بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
الرسالة القشيرية
بَابُ الْقَنَاعَةِ
20. Bab Qana'ah (Merasa Cukup)
قَالَ اللهُ تَعَالَى : ﴿ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
قَالَ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ التَّفْسِيرِ : الْحَيَاةُ الطَّيِّبَةُ فِي الدُّنْيَا : هِيَ الْقَنَاعَةُ
أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ قَالَ : أَخْبَرَنَا أَبُو عَمْرٍو مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ ابْنِ مَطَرٍ قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى الْحَلْوَانِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْغِفَارِيُّ ، عَنِ الْمُنْكَدِرِ بْنِ مُحَمَّدٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « الْقَنَاعَةُ كَنْزٌ لَا يَفْنَى
أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ الأَهْوَازِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْبَصْرِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَيُّوبَ الْقُرَشِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّا ، عَنْ أَبِي رَجَاءٍ ، عَنْ بُرْدِ بْنِ سِنَانٍ ، عَنْ مَكْحُولٍ ، عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الأَسْقَعِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « كُنْ وَرِعًا .. تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ ، وَكُنْ قَنِعًا .. تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ ، وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ .. تَكُنْ مُؤْمِنًا ، وَأَحْسِنْ مُجَاوَرَةَ مَنْ جَاوَرَكَ .. تَكُنْ مُسْلِمًا ، وَأَقِلَّ الضَّحِكَ ؛ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
وَقِيلَ : الْفُقَرَاءُ أَمْوَاتٌ إِلَّا مَنْ أَحْيَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعِزِّ الْقَنَاعَةِ
وَقَالَ بِشْرٌ الْحَافِي : ( الْقَنَاعَةُ مَلَكٌ لَا يَسْكُنُ إِلَّا فِي قَلْبِ مُؤْمِنٍ )
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ مُحَمَّدٍ الشَّعْرَانِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ إِسْحَاقَ بْنَ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي حَسَّانَ الأَنْمَاطِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ أَبِي الْحَوَارِيِّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيَّ يَقُولُ : ( الْقَنَاعَةُ مِنَ الرِّضَا بِمَنْزِلَةِ الْوَرَعِ مِنَ الزُّهْدِ ؛ هَذَا أَوَّلُ الرِّضَا ، وَهَذَا أَوَّلُ الزُّهْدِ )
وَقِيلَ : الْقَنَاعَةُ : السُّكُونُ عِنْدَ عَدَمِ الْمَأْلُوفَاتِ
وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الْمَرَاغِيُّ : ( الْعَاقِلُ مَنْ دَبَّرَ أَمْرَ الدُّنْيَا بِالْقَنَاعَةِ وَالتَّسْوِيفِ )
وَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللهِ بْنُ خَفِيفٍ : ( الْقَنَاعَةُ : تَرْكُ التَّشَوُّفِ إِلَى الْمَفْقُودِ ، وَالاسْتِغْنَاءُ بِالْمَوْجُودِ )
وَقِيلَ فِي مَعْنَى قَوْلِهِ : ﴿ لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللهُ رِزْقًا حَسَنًا ﴾ : يَعْنِي : الْقَنَاعَةَ
وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ التِّرْمِذِيُّ : ( الْقَنَاعَةُ : رِضَا النَّفْسِ بِمَا قُسِمَ لَهَا مِنَ الرِّزْقِ )
وَيُقَالُ : الْقَنَاعَةُ : الاِكْتِفَاءُ بِالْمَوْجُودِ ، وَزَوَالُ الطَّمَعِ فِيمَا لَيْسَ بِحَاصِلٍ
وَقَالَ وَهْبٌ : ( إِنَّ الْعِزَّ وَالْغِنَى خَرَجَا يَجُولَانِ ، فَلَقِيَا الْقَنَاعَةَ ، فَاسْتَقَرَّا )
وَقِيلَ : مَنْ كَانَتْ قَنَاعَتُهُ سَمِينَةً .. طَابَتْ لَهُ كُلُّ مَرَقَةٍ ، وَمَنْ رَجَعَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ حَالٍ .. رَزَقَهُ اللهُ الْقَنَاعَةَ
وَقِيلَ : مَرَّ أَبُوحَازِمٍ بِقَصَّابٍ ، مَعَهُ لَحْمٌ سَمِينٌ ، فَقَالَ : خُذْ يَا أَبَا حَازِمٍ ؛ فَإِنَّهُ سَمِينٌ ، فَقَالَ : لَيْسَ مَعِي دِرْهَمٌ ، فَقَالَ : أَنَا أُنْظِرُكَ ، فَقَالَ : نَفْسِي أَحْسَنُ نَظْرَةً لِي مِنْكَ
وَقِيلَ : مَنْ أَقْنَعُ النَّاسِ ؟ فَقِيلَ : أَكْثَرُهُمْ لِلنَّاسِ مَعُونَةً ، وَأَقَلُّهُمْ عَلَيْهِمْ مَؤُونَةً
وَفِي الزَّبُورِ : الْقَانِعُ غَنِيٌّ وَإِنْ كَانَ جَائِعًا
وَقِيلَ : وَضَعَ اللهُ تَعَالَى خَمْسَةَ أَشْيَاءَ فِي خَمْسَةِ مَوَاضِعَ : الْعِزَّ فِي الطَّاعَةِ ، وَالذُّلَّ فِي الْمَعْصِيَةِ ، وَالْهَيْبَةَ فِي قِيَامِ اللَّيْلِ ، وَالْحِكْمَةَ فِي الْبَطْنِ الْخَالِي ، وَالْغِنَى فِي الْقَنَاعَةِ
Allah Ta'ala berfirman: “Barangsiapa
yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik...”
(QS. An-Nahl: 97)
Banyak dari ahli tafsir menyatakan:
Kehidupan yang baik (al-hayat at-thayyibah) di dunia adalah qana'ah
(sikap merasa cukup).
Syaikh Abu Abdirrahman As-Sulami
memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Amr Muhammad bin Ja'far ibn Mathar
memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Musa Al-Halwani
menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ibrahim Al-Ghifari
menceritakan kepada kami, dari Al-Munkadir bin Muhammad, dari ayahnya, dari
Jabir bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Qana'ah
adalah simpanan/kekayaan yang tidak akan pernah sirna.”
Abu Al-Hasan Al-Ahwazi
memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ubaid Al-Bashri menceritakan
kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ayyub Al-Qurasyi menceritakan kepada
kami, ia berkata: Abu Ar-Rabi' Az-Zahrani menceritakan kepada kami, ia berkata:
Ismail bin Zakariya menceritakan kepada kami, dari Abu Raja', dari Burd bin
Sinan, dari Makhul, dari Watsilah bin Al-Asqa', dari Abu Hurairah, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda: “Jadilah orang yang warak
(berhati-hati dari dosa), niscaya engkau menjadi orang yang paling taat beribadah.
Jadilah orang yang qana'ah (merasa cukup), niscaya engkau menjadi orang yang
paling bersyukur. Cintailah untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu
sendiri, niscaya engkau menjadi seorang mukmin sejati. Berbuat baiklah kepada
tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang muslim sejati. Dan sedikitkanlah
tertawa, karena banyak tertawa itu dapat mematikan hati.”
Dan dikatakan: Orang-orang fakir itu
sejatinya adalah orang mati, kecuali mereka yang dihidupkan oleh Allah 'Azza wa
Jalla dengan kemuliaan qana'ah.
Bisyr Al-Hafi berkata: "Qana'ah
adalah malaikat (kekuatan spiritual/kebaikan) yang tidak tinggal kecuali di
dalam hati seorang mukmin."
Aku mendengar Muhammad bin Al-Husain
berkata: Aku mendengar Abdullah bin Muhammad Asy-Sya'rani berkata: Aku
mendengar Ishaq bin Ibrahim bin Abi Hassan Al-Anmathi berkata: Aku mendengar
Ahmad bin Abi Al-Hawari berkata: Aku mendengar Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: "Kedudukan
qana'ah terhadap ridha adalah seperti kedudukan warak terhadap zuhud; qana'ah
adalah awal dari ridha, sebagaimana warak adalah awal dari zuhud."
Dan dikatakan: Qana'ah adalah
ketenangan hati ketika tidak mendapatkan apa yang biasanya disukai.
Abu Bakr Al-Maraghi berkata: "Orang
yang berakal adalah orang yang mengelola urusan dunianya dengan qana'ah dan
menunda-nunda keinginan (tidak menuruti hawa nafsu)."
Abu Abdullah bin Khafif berkata: "Qana'ah
adalah tidak menggantungkan harapan pada apa yang tidak ada, dan merasa cukup
dengan apa yang ada."
Dan dikatakan mengenai firman Allah:
“...pasti Allah akan memberi mereka rezeki yang baik” (QS. Al-Hajj: 58):
Maksudnya adalah qana'ah.
Muhammad bin Ali At-Tirmidzi
berkata: "Qana'ah adalah kerelaan jiwa terhadap apa yang telah
dibagikan untuknya dari rezeki."
Dikatakan pula: Qana'ah adalah
merasa cukup dengan apa yang ada, serta hilangnya ketamakan terhadap apa yang
tidak dimiliki.
Wahb (bin Munabbih) berkata: "Sesungguhnya
kemuliaan dan kekayaan keluar berkelana mencari tempat, lalu keduanya bertemu
dengan qana'ah, maka keduanya pun menetap bersamanya."
Dan dikatakan: Barangsiapa yang
qana'ahnya gemuk (melimpah), maka akan terasa lezat baginya setiap kuah
masakan. Dan barangsiapa yang kembali kepada Allah 'Azza wa Jalla dalam setiap
keadaan, niscaya Allah menutupi (kebutuhannya) dengan qana'ah.
Dan dikatakan: Abu Hazim melewati
seorang tukang daging yang membawa daging yang gemuk/segar. Tukang daging itu
berkata: "Ambillah ini wahai Abu Hazim, karena daging ini sangat
bagus!" Abu Hazim menjawab: "Aku tidak membawa uang dirham."
Tukang daging berkata: "Aku bisa memberi utang/menunggumu." Abu Hazim
merespons: "Diriku (menahan diri) lebih mampu menunggumu daripada engkau
menungguku."
Dan ditanyakan: "Siapakah
manusia yang paling qana'ah?" Dijawab: "Orang yang paling banyak
membantu manusia dan paling sedikit membebani/merepotkan mereka."
Di dalam Kitab Zabur tertulis: "Orang
yang qana'ah adalah orang kaya, meskipun ia dalam keadaan lapar."
Dan dikatakan: Allah Ta'ala
meletakkan lima hal pada lima tempat: Kemuliaan di dalam ketaatan, kehinaan di
dalam maksiat, kewibawaan di dalam shalat malam (qiyamullail),
hikmah/kebijaksanaan di dalam perut yang kosong, dan kekayaan di dalam qana'ah.
سَمِعْتُ الشَّيْخَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ نَصْرَ بْنَ مُحَمَّدٍ يَقُولُ : سَمِعْتُ سُلَيْمَانَ بْنَ أَبِي سُلَيْمَانَ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا الْقَاسِمِ بْنَ أَبِي نِزَارٍ يَقُولُ : سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ الْمَارِسْتَانِيَّ يَقُولُ : ( انْتَقِمْ مِنْ حِرْصِكَ بِالْقَنَاعَةِ كَمَا تَنْتَقِمُ مِنْ عَدُوِّكَ بِالْقِصَاصِ )
وَقَالَ ذُو النُّونِ : ( مَنْ قَنِعَ .. اسْتَرَاحَ مِنْ أَهْلِ زَمَانِهِ ، وَاسْتَطَالَ عَلَى أَقْرَانِهِ )
وَقِيلَ : مَنْ قَنِعَ .. اسْتَرَاحَ مِنَ الشُّغْلِ ، وَاسْتَطَالَ عَلَى الْكُلِّ
وَقَالَ الْكَتَّانِيُّ : ( مَنْ بَاعَ الْحِرْصَ بِالْقَنَاعَةِ .. ظَفِرَ بِالْعِزِّ وَالْمُرُوءَةِ )
وَقِيلَ : مَنْ تَبِعَتْ عَيْنَاهُ مَا فِي أَيْدِي النَّاسِ .. طَالَ حُزْنُهُ
وَأَنْشَدُوا : وَأَحْسَنُ بِالْفَتَى مِنْ يَوْمِ عَارٍ ... يَنَالُ بِهِ الْغِنَى كَرَمٌ وَجُوعُ
وَقِيلَ : رَأَى رَجُلٌ حَكِيمًا يَأْكُلُ مَا تَسَاقَطَ مِنَ الْبَقْلِ عَلَى رَأْسِ مَاءٍ ، فَقَالَ : لَوْ خَدَمْتَ السُّلْطَانَ .. لَمْ تَحْتَجْ إِلَى أَكْلِ هَذَا
فَقَالَ الْحَكِيمُ : وَأَنْتَ لَوْ قَنِعْتَ بِهَذَا .. لَمْ تَحْتَجْ إِلَى خِدْمَةِ السُّلْطَانِ
وَقِيلَ : الْعُقَابُ عَزِيزٌ فِي مَطَارِهِ ، لَا يَسْمُو إِلَيْهِ طَرْفُ صَيَّادٍ وَلَا طَمَعُهُ ، فَإِذَا طَمِعَ فِي جِيفَةٍ عَلِقَتْ عَلَى حِبَالَةٍ .. نَزَلَ مِنْ مَطَارِهِ ، فَتَعَلَّقَ فِي حِبَالِهِ
وَقِيلَ : لَمَّا نَطَقَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ بِذِكْرِ الطَّمَعِ فَقَالَ : ﴿ لَوْ شِئْتَ لَتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا ﴾ .. قَالَ لَهُ الْخَضِرُ : ﴿ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ
وَقِيلَ : لَمَّا قَالَ ذَلِكَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ .. وَقَفَ بَيْنَهُ وَبَيْنَيِ الْخَضِرِ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ ظَبْيٌ وَكَانَا جَائِعَيْنِ ، الْجَانِبُ الَّذِي يَلِي مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ غَيْرُ مَشْوِيٍّ ، وَالْجَانِبُ الَّذِي يَلِي الْخَضِرَ مَشْوِيٌّ
وَقِيلَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿ إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ﴾ : هُوَ الْقَنَاعَةُ فِي الدُّنْيَا ، ﴿ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ ﴾ : هُوَ الْحِرْصُ فِي الدُّنْيَا
وَقِيلَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴾ : أَيْ : فِكَّهَا مِنْ ذُلِّ الطَّمَعِ وَقِيلَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ ﴾ : يَعْنِي : الْبُخْلَ وَالطَّمَعَ ، ﴿ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا ﴾ : يَعْنِي : بِالسَّخَاءِ وَالْإِيثَارِ
وَقِيلَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿ وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي ﴾ : أَيْ : مَقَامًا فِي الْقَنَاعَةِ أَنْفَرِدُ بِهِ عَنْ أَشْكَالِي ، وَأَكُونُ رَاضِيًا فِيهِ بِقَضَائِكَ
وَقِيلَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿ لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا ﴾ : يَعْنِي : لَأَسْلُبَنَّهُ الْقَنَاعَةَ ، وَلَأَبْتَلِيَنَّهُ بِالطَّمَعِ ؛ يَعْنِي : أَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يَفْعَلَ بِهِ ذَلِكَ
وَقِيلَ لِأَبِي يَزِيدَ : بِمَ وَصَلْتَ إِلَى مَا وَصَلْتَ ؟
فَقَالَ : جَمَعْتُ أَسْبَابَ الدُّنْيَا ، فَرَبَطْتُهَا بِحَبْلِ الْقَنَاعَةِ ، وَوَضَعْتُهَا فِي مَنْجَنِيقِ الصِّدْقِ ، وَرَمَيْتُ بِهَا فِي بَحْرِ الْيَأْسِ ، فَاسْتَرَحْتُ
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الصُّوفِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ فَرْخَانَ بِسَامَرَّاءَ يَقُولُ : سَمِعْتُ خَالِي عَبْدَ الْوَهَّابِ يَقُولُ : كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ الْجُنَيْدِ أَيَّامَ الْمَوْسِمِ وَحَوْلَهُ جَمَاعَةٌ كَثِيرُونَ ؛ الْعَجَمُ وَالْمُوَلَّدُونَ ، فَجَاءَ إِنْسَانٌ بِخَمْسِ مِئَةِ دِينَارٍ وَصَبَّهَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَقَالَ : فَرِّقْهَا عَلَى هَؤُلَاءِ ، فَقَالَ : أَلَكَ [غَيْرُهَا] ؟ فَقَالَ : نَعَمْ ، لِي دَنَانِيرُ كَثِيرَةٌ ، قَالَ : أَتُرِيدُ غَيْرَ مَا تَمْلِكُ فَقَالَ : نَعَمْ ، فَقَالَ الْجُنَيْدُ : خُذْهَا ؛ فَإِنَّكَ أَحْوَجُ إِلَيْهَا مِنَّا ، وَلَمْ يَقْبَلْهَا
Aku mendengar Syaikh Abu Abdirrahman
As-Sulami berkata: Aku mendengar Nasr bin Muhammad berkata: Aku mendengar
Sulaiman bin Abi Sulaiman berkata: Aku mendengar Abu Al-Qasim bin Abi Nizar
berkata: Aku mendengar Ibrahim Al-Maristani berkata: "Balaslah
ketamakanmu dengan qana'ah, sebagaimana engkau membalas musuhmu dengan
qisas."
Dzun Nun berkata: "Barangsiapa
yang qana'ah, maka ia akan istirahat dari (beban) orang-orang di zamannya dan
akan unggul di atas teman-temannya."
Dan dikatakan: Barangsiapa yang
qana'ah, ia akan beristirahat dari kesibukan (duniawi) dan merasa lebih tenang
dari segalanya.
Al-Kattani berkata: "Barangsiapa
yang menjual ketamakan demi mendapatkan qana'ah, maka ia telah meraih kemuliaan
dan harga diri (muru'ah)."
Dan dikatakan: Barangsiapa yang
matanya selalu mengikuti (menginginkan) apa yang ada di tangan orang lain, maka
akan panjang duka citanya.
Dan mereka melantunkan bait syair (Bahr
Wafir):
Sungguh lebih mulia bagi seorang
pemuda ketimbang hari penuh celaan (karena meminta) Demi meraih kekayaan, ia lebih memilih kedermawanan hati
dan rasa lapar.
Dan dikatakan: Seorang laki-laki
melihat seorang hakim/ahli hikmah sedang memakan dedaunan sayur yang jatuh di
dekat genangan air, lalu laki-laki itu berkata: "Seandainya engkau
mengabdi kepada sultan (penguasa), tentu engkau tidak perlu memakan ini!"
Maka sang ahli hikmah menjawab:
"Dan engkau, seandainya merasa cukup (qana'ah) dengan makanan ini, tentu
engkau tidak perlu mengabdi/menghambakan diri kepada sultan!"
Dan dikatakan: Burung elang itu
sangat mulia di angkasa tempat terbangnya, tidak ada pandangan atau ketamakan
pemburu yang mampu mencapainya. Namun ketika ia tamak terhadap bangkai yang
terikat pada perangkap, ia pun turun dari angkasanya lalu terjerat dalam
perangkap tersebut.
Dan dikatakan: Ketika Nabi Musa
'alaihis salam mengucapkan perkataan yang beraroma ketamakan/keinginan imbalan
dengan bersabda: “Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan
untuk itu” (QS. Al-Kahf: 77), maka Khadhir berkata kepadanya: “Inilah
perpisahan antara aku dan engkau” (QS. Al-Kahf: 78).
Dan dikatakan: Ketika Nabi Musa
'alaihis salam mengucapkan hal tersebut, berdiri di antara beliau dan Nabi
Khadhir 'alaihimas salam seekor rusa ketika keduanya sedang lapar. Sisi rusa yang
menghadap Nabi Musa 'alaihis salam dalam keadaan mentah (belum dipanggang),
sedangkan sisi yang menghadap Nabi Khadhir dalam keadaan sudah matang
dipanggang.
Dan dikatakan mengenai firman Allah
Ta'ala: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam
(surga) kenikmatan” (QS. Al-Infitar: 13): Maksudnya adalah qana'ah
(merasa cukup) di dunia. “Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka
benar-benar berada dalam neraka” (QS. Al-Infitar: 14): Maksudnya adalah ketamakan/serakah
di dunia.
Dan dikatakan mengenai firman Allah
Ta'ala: “(yaitu) memerdekakan hamba sahaya” (QS. Al-Balad: 13):
Maksudnya adalah membebaskan diri dari kehinaan ketamakan.
Dan dikatakan mengenai firman Allah
Ta'ala: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa (sebab-sebab
keji/kotoran) dari kamu, hai ahlulbait...” (QS. Al-Ahzab: 33): Maksudnya
adalah sifat kebanyakan/kikir dan ketamakan. “...dan membersihkan
kamu semurni-murninya”: Maksudnya adalah dengan sifat kedermawanan dan
mengutamakan orang lain (itsar).
Dan dikatakan mengenai firman Allah
Ta'ala (doa Nabi Sulaiman): “Dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak
dimiliki oleh seorang pun sesudahku” (QS. Sad: 35): Maksudnya adalah
kedudukan dalam qana'ah yang hanya aku miliki secara khusus dibanding orang-orang
setingkatku, dan aku ridha di dalamnya dengan takdir-Mu.
Dan dikatakan mengenai firman Allah
Ta'ala (perkataan Nabi Sulaiman tentang burung Hud-hud): “Pasti akan kuhukum
dia dengan hukuman yang berat” (QS. An-Naml: 21): Maksudnya adalah "Pasti
akan Kucabut darinya rasa qana'ah, dan akan Kuumuji dia dengan ketamakan";
yakni aku memohon kepada Allah Ta'ala agar melakukan hal itu kepadanya.
Dan ditanyakan kepada Abu Yazid
(Al-Busthami): "Dengan apa engkau dapat mencapai kedudukan kerohanian yang
telah engkau capai saat ini?"
Beliau menjawab: "Aku
mengumpulkan segala hal yang berkaitan dengan dunia, lalu aku mengikatnya
dengan tali qana'ah, kemudian aku meletakkannya pada manjanik
(ketapel/pelontar) kejujuran, lalu aku melontarkannya ke dalam lautan kepasrahan/ketidakberharapan
(kepada selain Allah), maka aku pun merasa tenang/istirahat."
Aku mendengar Muhammad bin Abdullah
Ash-Shufi berkata: Aku mendengar Muhammad bin Farkhan di Samarra berkata: Aku
mendengar paman dari pihak ibuku, Abdul Wahhab, berkata: Aku pernah duduk di
dekat Al-Junaid pada hari-hari musim haji, dan di sekeliling beliau terdapat
jamaah yang sangat banyak, baik dari kalangan non-Arab ('Ajam) maupun keturunan
peranakan. Lalu datang seseorang membawa uang lima ratus dinar dan
menuangkannya di hadapan Al-Junaid seraya berkata: "Bagikanlah uang ini
kepada mereka!" Maka Al-Junaid bertanya: "Apakah engkau memiliki
kekayaan selain uang ini?" Orang itu menjawab: "Ya, aku memiliki
banyak dinar." Al-Junaid bertanya lagi: "Apakah engkau masih
menginginkan harta yang lebih banyak dari yang engkau miliki sekarang?"
Orang itu menjawab: "Ya." Maka Al-Junaid bersabda: "Ambil
kembali uangmu ini; karena sesungguhnya engkau lebih membutuhkannya daripada
kami," dan beliau tidak mau meyakini/menerimanya.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.