بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Terjemah Kitab Tanwir al Qulub BAB III :
Allah memuliakan hamba-hamba-Nya yang
beriman
ومما يجب اعتقاده
أن الله سبحانه وتعالى يكرم
عباده المؤمنين فى الآخرة بالنظر إلى وجهه الكريم بالأبصار بعد دخول الجنه وقبله
لكن بلا كيف ولا انحصار وذلك ثابت بالكتاب والسنة قال الله تعالى ( وُجُوهٌ
يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ) وقال صلى الله عليه وسلم «
إنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ القَمَرَ لَيْلَةَ البَدْرِ » أخرجه
البخارى فى صحيحه وغيره . والتشبيه للرؤية فى عدم الشك والخفاء لا المرئى . ودليل
جواز وقوعه عقلاً أن الرؤية نوع كشف وعلم للمدرَك بالمرئى يخلقه الله تعالى عند
مقابلة الحاسة له فيجوز أن يخلق هذا القدر بعينه من غير أن ينقص منه شىء من غير
مقابلة لهذه الحاسة أصلاً . كما كان صلى الله عليه وسلم يرى من وراء ظهره وكما أن
الحق تعالى يرانا من غير مقابلة ولا جهة ، ومن المعلوم أن الرؤية نسبة خاصة بين
راء ومرئى فإذا اقتضت عقلا كون أحدهما فى جهة اقتضت كون الآخر كذلك فإذا ثبت عدم
لزوم ذلك فى أحدهما ثبت مثله فى الآخر ، وخرج بقولنا المؤمنين غيرهم من الكفار
فإنهم لا يرونه يوم القيامة لقوله تعالى ( كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ
يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ ) ولا فى الجنة لعدم دخولهم فيها . ومن أراد استيفاء
هذا البحث فليرجع إلى ما كتبناه فيه من كتابنا ( ضوء السراج فى الإسراء والمعراج
(Dan di antara perkara yang
wajib diyakini) adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala memuliakan hamba-hamba-Nya yang
beriman di akhirat kelak dengan memberikan kemampuan melihat ke arah Wajah-Nya
Yang Mulia menggunakan mata kepala (al-abshar), baik
setelah masuk surga maupun sebelum masuk surga. Akan tetapi, penglihatan ini
terjadi tanpa kaif (tanpa diketahui cara/bagaimananya) dan tanpa inthisar (tidak terbatas atau terliputi batas ukuran).
Hal tersebut telah
ditetapkan kebenarannya berdasarkan Al-Kitab (Al-Qur'an) dan As-Sunnah. Allah
Ta'ala berfirman:
"Wajah-wajah (orang
mukmin) pada hari itu berseri-seri. Memandang kepada Tuhannya."
Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya kalian akan
melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan pada malam purnama." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab
Shahihnya dan selainnya).
Adapun penyerupaan
(pemberian tamsil) dalam hadits di atas ditujukan pada sifat "proses
melihatnya"—yakni dalam hal kejelasan, tanpa keraguan, dan tanpa
kesamaran—bukan menyerupakan Zat yang dilihat (al-mar'iy / Allah)
dengan bulan.
Argumen Akal (Rasionalitas) Terkait Ru'yatullah
Dalil kebolehan
terjadinya hal ini secara akal adalah bahwa penglihatan (ru'yah) merupakan sejenis penyingkapan (kasyf) dan pengetahuan ('ilm) terhadap
sesuatu yang ditangkap melalui objek yang dilihat, yang mana Allah Ta'ala
menciptakannya ketika indra berhadapan dengan objek tersebut. Maka, secara akal
boleh-boleh saja Allah menciptakan kemampuan penyingkapan ini secara utuh tanpa
berkurang sedikit pun, meski tanpa adanya posisi saling berhadapan (muqabalah) antar indra sama sekali.
Hal ini seperti
keadaan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang dahulu mampu melihat
apa yang ada di belakang punggungnya, dan sebagaimana Allah Yang Maha Benar (Al-Haqq) melihat kita tanpa perlu posisi saling
berhadapan maupun keterikatan arah (jiha).
Sebagaimana diketahui,
penglihatan merupakan hubungan khusus antara subjek yang melihat (ra'in) dan objek yang dilihat (mar'iy). Jika secara akal hubungan itu menuntut salah
satunya harus berada di suatu arah, maka konsekuensinya yang lain pun demikian.
Namun, ketika telah terbukti bahwa keterikatan arah itu tidak berlaku bagi
salah satunya (yaitu Allah), maka terbukti pula ketidakharusan tersebut bagi
yang lainnya (yaitu hamba yang melihat-Nya).
Pengecualian bagi Orang Kafir
Dengan perkataan kami
"orang-orang yang beriman", maka mengecualikan selain mereka, yaitu
orang-orang kafir. Sesungguhnya mereka tidak dapat melihat Allah pada hari
kiamat berdasarkan firman Allah Ta'ala:
"Sekali-kali tidak!
Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat)
Tuhannya."
Mereka juga tidak
dapat melihat-Nya di surga karena mereka tidak akan pernah memasukinya.
Barangsiapa yang ingin
mengkaji pembahasan ini secara lebih luas dan mendalam, silakan merujuk kepada
apa yang telah kami tulis di dalam kitab kami yang berjudul "Dhaw'u as-Siraj fi al-Isra' wa al-Mi'raj"
(Cahaya Pelita pada Peristiwa Isra dan Mikraj).
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Bab Ke Tiga
Daftar Isi
Download Terjemah Kitab Tanwirul Qulub
Cara cepat dan tanpa Ribet untuk memiliki 200 + Kitab Terjemah. Klik disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya iklan adsens. Mohon Keridhoannya untuk ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih. Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Artikel Terkait :