بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
الرسالة القشيرية
URGENSI WALI DAN KEWALIAN
فَصْلٌ
ثُمَّ هَذِهِ الكَرَامَاتُ قَدْ تَكُونُ إِجَابَةَ دَعْوَةٍ، وَقَدْ تَكُونُ إِظْهَارَ طَعَامٍ فِي أَوَانِ فَاقَةٍ مِنْ غَيْرِ سَبَبٍ ظَاهِرٍ، أَوْ حُصُولَ مَاءٍ فِي زَمَانِ عَطَشٍ، أَوْ تَسْهِيلَ قَطْعِ مَسَافَةٍ فِي مُدَّةٍ قَرِيبَةٍ، أَوْ تَخْلِيصًا مِنْ عَدُوٍّ، أَوْ سَمَاعَ خِطَابٍ مِنْ هَاتِفٍ، أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ مِنْ فُنُونِ الأَفْعَالِ الناقِضَةِ لِلْعَادَةِ. ا
وَاعْلَمْ: أَنَّ كَثِيرًا مِنَ المَقْدُورَاتِ نَعْلَمُ اليَوْمَ قَطْعًا أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَظْهَرَ كَرَامَةً لِلْأَوْلِيَاءِ، وَبِضَرُورَةٍ أَوْ شِبْهِ ضَرُورَةٍ نَعْلَمُ ذَلِكَ.ا
فَمِنْهَا: حُصُولُ إِنْسَانٍ لَا مِنْ أَبَوَيْنِ، وَقَلْبُ جَمَادٍ بَهِيمَةً أَوْ حَيَوَانًا، وَأَمْثَالُ هَذَا يَكْثُرُ.ا
Fasal
Kemudian
karamah-karamah ini terkadang berupa pengabulan doa, penampakan makanan pada
saat membutuhkan tanpa adanya sebab yang jelas, hadirnya air pada saat haus,
kemudahan menempuh jarak jauh dalam waktu yang singkat, penyelamatan dari
musuh, pendengaran suara tanpa rupa (hatif), atau bentuk-bentuk tindakan
lainnya yang menyalahi adat kebiasaan (di luar nalar biasa).
Ketahuilah
bahwa banyak dari hal-hal yang berada dalam kekuasaan Allah, hari ini kita
ketahui secara pasti (qath'i) bahwa hal tersebut tidak boleh terjadi sebagai
karamah bagi para wali. Kita mengetahui hal itu secara darurat (dharuri) atau
menyerupai darurat.
Di
antaranya: terciptanya manusia tanpa kedua orang tua, atau berubahnya benda
mati menjadi hewan atau binatang ternak, dan contoh-contoh seperti ini sangat
banyak.
فَصْلٌ
فَإِنْ قِيلَ: مَا مَعْنَى الوَلِيِّ؟
قِيلَ: يَحْتَمِلُ أَمْرَيْنِ: ا
أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ فَعِيلًا مُبَالَغَةً مِنَ الفَاعِلِ؛ كَالَعَلِيمِ وَالقَدِيرِ وَغَيْرِهِ، فَيَكُونُ مَعْنَاهُ: مَنْ تَوَالَتْ طَاعَاتُهُ مِنْ غَيْرِ تَخَلُّلِ مَعْصِيَةٍ. ا
وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ فَعِيلًا بِمَعْنَى مَفْعُولٍ؛ كَقَتِيلٍ بِمَعْنَى مَقْتُولٍ، وَجَرِيحٍ بِمَعْنَى مَجْرُوحٍ؛ وَهُوَ الَّذِي يَتَوَلَّى الحَقُّ سُبْحَانَهُ حِفْظَهُ وَحِرَاسَتَهُ عَلَى الإِدَامَةِ وَالتَّوَالِي، فَلَا يَخْلُقُ لَهُ الخِذْلَانَ الَّذِي هُوَ قُدْرَةُ العِصْيَانِ، وَيُدِيمُ تَوْفِيقَهُ الَّذِي هُوَ قُدْرَةُ الطَّاعَةِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ ﴾. ا
Fasal
Jika
ada yang bertanya: "Apakah makna dari Wali itu?"
Maka
dijawab: Maknanya mengandung dua kemungkinan:
Bentuk Fa'il (pelaku) yang bermakna
mubalaghah (penekanan/sangat), seperti kata Al-'Alim (Maha Mengetahui) dan
Al-Qadir (Maha Kuasa). Maka maknanya adalah: orang yang ketaatannya
terus-menerus secara berkesinambungan tanpa diselingi oleh maksiat.
Boleh juga merupakan bentuk Fa'il namun
bermakna Maf'ul (objek); seperti kata qatil yang berarti orang yang terbunuh
(maqtuil), dan jarih yang berarti orang yang terluka (majruh). Maka maknanya
adalah: orang yang dijaga dan dipelihara secara terus-menerus oleh Allah
Subhanahu wa Ta'ala. Allah tidak menciptakan baginya kehinaan (khidzlan) —
yaitu kemampuan untuk bermaksiat — dan Allah terus-menerus memberinya taufik —
yaitu kemampuan untuk taat. Allah Ta'ala berfirman: "Dan Dia melindungi
orang-orang yang saleh."
فَصْلٌ
فَإِنْ قِيلَ: فَهَلْ يَكُونُ الوَلِيُّ مَعْصُومًا؟
قِيلَ: أَمَّا وُجُوبًا كَمَا يُقَالُ فِي الأَنْبِيَاءِ.. فَلَا، وَأَمَّا أَنْ يَكُونَ مَحْفُوظًا حَتَّى لَا يُصِرَّ عَلَى الذُّنُوبِ وَإِنْ حَصَلَتْ هَنَاتٌ أَوْ آفَاتٌ أَوْ زَلَّاتٌ.. فَلَا يَمْتَنِعُ ذَلِكَ فِي وَصْفِهِمْ.
وَقَدْ قِيلَ لِلْجُنَيْدِ: العَارِفُ يَزْنِي يَا أَبَا القَاسِمِ؟
فَأَطْرَقَ مَلِيًّا، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَقَالَ: ﴿ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا ﴾.ا
Fasal
Jika
ada yang bertanya: "Apakah seorang wali itu ma'shum (terjaga dari
dosa)?"
Maka
dijawab: Adapun secara wajib sebagaimana yang dikatakan pada para nabi, maka
tidak. Namun jika maknanya adalah mahfuzh (terpelihara) sehingga ia tidak
terus-menerus (israr) dalam melakukan dosa meskipun terjadi kekhilafan, cela,
atau kesalah-langkahan, maka hal itu tidaklah mustahil ada pada sifat mereka.
Pernah
ditanyakan kepada Al-Junaid: "Apakah seorang arif (wali yang kenal Allah)
bisa berzina, wahai Abu Al-Qasim?"
Beliau
menundukkan kepalanya sejenak, lalu mengangkat kepalanya dan berkata: "Dan
ketetapan Allah itu adalah suatu ketetapan yang pasti berlaku."
Berikut adalah transkripsi teks Arab dan
terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia untuk halaman kitab tersebut:
فَصْلٌ
فَإِنْ قِيلَ: فَهَلْ يَسْقُطُ الخَوْفُ عَنِ الأَوْلِيَاءِ؟
قِيلَ: أَمَّا الغَالِبُ عَلَى الأَكَابِرِ.. فَكَانَ الخَوْفُ، وَذَلِكَ الَّذِي قُلْنَا فِيمَا تَقَدَّمَ عَلَى جِهَةِ النَّدْرَةِ غَيْرُ مُمْتَنِعٍ، وَهَذَا السَّرِيُّ السَّقَطِيُّ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ وَاحِدًا دَخَلَ بُسْتَانًا فِيهِ أَشْجَارٌ كَثِيرَةٌ، وَعَلَى كُلِّ شَجَرَةٍ طَيْرٌ يَقُولُ لَهُ بِلِسَانٍ فَصِيحٍ: «السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا وَلِيَّ اللهِ»؛ فَلَوْ لَمْ يَخَفْ أَنَّهُ مَكْرٌ.. لَكَانَ مَمْكُورًا بِهِ. ا
وَأَمْثَالُ هَذِهِ مِنْ حِكَايَاتِهِمْ كَثِيرَةٌ.ا
Fasal
Jika ada yang bertanya: "Apakah rasa
takut (khauf) bisa gugur/hilang dari para wali?" Maka dijawab:
Keadaan yang mendominasi para wali besar (akabir) adalah rasa takut.
Namun hal yang kami sebutkan sebelumnya (hilangnya rasa takut secara
nadir/langka) tidaklah mustahil terjadi. As-Sari As-Saqathi pernah berkata: "Seandainya
seseorang masuk ke sebuah kebun yang penuh dengan pohon, dan pada setiap pohon
terdapat burung yang berkata kepadanya dengan bahasa yang fasih: 'Keselamatan
atasmu wahai Wali Allah', lalu ia tidak merasa takut bahwa hal itu adalah
ujian/jebakan (maki), niscaya ia telah tertipu oleh ujian tersebut."
Kisah-kisah yang serupa seperti ini dari
mereka sangatlah banyak.
فَصْلٌ
فَإِنْ قِيلَ: فَهَلْ تَجُوزُ رُؤْيَةُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالأَبْصَارِ اليَوْمَ فِي الدُّنْيَا عَلَى جِهَةِ الكَرَامَةِ؟ فَالجَوَابُ عَنْهُ: أَنَّ الأَقْوَى فِيهِ: أَنَّهُ لَا يَجُوزُ؛ لِحُصُولِ الإِجْمَاعِ عَلَيْهِ. وَلَقَدْ سَمِعْتُ الإِمَامَ أَبَا بَكْرِ ابْنَ فُورَكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَحْكِي عَنْ أَبِي الحَسَنِ الأَشْعَرِيِّ أَنَّهُ قَالَ فِي ذَلِكَ قَوْلَيْنِ فِي كِتَابِ «الرُّؤْيَةِ» الكَبِيرِ.ا
Fasal
Jika ada yang bertanya: "Apakah boleh
melihat Allah Azza wa Jalla dengan mata telanjang hari ini di dunia
sebagai bentuk karamah?" Maka jawabannya: Pendapat yang paling kuat dalam
hal ini adalah tidak boleh, karena telah ada ijmak (kesepakatan bulat)
atas hal tersebut. Sungguh aku telah mendengar Imam Abu Bakr ibn Furak radhiyallahu
'anhu meriwayatkan dari Abu Al-Hasan Al-Asy'ari bahwa beliau memiliki dua
pendapat mengenai hal ini dalam kitab Ar-Ru'yah Al-Kabir.
فَصْلٌ
فَإِنْ قِيلَ: فَهَلْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ وَلِيًّا فِي الحَالِ، ثُمَّ تَتَغَيَّرَ عَاقِبَتُهُ؟ قِيلَ: مَنْ جَعَلَ مِنْ شَرْطِ الوَلَايَةِ حُسْنَ المُوَافَاةِ.. لَا يَجُوزُ ذَلِكَ. وَمَنْ قَالَ: إِنَّهُ فِي الحَالِ مُؤْمِنٌ عَلَى الحَقِيقَةِ وَإِنْ جَازَ أَنْ يَتَغَيَّرَ حَالُهُ.. فَلَا يَبْعُدُ أَنْ يَكُونَ وَلِيًّا فِي الحَالِ صِدِّيقًا، ثُمَّ يَتَغَيَّرُ، وَهَذَا الَّذِي نَخْتَارُهُ نَحْنُ.ا
ا
وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مِنْ جُمْلَةِ كَرَامَاتِ وَلِيٍّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ مَأْمُونُ العَاقِبَةِ، وَأَنَّهُ لَا تَتَغَيَّرُ عَاقِبَتُهُ، فَتَلْتَحِقُ هَذِهِ المَسْأَلَةُ بِمَا ذَكَرْنَا أَنَّ الوَلِيَّ يَجُوزُ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ وَلِيٌّ.ا
Fasal
Jika ada yang bertanya: "Apakah boleh
seseorang menjadi wali pada saat ini, kemudian akhir kehidupannya (aqibah)
berubah (menjadi tidak baik/khusnul khatimah berganti)?" Maka dijawab:
·
Bagi ulama yang menjadikan Husnul Muwafah (keadaan akhir hayat
yang baik) sebagai syarat kewalian, maka hal itu tidak boleh.
·
Sedangkan bagi ulama yang berpendapat: "Sesungguhnya seseorang itu
pada saat ini adalah mukmin yang sejati, meskipun ada kemungkinan keadaannya
berubah kelak", maka tidaklah mustahil ia menjadi wali dan shiddiq
saat ini, kemudian keadaannya berubah di masa mendatang. Dan inilah pendapat
yang kami pilih.
Bisa jadi merupakan bagian dari karamah
seorang wali, bahwa ia diberi pengetahuan bahwa akhir kehidupannya terjamin
aman dan tidak akan berubah. Dengan demikian, masalah ini berkaitan dengan apa
yang telah kami sebutkan sebelumnya bahwa seorang wali boleh jadi mengetahui
kalau dirinya adalah seorang wali.
فَصْلٌ
فَإِنْ قِيلَ: فَهَلْ يَزَايِلُ الوَلِيَّ خَوْفُ المَكْرِ؟ قِيلَ: إِنْ كَانَ مُصْطَلِمًا عَنْ شَاهِدِهِ، مُخْتَطَفًا عَنْ إِحْسَاسِهِ بِحَالِهِ.. فَهُوَ مُسْتَهْلَكٌ عَنْهُ فِيمَا اسْتَوْلَى عَلَيْهِ، وَالخَوْفُ مِنْ صِفَاتِ الحَاضِرِينَ بِهِمْ. ا
Fasal
Jika ada yang bertanya: "Apakah rasa
takut akan ujian/jebakan (khauf al-makr) dapat hilang dari diri seorang
wali?" Maka dijawab: Jika ia sedang dalam keadaan fana (mushtalim)
terangkat dari alam kesadarannya, terenggut dari perasaan akan keadaan
dirinya.. maka ia sedang lebur (mustahlak) dari rasa takut itu dalam hal
yang menguasainya. Sebab, rasa takut adalah sifat bagi orang-orang yang berada
dalam kesadaran penuh (al-hadhirin bihim).
فَصْلٌ
فَإِنْ قِيلَ: فَمَا الغَالِبُ عَلَى الوَلِيِّ فِي أَوَانِ صَحْوِهِ؟ قِيلَ: صِدْقُهُ فِي أَدَاءِ حُقُوقِهِ سُبْحَانَهُ، ثُمَّ رِفْقُهُ وَشَفَقَتُهُ عَلَى الخَلْقِ فِي جَمِيعِ أَحْوَالِهِ، ثُمَّ انْبِسَاطُ رَحْمَتِهِ لِكَافَّةِ الخَلْقِ، ثُمَّ دَوَامُ تَحَمُّلِهِ عَنْهُمْ بِجَمِيلِ الخُلُقِ، وَابْتِدَاؤُهُ لِطَلَبِ الإِحْسَانِ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ مِنْ غَيْرِ التِمَاسٍ مِنْهُمْ، وَتَعَلُّقُ الهِمَّةِ بِنَجَاةِ الخَلْقِ، وَتَرْكُ الاِنْتِقَامِ مِنْهُمْ، وَالتَّوَقِّي عَنْ اسْتِشْعَارِ حِقْدٍ عَلَيْهِمْ، مَعَ قَصْرِ اليَدِ عَنْ أَمْوَالِهِمْ، وَتَرْكِ الطَّمَعِ بِكُلِّ وَجْهٍ فِيهِمْ، وَقَبْضِ اللِّسَانِ عَنْ بَسْطِهِ بِالسُّوءِ فِيهِمْ، وَالتَّصَاوُنِ عَنْ شُهُودِ مَسَاوِيهِمْ، وَلَا يَكُونُ خَصْمًا لِأَحَدٍ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
Fasal
Jika ada yang bertanya: "Apakah sifat
yang mendominasi pada diri wali dalam keadaan sadarnya (sohw)?"
Maka dijawab:
·
Kejujurannya dalam menunaikan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta'ala.
·
Kelembutan dan kasih sayangnya kepada seluruh makhluk dalam segala
keadaannya.
·
Lapangnya rasa kasih sayangnya untuk seluruh makhluk.
·
Senantiasa bersabar dan menanggung gangguan dari mereka dengan akhlak
yang mulia.
·
Memulai memohon kebaikan dari Allah Azza wa Jalla untuk mereka
tanpa diminta oleh mereka.
·
Keterikatan cita-citanya (himmah) demi keselamatan makhluk.
·
Meninggalkan dendam/balas dendam kepada mereka.
·
Berjaga-jaga dari memelihara rasa dengki (hiqd) terhadap mereka.
·
Menahan tangan dari harta mereka dan meninggalkan sikap tamak kepada
mereka dalam segala bentuk.
·
Menjaga lisan dari perkataan buruk tentang mereka.
·
Mengalihkan pandangan dari melihat keburukan-keburukan mereka.
·
Tidak menjadi musuh/penuntut bagi siapa pun, baik di dunia maupun di
akhirat.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.