بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
**BAB PERTAMA**
**Tokoh-Tokoh Utama Sufi dan Ilmu Tauhid**
kumpulan dari
petikan perkataan Kaum Sufi terkait masalah-masalah *ushul* (akidah dasar) 1
وَنَحْنُ نَذْكُرُ فِي هَذَا الفَصْلِ جُمَلًا مِنْ مُتَفَرِّقَاتِ كَلاَمِهِمْ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِمَسَائِلِ الأُصُولِ ، ثُمَّ نُحَرِّرُ عَلَى التَّرْتِيبِ بَعْدَهَا مَا يَشْتَمِلُ عَلَى مَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ فِي الاعْتِقَادِ عَلَى وَجْهِ الإِيجَازِ وَالاخْتِصَارِ إِنْ شَاءَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ
سَمِعْتُ الشَّيْخَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُحَمَّدَ بْنَ الحُسَيْنِ السُّلَمِيَّ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ : سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ مُوسَى السُّلَامِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ الشِّبْلِيَّ يَقُولُ : ( جَلَّ الوَاحِدُ المَعْرُوفُ ، قَبْلَ الحُدُودِ وَقَبْلَ الحُرُوفِ ) (٢) ، هَذَا صَرِيحٌ مِنَ الشِّبْلِيِّ أَنَّ القَدِيمَ سُبْحَانَهُ لَا حَدَّ لِذَاتِهِ ، وَلَا حُرُوفَ لِكَلَامِهِ
سَمِعْتُ أَبَا حَاتِمٍ الصُّوفِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا نَصْرٍ الطُّوسِيَّ يَقُولُ : سُئِلَ رُوَيْمٌ عَنْ أَوَّلِ فَرْضٍ افْتَرَضَ (٣) اللهُ عَلَى خَلْقِهِ مَا هُوَ ؟ فَقَالَ : المَعْرِفَةُ ؛ لِقَوْلِهِ جَلَّ ذِكْرُهُ : ﴿ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴾ (٤) ، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : إِلَّا لِيَعْرِفُونِ (٥)
وَقَالَ الجُنَيْدُ : ( إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ مِنْ عَقْدِ الحِكْمَةِ : مَعْرِفَةُ المَصْنُوعِ صَانِعَهُ ، وَالمُحْدَثِ كَيْفَ كَانَ إِحْدَاثُهُ ، فَيَعْرِفُ صِفَةَ الخَالِقِ مِنَ المَخْلُوقِ ، وَصِفَةَ القَدِيمِ مِنَ المُحْدَثِ ، فَيَذِلُّ لِدَعْوَتِهِ ، وَيَعْتَرِفُ بِوُجُوبِ طَاعَتِهِ ؛ فَمَنْ لَمْ يَعْرِفْ مَالِكَهُ . . لَمْ يَعْتَرِفْ بِالمُلْكِ لِمَنْ اسْتَوْجَبَهُ ) (٦)
أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الحُسَيْنِ قَالَ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا الطَّيِّبِ المَرَاغِيَّ يَقُولُ : ( لِلْعَقْلِ دَلَالَةٌ ، وَلِلْحِكْمَةِ إِشَارَةٌ ، وَلِلْمَعْرِفَةِ شَهَادَةٌ ؛ فَالْعَقْلُ يَدُلُّ ، وَالحِكْمَةُ تُشِيرُ ، وَالمَعْرِفَةُ تَشْهَدُ : أَنَّ صَفَاءَ العِبَادَاتِ لَا يُنَالُ إِلَّا بِصَفَاءِ التَّوْحِيدِ ) (١)
وَسُئِلَ الجُنَيْدُ عَنِ التَّوْحِيدِ ، فَقَالَ : ( إِفْرَادُ المُوَحِّدِ بِتَحْقِيقِ وَحْدَانِيَّتِهِ بِكَمَالِ أَحَدِيَّتِهِ أَنَّهُ الوَاحِدُ ، الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ، بِنَفْيِ الأَضْدَادِ وَالأَنْدَادِ وَالأَشْبَاهِ ، بِلَا تَشْبِيهٍ وَلَا تَكْيِيفٍ ، وَلَا تَصْوِيرٍ وَلَا تَمْثِيلٍ ، ﴿ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ﴾ ) (٢)
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى الصُّوفِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عَلِيٍّ التَّمِيمِيُّ الصُّوفِيُّ يَحْكِي عَنِ الحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ الدَّامَغَانِيِّ قَالَ : سُئِلَ أَبُو بَكْرٍ الزَّاهِرَآبَادِيُّ عَنِ المَعْرِفَةِ ، فَقَالَ : ( المَعْرِفَةُ اسْمٌ ، وَمَعْنَاهُ : وَجُودُ تَعْظِيمٍ فِي القَلْبِ يَمْنَعُكَ عَنِ التَّعْطِيلِ وَالتَّشْبِيهِ ) (٣)
وَقَالَ أَبُو الحَسَنِ البُوشَنْجِيُّ : ( التَّوْحِيدُ : أَنْ تَعْلَمَ أَنَّهُ غَيْرُ مُشْبِهٍ لِلذَّوَاتِ ، وَلَا مَنْفِيِّ الصِّفَاتِ ) (٤)
Dan kami akan menyebutkan dalam fasal ini kumpulan dari
petikan perkataan mereka terkait masalah-masalah *ushul* (akidah dasar).
Kemudian setelah itu, kami akan menyusun secara berurutan hal-hal yang mencakup
apa yang dibutuhkan dalam berakidah secara ringkas dan singkat, *insya Allah
Azza wa Jalla*.
Saya mendengar Syekh Abu Abdurrahman Muhammad bin Al-Husain
As-Sulami —semoga Allah merahmatinya— berkata: Saya mendengar Abdullah bin Musa
As-Sulami berkata: Saya mendengar Asy-Syibli berkata: *(Maha Agung Dzat Yang
Maha Esa lagi Dikenal, sebelum adanya batasan-batasan dan sebelum adanya
huruf-huruf)*. Perkataan Asy-Syibli ini secara tegas menyatakan bahwa Dzat yang
*Qadim* (Maha Terdahulu/Kekal) Maha Suci dari memiliki batasan bagi Dzat-Nya,
dan tidak berupa huruf-huruf bagi Kalam-Nya (firman-Nya).
Saya mendengar Abu Hatim Ash-Sofi berkata: Saya mendengar
Abu Nashr At-Thusi berkata: Ruwaim pernah ditanya tentang kewajiban pertama
yang Allah diwajibkan atas makhluk-Nya, apakah itu? Ia menjawab: "Ma'rifat
(mengenal Allah); berdasarkan firman-Nya yang Maha Agung sebutannya: *'Dan Aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.'* Ibnu
Abbas —semoga Allah meridhai keduanya— berkata: *(Maksudnya) melainkan agar
mereka mengenal-Ku.*"
Al-Junaid berkata: *(Sesungguhnya hal pertama yang dibutuhkan
dalam ikatan hikmah adalah pengetahuan ciptaan tentang Penciptanya, dan
pengetahuan yang baru [makhluk] tentang bagaimana ia diciptakan. Sehingga ia
mengetahui sifat Sang Pencipta yang berbeda dari makhluk, dan sifat yang Qadim
[Kekal] dari yang baru [hadats]. Lalu ia tunduk pada seruan-Nya dan mengakui
kewajiban taat kepada-Nya. Sebab barangsiapa yang tidak mengenal Pemiliknya,
maka ia tidak akan mengakui kepemilikan bagi Dzat yang berhak atasnya).*
Muhammad bin Al-Husain mengabarkan kepadaku, ia berkata:
Saya mendengar Muhammad bin Abdullah berkata: Saya mendengar Abu At-Thayyib
Al-Maraghi berkata: *(Akal memiliki petunjuk, hikmah memiliki isyarat, dan
ma'rifat memiliki kesaksian. Maka akal yang menuntun, hikmah yang
mengisyaratkan, dan ma'rifat menyaksikan: bahwa kesucian ibadah tidak akan
dapat dicapai melainkan dengan kesucian tauhid).*
Al-Junaid pernah ditanya tentang tauhid, lalu ia menjawab:
*(Tauhid adalah mengesakan Yang Maha Mengesakan dengan merealisasikan
keesaan-Nya melalui kesempurnaan sifat Ahad-Nya, bahwa Dia adalah Yang Maha
Esa, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dengan meniadakan lawan,
tandingan, dan keserupaan; tanpa penyerupaan (tasybih), tanpa mempertanyakan
bagaimana-Nya (takyif), tanpa penggambaran (taswir), dan tanpa perumpamaan
(tamtsil): "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang
Maha Mendengar lagi Maha Melihat").*
Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Yahya Ash-Sofi
mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ali At-Tamimi Ash-Sofi
menceritakan dari Al-Hasan bin Ali Ad-Damaghani, ia berkata: Abu Bakr
Az-Zahirabadi ditanya tentang ma'rifat, lalu ia menjawab: *(Ma'rifat adalah
sebuah istilah, dan maknanya adalah: hadirnya rasa keagungan di dalam hati yang
mencegahmu dari ta'thil [menolak sifat-sifat Allah] dan tasybih [menyerupakan
Allah dengan makhluk]).*
Abu Al-Hasan Al-Busyanji berkata: *(Tauhid adalah engkau
mengetahui bahwa Dzat-Nya tidak menyerupai zat-zat (makhluk), dan tidak pula
ditiadakan sifat-sifat-Nya).*
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya iklan adsens. Mohon Keridhoannya untuk ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih. Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Artikel Terkait :