Allah 'Azza wa Jalla berfirman: *“Allah ridha terhadap
mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”*
Ali bin Ahmad Al-Ahwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata:
Ahmad bin 'Ubaid Al-Bashri mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Kudaimi
menceritakan kepada kami, ia berkata: Ya'qub bin Isma'il As-Sallal menceritakan
kepada kami, ia berkata: Abu 'Ashim Al-'Abbadani menceritakan kepada kami, dari
Al-Fadhl bin 'Isa Ar-Raqasyi, dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Jabir, ia
berkata: Rasulullah $SAW$ bersabda:“Ketika penghuni surga berada di tempat
majelis (berkumpul) mereka, tiba-tiba memancar cahaya bagi mereka di pintu
surga. Mereka pun mengangkat kepala mereka, dan ternyata Rabb Ta'ala telah
menampakkan diri di hadapan mereka seraya berfirman: 'Wahai penghuni surga,
mintalah kepada-Ku!' Mereka menjawab: 'Kami memohon keridhaan-Mu atas kami.'
Allah berfirman: 'Keridhaan-Ku telah menempatkan kalian di rumah-Ku (surga) dan
menyampaikan kalian pada kemuliaan-Ku, inilah saatnya, maka mintalah
kepada-Ku!' Mereka berkata: 'Kami memohon tambahan (kebaikan).' Beliau
bersabda: Maka mereka diberi kendaraan-kendaraan dari yakut merah, tali
kengkangnya dari zamrud hijau dan yakut merah. Mereka menungganginya, dan
kendaraan itu melangkahkan kakinya sejauh mata memandang.
Lalu Allah 'Azza wa Jalla memerintahkan pepohonan yang sarat
akan buah-buahan, dan datanglah para bidadari yang bermata jeli seraya berkata:
'Kami adalah wanita-wanita yang penuh kenikmatan maka kami tidak akan sengsara,
kami adalah wanita-wanita yang kekal maka kami tidak akan mati, kami adalah
istri-istri dari kaum mukmin yang mulia.' Dan Allah memerintahkan bukit-bukit
gundukan dari minyak misik putih yang harum semerbak, lalu bertiuplah angin
yang dinamakan *Al-Mumirah* mengembuskan minyak itu ke arah mereka, hingga sampai
membawa mereka ke Surga 'Adn, yaitu pusat (jantung) surga. Maka para malaikat
berkata: 'Wahai Rabb kami, kaum itu telah datang.' Allah Ta'ala berfirman:
'Selamat datang bagi orang-orang yang jujur/benar, selamat datang bagi
orang-orang yang taat.' Beliau bersabda: Lalu Allah menyibak hijab (penutup)
dari mereka, sehingga mereka dapat memandang Allah Ta'ala. Mereka menikmati
cahaya Ar-Rahman, hingga sebagian dari mereka tidak dapat melihat sebagian yang
lain (karena terpesona oleh cahaya Allah). Kemudian Allah berfirman:
'Kembalikan mereka ke istana-istana mereka beserta hadiah-hadiahnya.' Beliau
bersabda: Maka mereka pun kembali, dan sebagian dari mereka telah dapat melihat
kembali sebagian yang lain.”
Rasulullah $SAW$ membaca firman-Nya: *“Sebagai hidangan
(penyambutan) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”*
Para ulama Irak dan Khurasan telah berbeda pendapat mengenai
**Ridha**: Apakah ridha itu termasuk bagian dari *Al-Ahwal* (kondisi spiritual
yang datang dari Allah) atau termasuk *Al-Maqamat* (kedudukan spiritual yang
dicapai melalui usaha)?
**Penduduk Khurasan berkata:** Ridha adalah bagian dari
*Maqamat* (kedudukan spiritual), dan merupakan puncak dari tawakal. Maknanya
bermuara pada sesuatu yang dapat dicapai oleh seorang hamba melalui usahanya
(*iktisab*).
**Adapun penduduk Irak berkata:** Ridha adalah bagian dari
*Ahwal* (keadaan hati), dan itu bukanlah hasil usaha (*kasb*) seorang hamba,
melainkan limpahan Rahmat yang turun dan bersemayam di dalam hati sebagaimana
keadaan-keadaan hati (*ahwal*) lainnya.
Dan memungkinkan untuk **menggabungkan kedua pandangan
tersebut**, dengan dikatakan: Permulaan ridha adalah hal yang diusahakan
(*muktasabah*) oleh hamba dan itu bagian dari *Maqamat*, sedangkan puncaknya
(akhirnya) adalah bagian dari *Ahwal* dan bukan hal yang diusahakan.
Manusia telah banyak membicarakan tentang ridha, dan setiap
orang mengutarakannya sesuai dengan keadaan (*hal*), tegukan/pengalaman
spiritual (*syurb*), dan bagian (*nashib*) yang diperolehnya. Oleh karena itu,
ungkapan mereka berbeda-beda sebagaimana perbedaan mereka dalam tingkat
pengalaman spiritual dan bagian yang mereka terima.
Adapun syarat pengetahuan (*'ilmu*) yang darurat/harus ada:
Maka orang yang ridha kepada Allah Ta'ala adalah orang yang tidak
menentang/memprotes takdir-Nya.
Aku mendengar Al-Ustadz Abu Ali Ad-Daqqaq *rahimahullah*
berkata: *(“Bukanlah ridha itu berarti engkau tidak merasakan pedihnya cobaan,
melainkan ridha itu adalah engkau tidak menentang hukum dan
ketetapan/qadha-Nya”)*.
وَاعْلَمْ : أَنَّ الْوَاجِبَ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَرْضَى بِالْقَضَاءِ الَّذِي أُمِرَ بِالرِّضَا بِهِ ؛ إِذْ لَيْسَ كُلُّ مَا هُوَ بِقَضَائِهِ يَجُوزُ لِلْعَبْدِ أَوْ يَجِبُ عَلَيْهِ الرِّضَا بِهِ ؛ كَالْمَعَاصِي وَفُنُونِ مِحَنِ الْمُسْلِمِينَ
وَقَالَ الْمَشَايِخُ : الرِّضَا بَابُ اللهِ الأَعْظَمُ ؛ يَعْنِي : مَنْ أُكْرِمَ بِالرِّضَا .. فَقَدْ لُقِيَ بِالتَّرْحِيبِ الأَوْفَى ، وَأُكْرِمَ بِالتَّقْرِيبِ الأَعْلَى
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحُسَيْنِ يَقُولُ : أَخْبَرَنَا أَبُو جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ حَمْزَةَ قَالَ : حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي الْحَوَارِيِّ قَالَ : قَالَ عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زَيْدٍ : ( الرِّضَا بَابُ اللهِ الأَعْظَمُ ، وَجَنَّةُ الدُّنْيَا )
وَاعْلَمْ : أَنَّ الْعَبْدَ لَا يَكَادُ يَرْضَى عَنِ الْحَقِّ إِلَّا بَعْدَ أَنْ يَرْضَى عَنْهُ الْحَقُّ ؛ لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ : ﴿ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
سَمِعْتُ الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ يَقُولُ : قَالَ تِلْمِيذٌ لِأُسْتَاذِهِ : هَلْ يَعْرِفُ الْعَبْدُ أَنَّ اللهَ تَعَالَى رَاضٍ عَنْهُ ؟ فَقَالَ : لَا ؛ كَيْفَ يَعْلَمُ ذَلِكَ وَرِضَاهُ غَيْبٌ ؟ فَقَالَ التِّلْمِيذُ : يَعْلَمُ ذَلِكَ ، فَقَالَ : كَيْفَ ؟ قَالَ : إِذَا وَجَدْتُ قَلْبِي رَاضِياً عَنِ اللهِ .. عَلِمْتُ أَنَّهُ رَاضٍ عَنِّي ، فَقَالَ الأُسْتَاذُ : أَحْسَنْتَ يَا غُلَامُ
وَقِيلَ : قَالَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ : إِلَهِي ؛ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ .. رَضِيتَ عَنِّي ، فَقَالَ: إِنَّكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ ، فَخَرَّ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ سَاجِداً مُتَضَرِّعاً ، فَأَوْحَى اللهُ تَعَالَى إِلَيْهِ : يَا بْنَ عِمْرَانَ ؛ إِنَّ رِضَايَ فِي رِضَاكَ بِقَضَائِي
أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ قَالَ : أَخْبَرَنَا أَبُو جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ حَمْزَةَ قَالَ : حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي الْحَوَارِيِّ قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا سُلَيْمَانَ يَقُولُ : ( إِذَا سَلَا الْعَبْدُ عَنِ الشَّهَوَاتِ .. فَهُوَ رَاضٍ )
وِسَمِعْتُهُ يَقُولُ : سَمِعْتُ النَّصْرَابَاذِيَّ يَقُولُ : ( مَنْ أَرَادَ أَنْ يَبْلُغَ مَحَلَّ الرِّضَا .. فَلْيَلْزَمْ مَا جَعَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ رِضَاهُ فِيهِ )
وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ خَفِيفٍ : ( الرِّضَا عَلَى قِسْمَيْنِ : رِضاً بِهِ ، وَرِضاً عَنْهُ ؛ فَالرِّضَا بِهِ مُدَبِّراً ، وَالرِّضَا عَنْهُ فِيمَا يَقْضِي )
سَمِعْتُ الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ يَقُولُ : ( طَرِيقُ السَّالِكِينَ أَطْوَلُ ؛ وَهُوَ طَرِيقُ الرِّيَاضَةِ ، وَطَرِيقُ الْخَوَاصِّ أَقْرَبُ ، لَكِنَّهُ أَشَقُّ ؛ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ عَمَلُكَ بِالرِّضَا ، وَرِضَاكَ بِالْقَضَاءِ )
وَقَالَ رُوَيْمٌ : ( الرِّضَا : أَنْ لَوْ جَعَلَ جَهَنَّمَ عَنْ يَمِينِهِ .. مَا سَأَلَ أَنْ يُحَوِّلَهَا إِلَى يَسَارِهِ )
وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ بْنُ طَاهِرٍ : ( الرِّضَا : إِخْرَاجُ الْكَرَاهِيَةِ مِنَ الْقَلْبِ حَتَّى لَا يَكُونَ فِيهِ إِلَّا فَرَحٌ وَسُرُورٌ )
وَقَالَ الْوَاسِطِيُّ : ( اسْتَعْمِلِ الرِّضَا جَهْدَكَ ، وَلَا تَدَعِ الرِّضَا يَسْتَعْمِلُكَ فَتَكُونَ مَحْجُوباً بِلَذَّتِهِ وَرُؤْيَتِهِ عَنْ حَقِيقَةِ مَا تُطَالِعُ
Dan ketahuilah: Bahwa yang wajib
bagi seorang hamba adalah ridha terhadap qadha (ketetapan Allah) yang
diperintahkan untuk diridhai; sebab tidak semua hal yang merupakan qadha-Nya
boleh atau wajib diridhai oleh hamba, seperti perbuatan maksiat dan
bermacam-macam musibah yang menimpa kaum muslimin.
Para syekh/guru tasawuf berkata: Ridha
adalah pintu Allah yang paling agung. Artinya: Siapa yang dimuliakan dengan
rasa ridha, maka sungguh ia telah disambut dengan penghormatan yang paling
sempurna dan dimuliakan dengan pendekatan yang paling tinggi.
Aku mendengar Muhammad bin Al-Husain
berkata: Abu Ja'far Ar-Razi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Abbas bin
Hamzah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibn Abil Hawari menceritakan
kepada kami, ia berkata: Abdul Wahid bin Zaid berkata: (“Ridha adalah pintu
Allah yang paling agung, dan surga di dunia”).
Dan ketahuilah: Bahwa seorang hamba
tidak akan mungkin bisa ridha kepada Al-Haq (Allah) kecuali setelah Al-Haq
(Allah) ridha kepadanya. Karena Allah 'Azza wa Jalla berfirman: “Allah ridha
terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
Aku mendengar Al-Ustadz Abu Ali
Ad-Daqqaq berkata: Seorang murid bertanya kepada gurunya: "Apakah seorang
hamba dapat mengetahui bahwa Allah Ta'ala ridha kepadanya?" Gurunya
menjawab: "Tidak, bagaimana ia bisa tahu sedangkan keridhaan-Nya adalah
hal gaib?" Murid itu berkata: "Ia bisa mengetahuinya." Gurunya
bertanya: "Bagaimana caranya?" Murid itu menjawab: "Jika aku
mendapati hatiku ridha kepada Allah, maka aku tahu bahwa Dia pun ridha
kepadaku." Maka sang guru berkata: "Bagus sekali wahai pemuda."
Dan dikatakan: Nabi Musa
'alaihissalam berkata: "Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan
yang jika aku kerjakan maka Engkau akan ridha kepadaku." Allah berfirman:
"Engkau tidak akan sanggup melakukannya." Maka Nabi Musa
'alaihissalam tersungkur bersujud seraya memohon dengan tulus. Lalu Allah
Ta'ala memwahyukan kepadanya: "Wahai putra 'Imran, sesungguhnya
keridhaan-Ku ada pada keridhaanmu terhadap qadha (ketetapan)-Ku."
Syekh Abu Abdirahman As-Sulami
mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Ja'far Ar-Razi mengabarkan kepada
kami, ia berkata: Al-Abbas bin Hamzah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibn
Abil Hawari menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Sulaiman
berkata: (“Jika seorang hamba telah lupa/terbebas dari hawa nafsu, maka ia
telah ridha”).
Dan aku mendengarnya berkata: Aku
mendengar An-Nashrabadzi berkata: (“Barang siapa yang ingin mencapai maqam
(kedudukan) ridha, hendaklah ia berpegang teguh pada apa yang dijadikan oleh
Allah 'Azza wa Jalla sebagai letak keridhaan-Nya”).
Muhammad bin Khafif berkata: (“Ridha
itu ada dua macam: ridha dengan-Nya (ridha bihi) dan ridha kepada-Nya (ridha
'anhu). Ridha dengan-Nya adalah ridha kepada-Nya sebagai Pengatur, sedangkan
ridha kepada-Nya adalah ridha terhadap apa yang Dia tetapkan”).
Aku mendengar Al-Ustadz Abu Ali
berkata: (“Jalan para salik (penempuh jalan spiritual biasa) lebih panjang,
yaitu jalan latihan/riyadhah. Sedangkan jalan para khawas (orang-orang khusus)
lebih dekat namun lebih berat, yaitu hendaknya amalmu didasari rasa ridha, dan
ridhamu didasari ketetapan (qadha) Allah”).
Ruwaim berkata: (“Ridha adalah
jika Allah menjadikan neraka Jahanam di sebelah kanannya, ia tidak akan meminta
agar neraka itu dipindahkan ke sebelah kirinya”).
Abu Bakr bin Thahir berkata: (“Ridha
adalah mengeluarkan rasa benci/ketidaksukaan dari dalam hati hingga tidak ada lagi
di dalamnya kecuali kegembiraan dan kedamaian”).
Al-Wasithi berkata: (“Gunakanlah
rasa ridha itu dengan sekuat tenagamu, dan jangan biarkan rasa ridha yang
mengendalikanmu sehingga engkau terhalang (terhijab) oleh kelezatan dan
pandangan atas ridha itu sendiri dari hakikat apa yang sebenarnya engkau tuju”).
وَاعْلَمْ : أَنَّ هَذَا الْكَلَامَ الَّذِي قَالَهُ الْوَاسِطِيُّ شَيْءٌ عَظِيمٌ ، وَفِيهِ تَنْبِيهٌ عَلَى مَقْطَعَةٍ لِلْقَوْمِ خَفِيَّةٍ ؛ فَإِنَّ السُّكُونَ عِنْدَهُمْ إِلَى الأَحْوَالِ حِجَابٌ عَنْ مُحَوِّلِ الأَحْوَالِ ، فَإِذَا اسْتَلَذَّ هَوَاهُ رِضَاهُ ، وَوَجَدَ بِقَلْبِهِ رَاحَةَ الرِّضَا .. حُجِبَ بِحَالِهِ عَنْ شُهُودِ حَقِّهِ
وَلَقَدْ قَالَ الْوَاسِطِيُّ أَيْضاً : ( إِيَّاكُمْ وَاسْتِحْلَاءَ الطَّاعَاتِ ؛ فَإِنَّهَا سُمُومٌ قَاتِلَةٌ )
وَقَالَ ابْنُ خَفِيفٍ : ( الرِّضَا : سُكُونُ الْقَلْبِ إِلَى أَحْكَامِهِ ، وَمُوَافَقَةُ الْقَلْبِ بِمَا رَضِيَ وَاخْتَارَ )
وَسُئِلَتْ رَابِعَةُ : مَتَى يَكُونُ الْعَبْدُ رَاضِياً ؟ فَقَالَتْ : إِذَا سَرَّتْهُ الْمُصِيبَةُ كَمَا سَرَّتْهُ النِّعْمَةُ
وَقِيلَ : قَالَ الشِّبْلِيُّ بَيْنَ يَدَيِ الْجُنَيْدِ : لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ ، فَقَالَ الْجُنَيْدُ : قَوْلُكَ ذَا ضَيْقُ صَدْرٍ ، وَضَيْقُ الصَّدْرِ لِتَرْكِ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ
وَقَالَ أَبُو سُلَيْمَانَ : ( الرِّضَا : أَلَّا تَسْأَلَ اللهَ الْجَنَّةَ وَلَا تَسْتَعِيذَ بِهِ مِنَ النَّارِ )
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا الْعَبَّاسِ الْبَغْدَادِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ أَحْمَدَ بْنِ سَهْلٍ يَقُولُ : سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ عُثْمَانَ يَقُولُ : سَمِعْتُ ذَا النُّونِ الْمِصْرِيَّ يَقُولُ : ( ثَلَاثَةٌ مِنْ أَعْلَامِ الرِّضَا : تَرْكُ الاِخْتِيَارِ قَبْلَ الْقَضَاءِ ، وَفِقْدَانُ الْمَرَارَةِ بَعْدَ الْقَضَاءِ ، وَهَيَجَانُ الْحُبِّ فِي حَشْوِ الْبَلَاءِ )
وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ جَعْفَرٍ الْبَغْدَادِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ إِسْمَاعِيلَ بْنَ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارَ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ يَزِيدَ الْمُبَرِّدَ يَقُولُ : قِيلَ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: إِنَّ أَبَا ذَرٍّ يَقُولُ : الْفَقْرُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الْغِنَى ، وَالسَّقَمُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الصِّحَّةِ ، فَقَالَ : رَحِمَ اللهُ أَبَا ذَرٍّ .. أَمَّا أَنَا .. فَأَقُولُ : مَنِ اتَّكَلَ عَلَى حُسْنِ اخْتِيَارِ اللهِ لَهُ .. لَمْ يَتَمَنَّ غَيْرَ مَا اخْتَارَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ
وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ لِبِشْرٍ الْحَافِي : ( الرِّضَا أَفْضَلُ مِنَ الزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا ؛ لِأَنَّ الرَّاضِيَ لَا يَتَمَنَّى فَوْقَ مَنْزِلَتِهِ )
وَسُئِلَ أَبُو عُثْمَانَ عَنْ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « أَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ » ، فَقَالَ : لِأَنَّ الرِّضَا قَبْلَ الْقَضَاءِ عَزْمٌ عَلَى الرِّضَا ، وَالرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ هُوَ الرِّضَا
سَمِعْتُ الشَّيْخَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ الرَّازِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ ابْنَ أَبِي حَسَّانَ الأَنْمَاطِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ أَبِي الْحَوَارِيِّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا سُلَيْمَانَ يَقُولُ : ( أَرْجُو أَنْ أَكُونَ عَرَفْتُ طَرَفاً مِنَ الرِّضَا ؛ لَوْ أَنَّهُ أَدْخَلَنِي النَّارَ .. لَكُنْتُ بِذَلِكَ رَاضِياً
Dan ketahuilah: Bahwa perkataan yang disampaikan oleh
Al-Wasithi ini adalah sesuatu yang sangat agung, di dalamnya terdapat
peringatan tentang tempat terputusnya (jebakan tersembunyi) bagi para penempuh
jalan spiritual (*al-qaum*); sebab merasa tenang/puas pada *ahwal* (kondisi
spiritual) menurut mereka adalah penghalang (*hijab*) dari Yang Mengubah
Keadaan (Allah). Jika hawa nafsunya merasa lezat dengan rasa ridhanya dan
hatinya merasakan kenyamanan ridha, maka ia telah terhalang oleh kondisinya
(*hal*) dari menyaksikan Hakikat-Nya (*Shuhud Haqqihi*).
Sungguh Al-Wasithi juga pernah berkata: *(“Waspadalah kalian
dari merasa manis/lezat dengan ketaatan; karena sesungguhnya hal itu adalah
racun yang mematikan”)*.
Ibn Khafif berkata: *(“Ridha adalah ketenangan hati terhadap
hukum-hukum Allah, dan keselarasan hati dengan apa yang diridhai dan dipilih
oleh-Nya”)*.
Rabi'ah (Al-Adawiyah) pernah ditanya: "Kapankah seorang
hamba dikatakan ridha?" Ia menjawab: "Apabila musibah membuatnya
bahagia sebagaimana nikmat membuatnya bahagia."
Dikatakan: Asy-Syibli mengucapkan *"Laa haula wa laa
quwwata illa billah"* di hadapan Al-Junaid, maka Al-Junaid berkata:
"Ucapanmu itu menunjukkan kesempitan dada (kegelisahan), dan kesempitan
dada terjadi karena meninggalkan rasa ridha terhadap ketetapan Allah
(*qadha*)!"
Abu Sulaiman berkata: *(“Ridha adalah engkau tidak meminta
surga kepada Allah dan tidak pula memohon perlindungan kepada-Nya dari
neraka”)*.
Aku mendengar Muhammad bin Al-Husain berkata: Aku mendengar
Aba Al-Abbas Al-Baghdadi berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ahmad bin Sahl
berkata: Aku mendengar Sa'id bin Utsman berkata: Aku mendengar Dzun Nun
Al-Mishri berkata: *(“Tiga hal yang menjadi tanda ridha: meninggalkan keinginan
memilih sebelum datangnya takdir, hilangnya rasa pahit setelah terjadinya
takdir, dan bergejolaknya rasa cinta di tengah-tengah himpitan cobaan”)*.
Dan aku mendengarnya berkata: Aku mendengar Muhammad bin
Ja'far Al-Baghdadi berkata: Aku mendengar Ismail bin Muhammad Ash-Shaffar
berkata: Aku mendengar Muhammad bin Yazid Al-Mubarrad berkata: Dikatakan kepada
Al-Hasan bin Ali *radhiyallahu 'anhuma*: "Sesungguhnya Abu Dzarr berkata:
'Kemiskinan lebih aku sukai daripada kekayaan, dan sakit lebih aku sukai
daripada sehat.'" Maka Al-Hasan berkata: "Semoga Allah merahmat Abu
Dzarr. Adapun aku, aku katakan: 'Barang siapa yang berserah diri pada kebaikan
pilihan Allah baginya, maka ia tidak akan mengandaikan/menginginkan selain apa
yang dipilihkan Allah 'Azza wa Jalla untuknya.'"
Fudhayl bin 'Iyadh berkata kepada Bisyr Al-Hafi: *(“Ridha
itu lebih utama daripada zuhud terhadap dunia; karena orang yang ridha tidak
akan menginginkan kedudukan di atas derajat yang dimilikinya”)*.
Abu 'Utsman ditanya tentang sabda Nabi $SAW$: *“Aku memohon
kepada-Mu keridhaan setelah datangnya takdir (qadha)”*, maka ia menjawab:
"Karena ridha sebelum takdir terjadi barulah sebatas tekad untuk ridha,
sedangkan ridha setelah takdir terjadi, itulah ridha yang sebenarnya."
Aku mendengar Syekh Abu Abdirahman As-Sulami berkata: Aku mendengar
Abdullah Ar-Razi berkata: Aku mendengar Ibn Abi Hassan Al-Anmathi berkata: Aku
mendengar Ahmad bin Abil Hawari berkata: Aku mendengar Abu Sulaiman berkata:
*(“Aku berharap telah mengenal sedikit dari hakikat ridha; seandainya Allah
memasukkanku ke dalam neraka, niscaya aku akan ridha dengan hal itu”)*.
وَقَالَ أَبُو عُمَرَ الدِّمَشْقِيُّ : ( الرِّضَا : ارْتِفَاعُ الْجَزَعِ فِي أَيِّ حُكْمٍ كَانَ )
وَقَالَ الْجُنَيْدُ : ( الرِّضَا : رَفْعُ الاِخْتِيَارِ )
وَقَالَ ابْنُ عَطَاءٍ : ( الرِّضَا : نَظَرُ الْقَلْبِ إِلَى قَدِيمِ اخْتِيَارِ اللهِ تَعَالَى لِلْعَبْدِ ؛ وَهُوَ تَرْكُ السُّخْطِ )
وَقَالَ رُوَيْمٌ : ( الرِّضَا : اسْتِقْبَالُ الأَحْكَامِ بِالْفَرَحِ )
وَقَالَ الْمُحَاسِبِيُّ : ( الرِّضَا : سُكُونُ الْقَلْبِ تَحْتَ مَجَارِي الأَحْكَامِ ) .
وَقَالَ النَّوْرِيُّ : ( الرِّضَا : سُرُورُ الْقَلْبِ بِمُرِّ الْقَضَاءِ ) .
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا الْحُسَيْنِ الْفَارِسِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ الْجُرَيْرِيَّ يَقُولُ : ( مَنْ رَضِيَ بِدُونِ قَدْرِهِ .. رَفَعَهُ اللهُ تَعَالَى فَوْقَ غَايَتِهِ )
وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ عَلِيٍّ يَقُولُ : سَمِعْتُ الْحَسَنَ بْنَ عَلَّوَيْهِ يَقُولُ : قَالَ أَبُو تُرَابٍ : ( لَيْسَ يَنَالُ الرِّضَا مَنْ لِلدُّنْيَا فِي قَلْبِهِ مِقْدَارٌ )
أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ قَالَ : أَخْبَرَنَا أَبُو عَمْرٍو ابْنُ حَمْدَانَ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ ابْنُ شِيرَوَيْهِ قَالَ : حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْحَكَمِ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ ، عَنْ يَزِيدَ ابْنِ الْهَادِ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ ، عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ ، عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبّاً
وَقِيلَ : كَتَبَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِلَى أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ : ( أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ الْخَيْرَ كُلَّهُ فِي الرِّضَا ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَرْضَى ، وَإِلَّا .. فَاصْبِرْ )
وَقِيلَ : إِنَّ عُتْبَةَ الْغُلَامَ بَاتَ لَيْلَةً يَقُولُ إِلَى الصَّبَاحِ : إِنْ تُعَذِّبْنِي .. فَأَنَا لَكَ مُحِبٌّ ، وَإِنْ تَرْحَمْنِي .. فَأَنَا لَكَ مُحِبٌّ
سَمِعْتُ الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ : ( الإِنْسَانُ خَزَفٌ ، وَلَيْسَ لِلْخَزَفِ مِنَ الْخَطَرِ مَا يُعَارِضُ فِيهِ حُكْمَ الْحَقِّ تَعَالَى )
وَقَالَ أَبُو عُثْمَانَ الْجِيرِيُّ : ( مُنْذُ أَرْبَعِينَ سَنَةً مَا أَقَامَنِي اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي حَالٍ فَكَرِهْتُهُ ، وَمَا نَقَلَنِي إِلَى غَيْرِهِ فَسَخِطْتُهُ )
سَمِعْتُ الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ رَحِمَهُ اللهُ عَلَيْهِ يَقُولُ : غَضِبَ رَجُلٌ عَلَى عَبْدٍ لَهُ ، فَاسْتَشْفَعَ الْعَبْدُ إِلَى سَيِّدِهِ إِنْسَاناً ، فَعَفَا عَنْهُ ، فَأَخَذَ الْعَبْدُ يَبْكِي ، فَقَالَ الشَّفِيعُ : لِمَ تَبْكِي وَقَدْ عَفَا عَنْكَ ؟
فَقَالَ السَّيِّدُ : إِنَّهُ يَطْلُبُ الرِّضَا ، وَلَا سَبِيلَ لَهُ إِلَيْهِ ؛ فَإِنَّمَا يَبْكِي لِأَجْلِهِ
Abu 'Umar Ad-Dimasyqi berkata: *(“Ridha adalah hilangnya
rasa gelisah/keluh kesah terhadap hukum/takdir apa pun yang terjadi”)*.
Al-Junaid berkata: *(“Ridha adalah menanggalkan pilihan
pribadi”)*.
Ibn 'Atha berkata: *(“Ridha adalah pandangan hati terhadap
pilihan terdahulu dari Allah Ta'ala bagi hamba-Nya; yaitu meninggalkan rasa
murka/ketidakpuasan”)*.
Ruwaim berkata: *(“Ridha adalah menyambut segala ketetapan
hukum Allah dengan penuh kegembiraan”)*.
Al-Muhasibi berkata: *(“Ridha adalah ketenangan hati di
bawah naungan berjalannya takdir-takdir Allah”)*.
An-Nuri berkata: *(“Ridha adalah sukacita hati atas pahitnya
takdir”)*.
Aku mendengar Muhammad bin Al-Husain berkata: Aku mendengar
Aba Al-Husain Al-Farisi berkata: Aku mendengar Al-Jurairi berkata: *(“Barang
siapa yang ridha dengan kedudukan yang lebih rendah dari kadar dirinya, niscaya
Allah Ta'ala akan mengangkat derajatnya melampaui batas cita-citanya”)*.
Dan aku mendengarnya berkata: Aku mendengar Ahmad bin Ali
berkata: Aku mendengar Al-Hasan bin 'Allawaih berkata: Abu Turab berkata:
*(“Tidak akan pernah meraih keridhaan orang yang di dalam hatinya masih ada
nilai/penghargaan terhadap dunia”)*.
Syekh Abu Abdirahman As-Sulami mengabarkan kepada kami, ia
berkata: Abu 'Amr bin Hamdan mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin
Syirawaih menceritakan kepada kami, ia berkata: Bisyr bin Al-Hakam menceritakan
kepada kami, ia berkata: Abdul Aziz bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari
Yazid bin Al-Had, dari Muhammad bin Ibrahim, dari 'Amir bin Sa'd, dari
Al-'Abbas bin Abdil Muththalib, ia berkata: Rasulullah $SAW$ bersabda:
*“Sungguh telah merasakan manisnya iman, orang yang ridha Allah sebagai
Rabbnya.”*
Dan dikatakan: Umar bin Al-Khatthab *radhiyallahu 'anhu*
pernah berkirim surat kepada Abu Musa Al-Asy'ari: *(“Amma ba'du: Sesungguhnya
seluruh kebaikan berada dalam ridha. Jika engkau sanggup untuk ridha, maka
lakukanlah; namun jika tidak sanggup, maka bersabarlah”)*.
Dikatakan pula: Sesungguhnya 'Utbah Al-Ghulam semalaman
hingga subuh terus mengucapkan: *"Jika Engkau mengazabku.. aku tetap
mencintai-Mu, dan jika Engkau menyayangiku.. aku pun tetap mencintai-Mu."*
Aku mendengar Al-Ustadz Abu Ali Ad-Daqqaq *rahimahullah*
berkata: *(“Manusia itu hanyalah tembikar (gerabah), dan tembikar tidak
memiliki keagungan sama sekali untuk menentang hukum Allah Ta'ala”)*.
Abu 'Utsman Al-Jiri berkata: *(“Sejak empat puluh tahun yang
lalu, tidak pernah Allah 'Azza wa Jalla menempatkanku dalam suatu keadaan lalu
aku membencinya, dan tidak pula Dia memindahkan aku ke keadaan lain lalu aku
memurkainya”)*.
Aku mendengar Al-Ustadz Abu Ali Ad-Daqqaq *rahimahullah*
berkata: Seorang majikan marah kepada hamba sahayanya, lalu hamba tersebut
meminta bantuan seseorang untuk memohonkan syafaat (pengampunan) kepada
majikannya. Majikan itu pun memaafkannya, tetapi hamba tersebut justru
menangis. Orang yang memberi syafaat tadi bertanya: "Mengapa engkau
menangis padahal ia telah memaafkanmu?!"
Maka sang majikan berkata: "Sesungguhnya ia sedang
mencari keridhaan (dari-ku), padahal tidak ada jalan baginya untuk
mendapatkannya (saat ini); maka ia menangis karena alasan itu."
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi