْوَالِ الْمُرِيدِينَ وَالْمُتَعَرِّضِينَ تَارَةً لَهُمْ وَتَارَةً عَلَيْهِمْ ، وَأَمَّا الْجُنَيْدُ . . فَإِنَّهُ أَشَارَ إِلَى تَوْبَةِ الْمُتَحَقِّقِينَ ، لَا يَذْكُرُونَ ذُنُوبَهُمْ مِمَّا غَلَبَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مِنْ عَظَمَةِ اللَّهِ وَدَوَامِ ذِكْرِهِ
قَالَ : وَهُوَ مِثْلُ مَا سُئِلَ رُوَيْمٌ عَنِ التَّوْبَةِ ، فَقَالَ : ( التَّوْبَةُ مِنَ التَّوْبَةِ )
وَسُئِلَ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ عَنِ التَّوْبَةِ ، فَقَالَ : ( تَوْبَةُ الْعَوَامِّ مِنَ الذُّنُوبِ ، وَتَوْبَةُ الْخَوَاصِّ مِنَ الْغَفْلَةِ )
وَقَالَ النَّوَرِيُّ : ( التَّوْبَةُ : أَنْ تَتُوبَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سِوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ )
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ الصُّوفِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَلِيِّ بْنِ مُحَمَّدٍ التَّمِيمِيَّ يَقُولُ : ( شَتَّانَ مَا بَيْنَ تَائِبٍ يَتُوبُ مِنَ الزَّلَّاتِ ، وَتَائِبٍ يَتُوبُ مِنَ الْغَفَلَاتِ ، وَتَائِبٍ يَتُوبُ مِنْ رُؤْيَةِ الْحَسَنَاتِ )
وَقَالَ الْوَاسِطِيُّ : ( التَّوْبَةُ النَّصُوحُ لَا تُبْقِي عَلَى صَاحِبِهَا أَثَرًا مِنَ الْمَعْصِيَةِ ، سِرًّا وَلَا جَهْرًا ، وَمَنْ كَانَتْ تَوْبَتُهُ نَصُوحًا . . لَا يُبَالِي كَيْفَ أَمْسَى وَأَصْبَحَ )
سَمِعْتُ الشَّيْخَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْفَضْلِ الْهَاشِمِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الرُّومِيِّ يَقُولُ : سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ مُعَاذٍ يَقُولُ : ( إِلَهِي ؛ لَا أَقُولُ : تُبْتُ وَلَا أَعُودُ ؛ لِمَا أَعْرِفُ مِنْ خُلُقِي ، وَلَا أَضْمَنُ تَرْكَ الذُّنُوبِ ؛ لِمَا أَعْرِفُ مِنْ ضَعْفِي ، ثُمَّ إِنِّي أَقُولُ : لَا أَعُودُ ، لَعَلِّي أَمُوتُ قَبْلَ أَنْ أَعُودَ )
وَقَالَ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ : ( الِاسْتِغْفَارُ مِنْ غَيْرِ إِقْلَاعٍ تَوْبَةُ الْكَذَّابِينَ )
Aku mendengar Abu Hatim As-Sijistani
berkata: Aku mendengar Abu Nashr As-Sarraj Ash-Shufi berkata: Sahl bin
'Abdullah pernah ditanya tentang tobat, lalu beliau menjawab, "Sesuatu
di mana engkau tidak melupakan dosamu." Dan Al-Junaid ditanya tentang
tobat, lalu beliau menjawab, "Engkau melupakan dosamu."
Abu Nashr As-Sarraj menjelaskan:
Sahl mengisyaratkan pada keadaan para murid (penempuh jalan spiritual
awal) yang terkadang memihak mereka dan terkadang memberatkan mereka. Sedangkan
Al-Junaid, beliau mengisyaratkan pada tobat orang-orang yang al-mutaḥaqqiqīn
(orang yang telah sampai pada hakikat). Mereka tidak lagi mengingat dosa-dosa
mereka karena hati mereka telah diliputi oleh keagungan Allah dan senantiasa
berzikir kepada-Nya.
Ia berkata: Hal ini senada dengan
saat Ruwaim ditanya tentang tobat, lalu beliau menjawab, "Tobat dari
(merasa) bertobat."
Dzul Nun Al-Mishri pernah ditanya
tentang tobat, lalu beliau menjawab, "Tobat orang awam adalah dari
dosa-dosa, sedangkan tobat orang khawas (khusus/pilihan) adalah dari
kelalaian."
An-Nuri berkata, "Tobat
adalah engkau bertobat dari segala sesuatu selain Allah 'Azza wa Jalla."
Aku mendengar Muhammad bin Ahmad bin
Muhammad Ash-Shufi berkata: Aku mendengar 'Abdullah bin 'Ali bin Muhammad
At-Tamimi berkata, "Betapa jauh perbedaannya antara orang yang bertobat
dari kekhilafan, orang yang bertobat dari kelalaian, dan orang yang bertobat
dari memandang (merasa bangga atas) kebaikan-kebaikannya."
Al-Wasithi berkata, "Tobat
nasuha tidak meninggalkan bekas kemaksiatan sedikit pun pada pelakunya, baik
secara rahasia maupun terang-terangan. Dan barang siapa yang tobatnya nasuha...
ia tidak peduli bagaimana ia melalui sore dan paginya."
Aku mendengar Asy-Syaikh Abu
'Abdirrahman As-Sulami berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ibrahim bin Al-Fadhl
Al-Hasyimi berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ar-Rumi berkata: Aku mendengar
Yahya bin Mu'adz berkata, "Ya Tuhanku, aku tidak mengatakan: 'Aku telah
bertobat dan tidak akan mengulangi lagi' karena aku tahu akhlak/perangaiku, dan
aku tidak menjamin akan meninggalkan dosa-dosa karena aku tahu kelemahanku.
Namun kemudian aku tetap berkata: 'Aku tidak akan mengulangi,' agar mungkin aku
mati sebelum sempat mengulanginya."
Dzul Nun Al-Mishri berkata, "Memohon
ampunan (istigfar) tanpa melepas/meninggalkan dosa adalah tobatnya para
pembohong."
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya iklan adsens. Mohon Keridhoannya untuk ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih. Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Artikel Terkait :