• Home
  • Facebook PPa
  • Twitter
  • Aurodan PPa
  • Download software
 Padepokan Padang Ati (ppa)
**Home** · *Unduh Kitab Ma'na dan Terjemah* · *Terjemahan Kitab* ·*Unduh Kitab Kuning Mp3* ·*Unduh Tausiyah/Ceramah Agama* · *Unduh Al Qur’an/Qiro’ah Dan Sholawat*
Home » Archive for 2026

Maret 28, 2026

Download Kitab Tafsir Al-Furqan Karya A. Hassan

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Tafsir Al-Furqan 

Karya A. Hassan:

 Sejarah, Metode, dan Nilai Keilmuannya


Tafsir Al-Furqan karya A. Hassan merupakan salah satu karya tafsir berbahasa Melayu-Indonesia paling berpengaruh pada abad ke-20. Disusun dengan tujuan mulia untuk memudahkan umat Islam memahami makna dan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an,
 kitab ini menjadi tonggak penting dalam sejarah penyebaran ilmu tafsir di Nusantara.

Dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT, kitab Al-Furqan diterbitkan kembali sebagai bagian dari upaya menyebarkan pemahaman terhadap kitab suci umat Islam. Penerbit menjelaskan bahwa tidak ada perubahan sedikit pun dalam bahasa maupun susunan kalimat aslinya, demi menjaga keautentikan karya besar ini.
Tujuan utama penerbitan Al-Furqan adalah membangkitkan semangat kaum Muslimin agar kembali mencintai, memahami, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an. Diharapkan, melalui kitab ini umat Islam lebih termotivasi untuk meneladani isi dan makna kalamullah dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pengantarnya, A. Hassan mengisahkan bahwa bagian pertama tafsir ini pertama kali terbit pada bulan Muharram 1347 H (Juli 1928). Namun, karena kesibukannya menulis kitab-kitab penting lainnya untuk Persatuan Islam (Persis), penyusunan tafsir ini baru dapat dilanjutkan hingga Surah Maryam pada tahun 1941.

Kemudian, pada tahun 1953, seorang tokoh bernama Tuan Sa’ad Nabhaan meminta A. Hassan untuk menulis ulang tafsir tersebut dari awal hingga lengkap 30 juz. Dalam penulisan ulang ini, A. Hassan menekankan pentingnya memudahkan pembaca memahami arti setiap ayat secara langsung tanpa banyak perdebatan tafsir yang bercabang.

 

Silahkan Download ebooknya Disini

https://drive.google.com/file/d/1Rb5BDOPPbtKBiewM9a5Sp8LEsn8Ouj7V/view?usp=sharing

Daftar Kitab Terjemah

 

Silahkan Bagikan Artikel ini

Mohon Maaf, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya iklan adsen. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih. Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.

Artikel Terkait :

Ditulis oleh:SHOLICHUL HAKIM on Maret 28, 2026

Maret 27, 2026

Download Ebook Terjemah Dhawabith Bahatsil Masa'il wal Ifta' 'inda Nahdlatil 'Ulama (KH. Zulfa Mustofa)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

 

PRINSIP-PRINSIP BERFATWA DAN BAHTSUL MASAIL DALAM NAHDLATUL ULAMA


Bahtsul Masail (بحث المسائل) merupakan tradisi keilmuan yang sangat khas dalam Nahdlatul Ulama (NU). Tradisi ini merujuk pada proses pengkajian, diskusi, dan pengambilan keputusan hukum terhadap berbagai persoalan keagamaan secara kolektif oleh para ulama. Aktivitas ini telah berlangsung sejak masa awal berdirinya NU, bahkan jauh sebelum organisasi ini lahir, ketika ulama-ulama Nusantara telah membiasakan diri berkumpul dalam majelis ilmiah untuk meneliti dan memecahkan persoalan fiqih. Dengan demikian, Bahtsul Masail merupakan kelanjutan dari mata rantai keilmuan Islam yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam tradisi NU, istilah yang digunakan adalah Bahtsul Masail dan bukan al-ifta' atau fatwa. Hal ini mencerminkan kerendahan hati para ulama yang tidak ingin menempatkan diri sebagai mufti dalam pengertian formal, meskipun pada kenyataannya keputusan yang dihasilkan memiliki bobot keilmuan setara dengan fatwa. Mereka memahami betapa beratnya tanggung jawab seorang mufti, serta bagaimana kedudukannya merupakan amanah yang agung dan memiliki konsekuensi langsung dari Allah SWT. Kesadaran mendalam terhadap tanggung jawab inilah yang membuat para ulama bersikap hati-hati, teliti, dan tidak tergesa-gesa dalam menetapkan hukum.
 Bahtsul Masail dijalankan melalui metode istinbath jama’i, yaitu ijtihad kolektif yang dilakukan bersama-sama oleh para ulama dari berbagai pesantren dan lembaga pendidikan NU. Metode ini berbeda dari ijtihad individual yang dilakukan para imam mazhab pada masa lalu. Walaupun demikian, secara substantif, metode ini tetap mengikuti tradisi keilmuan klasik yang berlandaskan pada disiplin fiqih, kaidah ushul fiqih, dan penalaran metodologis yang matang. Ijtihad kolektif memberikan hasil yang lebih komprehensif karena mempertimbangkan banyak sudut pandang dan pengalaman keilmuan.
 
 

Silahkan Download ebooknya Disini

https://drive.google.com/file/d/1QVEFLC3DLpynXSpdzZdhkF59rP4wbo1W/view?usp=sharing

Daftar EBOOK LAINNYA

 

Silahkan Bagikan Artikel ini

Mohon Maaf, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya iklan adsen. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih. Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.

Artikel Terkait :

Ditulis oleh:SHOLICHUL HAKIM on Maret 27, 2026

(Kitab At Tanwir Bab 10 ) Amalan wajib dan amalan Sunnah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

 

 Amalan wajib dan amalan Sunnah

 تنبيه وإعلام
 اعلم رحمك الله أنا تلمحنا الواجبات فرأينا الحق تعالى جعل في كل ما أوجبه تطوعا من جنسه  في أي الأنواع كان،ليكون ذلك التطوع ذلك الجنس جابرا لما عساه أن يع من الخلل في قيام العبد بالواجبات
وكذلك جاء في الحديث ينظر في مفروض صلاة العبد فان نقص منها شئ كمل من النوافل
فافهم رحمك الله هذا، ولاتكن مقتصرا على ما فرض الله عليك ليكن فيك  ناهضة حب توجب إنكبابك  على معاملة الله فيما لم يوجبه عليك
  ولو كان العباد لا يجدون في موازينهم إلا فعل الواجبات وثواب ترك المحرمات لفاتهم من الخير والمنة ما لم يحصره حاصر، ولا يحزره حازر، فسبحان الفاتح للعباد باب المعاملة والمبين لهم أسباب المواصلة
واعلم أن الحق تعالى علم أن في عباده ضعفاء وأقوياء فأوجب الواجبات وبين المحرمات
فالضعفاء اقتصروا على الواجبات والترك للمحرمات وليس في قلوبهم من سلطان الحب، ووجود الشغف ما يحملهم على المعالي من غير إيجاب، فمثلهم كمثل العبد الذي يعلم السيد منه انه إن لم يخارجه لم يهد إليه شيئا
فلذلك وقت سبحانه الأوراد، ووظف وظائف العبودية، وعرف ذلك بالطالع، والغارب والزوال
وصيرورة كل شيء مثله في الصلاة، وبالحول في الأموال النامية في العين والحرث والماشية، وبوقت حصول المنفعة في الزرع. {وآتوا حقه يوم حصاده}
وبعشر ذي الحجة في الحج، وبشهر رمضان في الصيام
فوظف الوظائف، ووقتها، وجعل للنفوس فيما سواها فسحة للحظوظ والسعي في الأسباب
وأهل الله تعالى، وأهل الفهم عنه جعلوا الأوقات كلها وقتا واحدا، والعمر كله نهجا إلى الله قاصدا، فعلوا أن الوقت كله له،  فلم يجعلوا منه شيئا لغيره، ولذلك قال الشيخ أبو الحسن رحمه الله
عليك بورد واحد، وهو إسقاط الهوى ومحبة المولى
أبت المحبة أن تستعمل محبا إلا فيما يوافق محبوبه
وعلموا أن الأنفاس أمانات الحق عندهم، وودائعه لديهم، فعلموا أنهم مطالبون برعايتها فوجهوا هممهم لذلك وكما أن له الربوبية الدائمة كذلك حقوق ربوبيته عليك دائمة، فربوبيته عليك غير مؤقتة بالأوقات، فحقوق ربوبيته ينبغي أن تكون أيضا كذلك
يقول الشيخ أبو الحسن رحمه الله: فان لكل وقت سهما في العبودية يقتضيه الحق منك بحكم الربوبية. ولنحبس عنان المقال لئلا نخرج عن غرض الكتاب

Pemberitahuan dan Pengumuman: Ketahuilah—semoga Allah merahmatimu—bahwa ketika kami mengamati kewajiban-kewajiban (al-wajibat), kami melihat bahwa Allah Yang Maha Benar telah menjadikan pada setiap apa yang Dia wajibkan itu ada bentuk sukarela (tathawwu') yang sejPemberitahuan dan Pengumuman: Ketahuilah—semoga Allah merahmatimu—bahwa ketika kami mengamati kewajiban-kewajiban (al-wajibat), kami melihat bahwa Allah Yang Maha Benar telah menjadikan pada setiap apa yang Dia wajibkan itu ada bentuk sukarela (tathawwu') yang sejenis dengannya, dalam bentuk apa pun itu. Hal ini bertujuan agar amalan sukarela tersebut menjadi penambal bagi kekurangan yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan kewajiban oleh seorang hamba.

Begitu pula yang disebutkan dalam hadis: "Akan dilihat pada shalat fardu seorang hamba, jika ada kekurangan, maka akan disempurnakan dari shalat sunnahnya."

Maka pahamilah ini—semoga Allah merahmatimu—dan janganlah engkau hanya mencukupkan diri pada apa yang difardukan Allah atasmu. Hendaknya dalam dirimu ada dorongan cinta yang mengharuskanmu untuk tekun berinteraksi dengan Allah dalam hal-hal yang tidak Dia wajibkan atasmu.

Seandainya para hamba tidak mendapati dalam timbangan mereka kecuali pahala melaksanakan kewajiban dan pahala meninggalkan keharaman, niscaya mereka akan kehilangan banyak kebaikan dan anugerah yang tidak terbatas jumlahnya. Maka Mahasuci Allah, Dzat yang membukakan pintu interaksi bagi para hamba-Nya dan menjelaskan kepada mereka sebab-sebab untuk sampai (al-muwashalah) kepada-Nya.

Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala mengetahui bahwa di antara hamba-hamba-Nya ada yang lemah dan ada yang kuat. Maka Dia mewajibkan hal-hal yang wajib dan mengharamkan hal-hal yang haram.

Orang-orang yang lemah hanya mencukupkan diri pada kewajiban dan meninggalkan keharaman karena di dalam hati mereka tidak ada kekuasaan cinta (sulthan al-hubb) dan rasa rindu mendalam yang membawa mereka pada derajat yang tinggi tanpa adanya kewajiban. Perumpamaan mereka seperti seorang budak yang diketahui tuannya bahwa jika tidak diperintah secara tegas, maka ia tidak akan mempersembahkan sesuatu pun.

Oleh karena itu, Allah menetapkan waktu-waktu wirid dan tugas-tugas penghambaan. Dia menentukan hal itu berdasarkan terbitnya fajar (al-thali'), terbenamnya matahari (al-gharib), dan waktu lingsir (al-zuwal). Juga ketika bayangan sesuatu menjadi sama panjang dengannya (dalam shalat), berdasarkan perputaran haul pada harta yang berkembang, hasil pertanian, dan hewan ternak, serta pada saat memanen hasil tanaman:

{Dan tunaikanlah haknya di hari memanennya}

Serta pada sepuluh hari bulan Dzulhijjah untuk haji, dan pada bulan Ramadhan untuk puasa. Maka Allah menetapkan tugas-tugas itu dan waktunya, dan menjadikan bagi jiwa-jiwa di luar waktu tersebut kelapangan untuk bagian duniawi dan berusaha mencari sebab-sebab penghidupan.

Adapun Ahlu Allah (orang-orang yang dekat dengan Allah) dan Ahlul Fahm (orang-orang yang memiliki pemahaman mendalam), mereka menjadikan seluruh waktu adalah satu waktu saja (seluruh hidup adalah ibadah). Seluruh umur mereka adalah jalan menuju Allah dengan satu tujuan. Mereka melakukan hal itu karena seluruh waktu adalah milik-Nya, maka mereka tidak menjadikan sedikit pun dari waktu tersebut untuk selain-Nya. 

Oleh karena itu, Syekh Abu al-Hasan—semoga Allah merahmatinya—berkata: "...Hendaklah engkau memiliki satu wirid saja, yaitu menggugurkan hawa nafsu dan mencintai Sang Pelindung (Allah).

Cinta enggan membiarkan seorang pecinta berbuat sesuatu, kecuali pada hal-hal yang disukai oleh yang dicintainya.

Mereka (Ahlu Allah) menyadari bahwa setiap hembusan napas adalah amanah dari Allah Yang Maha Benar dan titipan di sisi mereka. Mereka tahu bahwa mereka dituntut untuk menjaganya, maka mereka memfokuskan seluruh tekad (himmah) mereka untuk hal tersebut.

Sebagaimana sifat Ketuhanan (al-Rububiyyah) itu kekal abadi, maka hak-hak Ketuhanan-Nya atasmu pun kekal abadi. Sifat Ketuhanan-Nya atasmu tidaklah dibatasi oleh waktu-waktu tertentu, maka sudah sepatutnya hak-hak Ketuhanan-Nya pun demikian (dilaksanakan setiap saat).

Syekh Abu al-Hasan—semoga Allah merahmatinya—berkata:
"Sebab pada setiap waktu, terdapat bagian dari penghambaan ('ubudiyyah*) yang dituntut oleh Allah darimu berdasarkan hak Ketuhanan."*

Dan mari kita tahan pembahasan ini agar kita tidak keluar dari tujuan utama kitab ini.


القسم الثالث من أقسام الإيثار: وهو الإيثار بالنفس
فهذا هو أفضل الوجوه الثلاثة، وإنما أوثر بغيره لأجله، فمن آثر الله تعالى بما أوجبه عليه قد لا يؤثره بما في يديه مما لم يوجبه عليه، ومن آثر الله تعالى بما في يديه مما لم يوجهه عليه فقد لا يؤثره بنفسه ولا يسخوا ببذلها، فان السخاء بالنفس والبذل لها من أخلاق الصديقين، وشأن أهل اليقين، الذين عرفوا الله فبذلوا له نفوسهم علما منهم، أن العبد لا يملك مع السيد وإذا كان الإيثار بالنفس هو أكمل الوجوه فيكون ابخل بها أقبح الوجوه
فقد تبين من هذا قول الشيخ: ومن الشح والبخل بعد حصوله. على طريق الإلماح لا الاستقصاء، فان الكتاب غير موضوع لهذا المعنى
القسم الثالث من أقسام العوارض في شأن الرزق
فإذا ذكرنا أن العوارض التي تعرض في شأن الرزق على ثلاثة أقسام
عوارض قبل الحصول، وعوارض     في حين الحصول
وقد تقدم ذكرهما في كلام الشيخ فيهما، وبينا نحن ذلك
وعوارض بعد حصوله، ونفاده من الأسف والعدم عليه وداوم التطلع إليه
فينبغي أن تطهر منها أيضا، واسمع قوله تعالى: {لكيلا تأسوا على ما فاتكم ولا تفرحوا بما آتاكم}
ومن أسف على فقد شيء، دون الله تعالى فقد نادى على نفسه بوجود الجهل، وثبات القطيعة إذ لو وجد الله لم يفقد شيئا دونه، فمن وجد الله فلا يجد شيئا دونه حتى يكون له فاقدا. وليعلم العبد أن ما فاته ليس له برزق، وما كان عنده ففقده فلس له، لأنه لو كان رزقه ما ذهب عنه إلى غيره، بل كان عارية عنده، أخذ العارية من أعارها، واسترجع الشيء من أوجده

Bagian Ketiga dari Macam-macam Itsar (Mendahulukan Orang Lain): Yaitu Mendahulukan dengan Jiwa (al-Itsar bi al-Nafs).
Ini adalah tingkatan yang paling utama dari tiga jenis itsar, karena seseorang melakukan pengorbanan demi pihak lain. Barangsiapa yang lebih mengutamakan Allah Ta’ala daripada apa yang Dia wajibkan kepadanya, maka bisa jadi ia tidak akan mengutamakan (memberikan) apa yang ada di tangannya untuk sesuatu yang tidak diwajibkan kepadanya. Namun, barangsiapa yang lebih mengutamakan Allah Ta’ala dengan apa yang ada di tangannya untuk sesuatu yang tidak diwajibkan kepadanya, maka sungguh ia tidak akan mengutamakan dirinya sendiri dan tidak akan kikir untuk mengorbankan jiwanya.

Sebab, kedermawanan dengan jiwa dan pengorbanan diri adalah bagian dari akhlak kaum Shiddiqin (orang-orang yang jujur imannya) dan merupakan perilaku Ahlul Yaqin (orang-orang yang memiliki keyakinan kuat). Mereka adalah orang-orang yang mengenal Allah, lalu mereka mempersembahkan jiwa mereka untuk-Nya karena mereka menyadari bahwa seorang hamba tidaklah memiliki apa pun di hadapan Tuannya. Jika itsar (mendahulukan Allah) dengan jiwa adalah tingkatan yang paling sempurna, maka kikir dengan jiwa (untuk Allah) adalah tingkatan yang paling buruk.

Maka telah jelas dari perkataan Syekh ini: mengenai sifat kikir (al-syuhh) dan kebakhilan setelah memperoleh sesuatu, hal ini disampaikan secara sekilas saja dan tidak mendalam, karena kitab ini bukan disusun khusus untuk membahas makna tersebut.

Bagian Ketiga dari Macam-macam Kendala (al-'Awaridh) dalam Hal Rezeki:
Jika kita menyebutkan bahwa kendala-kendala yang terjadi dalam urusan rezeki itu ada tiga bagian:

Kendala sebelum memperoleh rezeki (qabl al-hushul).

Kendala saat memperoleh rezeki (fi hiin al-hushul).

Keduanya telah dijelaskan sebelumnya dalam perkataan Syekh, dan telah kami uraikan hal tersebut..."

"...Dan kendala-kendala setelah memperolehnya (rezeki), serta dampaknya berupa rasa sedih (al-asaf), rasa hampa saat kehilangan, serta keinginan terus-menerus untuk selalu mendapatkannya.

Maka, sudah sepatutnya engkau menyucikan diri dari hal-hal tersebut. Dengarkanlah firman Allah Ta’ala: "(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu." (QS. Al-Hadid: 23).

Barangsiapa yang bersedih atas hilangnya sesuatu selain Allah Ta’ala, maka sungguh ia telah memproklamirkan adanya kebodohan dalam dirinya, dan ketetapan keterputusan (hubungan dengan Allah). Sebab, seandainya ia menemukan Allah, niscaya ia tidak akan merasa kehilangan apa pun selain-Nya. Dan barangsiapa yang menemukan Allah, maka ia tidak akan mendapati sesuatu pun selain-Nya sebagai hal yang hilang darinya.

Hendaknya seorang hamba menyadari bahwa apa yang luput darinya bukanlah rezekinya. Apa yang pernah ada padanya lalu hilang, maka itu pun bukan miliknya. Karena jika itu memang rezekinya, niscaya tidak akan pergi kepada orang lain. Melainkan, sesuatu itu hanyalah titipan ('ariyah) di sisinya; sang pemilik mengambil kembali titipannya, dan Dzat yang mewujudkan sesuatu mengambil kembali apa yang diwujudkan-Nya.


وكان لبعضهم ابنة عم مسماة عليه من الصغر، فلما كبر جرى ما منع زواجه إياها ثم تزوجت بزوج غيره فجاء إليه بعض أهل الفهم وقال له: يصلح لك أن تعتذر إلى هذا الزوج الذي تزوج ابنة عمك، إذ كنت أنت المتطلع لزوجته، إذ هي زوجته في الأزل وكفى بالمؤمن تحذرا من الندم على ما فات قول الله تعالى: {ومن الناس من يعبد الله على حرف فان أصابه خير اطمأن به وان أصابته فتنة انقلب على وجهه خسر الدنيا والآخرة، ذلك هو الخسران المبين}
فقد ذم الحق تعالى من يسكن للأشياء في حين وجدها، إلا تراه كيف قال: {فان أصابه خير اطمأن به}
أي اطمأن بذلك الخير، ولو فهم لما اطمأن بشيء دون الله تعالى ولكانت طمأنينته بالله وحده، وكذلك من يحزن عليها عند فقدها، لقوله تعالى: {وإن أصابته فتنة}
والفتنة فقد ذلك المشتهى الذي كان إليه ساكنا، {انقلب على وجهه} أي دهش عقله، وذهلت نفسه وغفل قلبه وما ذلك إلا لعدم معرفته بالله تعالى، ولو عرف الله تعالى أغناه وجوده من كل موجود، واستغنى به عن كل مفقود
ومن فقد الله لم يجد شيئا، ومن وجده لم يفقد شيئا
وكيف يفقد شيئا من يجد بيده ملكوت كل شيء؟
وكيف يفقد شيئا من وجد الموجد لكل شيء؟
وكيف يفقد شيئا من وجد الظاهر في كل شيء
فما سوى الله عند أهل المعرفة لا يتصف بوجود ولا بفقد، إذ لا يوجد غيره معه، لثبوت أحديته، ولا فقد لغيره لأنه لا يفقد إلا ما وجد ولو انهتك حجاب الوهم لوقع العيان على فقد الأعيان، ولأشرق نور الإيقان فغطى وجود الأكوان
وإذ قد فهمت هذا فينبغي لك أيها العبد أن لا تأس على فقد شيء، وان لا تركن بوجود شيء، فان من وجد شيئا فركن إليه أو فقد شيئا فحزن عليه فقد اثبت عبوديته لذلك الشيء الذي أفرحه وجوده وأحزنه فقده
وافهم ها هنا قوله عليه الصلاة والسلام تعس عبد الدينار، تعس عبد الدرهم، تعس عبد الخميصة تعص وانتكس وإذا شيك فلا انتقش
فلا تحكم في قلبك أيها المؤمن شيئا إلا حب الله ووده، فانك اشرف من أن تكون عبدا لغيره، فقد جعلك عبدا كريما فلا تكن عبدا لئيما
وقد أبى لأهل الفهم عن الله تعالى، فهمهم، أن يركنوا لوجد أو يتطلعوا لفقد، لعبوديتهم وتصحيحا لحريتهم عما سواه
وسمعت شيخنا أبا العباس رحمه الله يقول
الكائن في الحال على قسمين، عبد هو في الحال بالحال، وعبد هو في الحال بالمحول
والذي هو في الحال بالحال: هو عبد الحال الذي يفرح بها. إذا وجدها، ويحزن عليها إذا فقدها
وعبد هو في الحال بالمحول: فذلك عبد الله لا عبد الحال، وهو الذي لا يأس عليها إذا فقدها، ولا يفرح إذا وجدها
فقوله تعالى: {ومن الناس من يعبد الله على حرف} أي على وجهة واحدة، فان زالت طاعته، وانفصلت موافقته، ولو فهم عنا لعبدنا على كل حالة وفي كل وجهة، كما انه ربك تعالى في كل حال كذلك، فكن له عبدا في جميع الأحوال
فقوله سبحانه وتعالى: {فان أصابه خير اطمأن به} أي إن أصابه خير مما يلائم نفسه هو في نظره خير، وقد يكون شرا في نفس الأمر {وان أصابته فتنة انقلب} أي فقد ذلك الخير الذي كان به مطمئنا، وسماه فتنة لأن في الفقد اختبار إيمان المؤمن وفي الفقد يظهر أحوال الرجال
فكم من ظان أن غناه بالله، وإنما غناه بوجود أسبابه، وتعدادات اكتسابه؟
وكم من ظان أن انسه بربه، وإنما انسه بحاله، دليل ذلك فقدانه لأنسه عند فقدان حال. فلو كان انسه بربه لدام انسه بدوامه، ولبقي ببقائه. وقوله تعالى: {خسر الدنيا والآخرة}
خسر الدنيا بفقدان ما أراد منها، وخسر الآخرة، لأنه لم يعمل لها، فقد فاته ما طلبه وهو ما طلبنا حتى نكون له، فافهم


Dikisahkan ada seseorang yang memiliki sepupu perempuan yang telah dijodohkan dengannya sejak kecil. Namun setelah dewasa, terjadi sesuatu yang menghalangi pernikahan tersebut, lalu sepupunya itu menikah dengan pria lain. Maka datanglah sebagian Ahlul Fahm (orang berilmu) kepadanya dan berkata: "Sepatutnya engkau meminta maaf kepada suami yang menikahi sepupumu itu. Karena sebenarnya engkaulah yang sempat 'mengincar' istri orang lain, sebab wanita itu adalah istrinya (si suami tersebut) sejak zaman azali."

Cukuplah bagi seorang mukmin peringatan agar tidak menyesali apa yang telah luput, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah di tepi (dengan sikap ragu-ragu); maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu cobaan, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11).

Allah Ta’ala mencela orang yang merasa tenang (puas) dengan benda-benda saat benda itu ada di tangannya. Tidakkah engkau melihat bagaimana Allah berfirman: "maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah (tenang) ia dalam keadaan itu."

Maksudnya, ia merasa tenang dengan kebaikan (duniawi) tersebut. Seandainya ia paham, niscaya ia tidak akan merasa tenang dengan sesuatu pun selain Allah Ta’ala, dan ketenangannya hanyalah kepada Allah semata. Demikian pula bagi orang yang bersedih saat kehilangan, karena firman-Nya: "dan jika ia ditimpa oleh suatu cobaan (fitnah)."

Fitnah di sini adalah hilangnya sesuatu yang diinginkan yang tadinya membuatnya tenang. "Berbaliklah ia ke belakang," maksudnya akalnya menjadi bingung, jiwanya merana, dan hatinya lalai. Hal itu tidak lain disebabkan karena kurangnya makrifat (pengenalan) kepada Allah Ta’ala. Seandainya ia mengenal Allah, niscaya Allah akan mencukupinya dari segala yang ada, dan ia akan merasa kaya dengan Allah dari segala yang hilang.

Barangsiapa yang kehilangan Allah, maka ia tidak akan menemukan apa pun (sebagai pengganti). Dan barangsiapa yang menemukan Allah, maka ia tidak kehilangan sesuatu pun.


"Dan bagaimana mungkin akan merasa kehilangan sesuatu, bagi orang yang menemukan Dzat yang di tangan-Nya lah kekuasaan (malakut) segala sesuatu?

Bagaimana mungkin akan merasa kehilangan sesuatu, bagi orang yang menemukan Dzat yang mewujudkan (al-muujid) segala sesuatu?

Bagaimana mungkin akan merasa kehilangan sesuatu, bagi orang yang menemukan Dzat yang nampak (al-zhahir) pada segala sesuatu?

Maka segala sesuatu selain Allah, menurut pandangan Ahlu al-Ma’rifah (orang yang mengenal Allah), tidaklah disifati dengan 'ada' (wujud) maupun 'hilang' (faqd). Karena pada hakikatnya tidak ada sesuatu pun selain Dia bersama-Nya, disebabkan ketetapan keesaan-Nya (ahadiyyah). Sesuatu itu tidak dianggap 'hilang' karena selain Dia memang tidak pernah 'ada' (secara hakiki). Dan seandainya tirai ilusi (hijab al-wahm) tersingkap, niscaya akan nampaklah kenyataan atas ketiadaan benda-benda (faqd al-a’yan), dan niscaya cahaya keyakinan akan terbit sehingga ia akan menutupi keberadaan alam semesta (al-akwan).

Jika engkau telah memahami hal ini, maka sepatutnya bagimu wahai hamba, untuk tidak merasa sedih atas hilangnya sesuatu, dan jangan pula engkau merasa tenang dengan keberadaan sesuatu. Karena barangsiapa yang menemukan sesuatu lalu merasa tenang dengannya, atau kehilangan sesuatu lalu bersedih karenanya, maka sungguh ia telah membuktikan penghambaannya kepada sesuatu tersebut; yang keberadaannya membuat ia gembira dan ketiadaannya membuat ia berduka.

Maka pahamilah di sini sabda Nabi Muhammad SAW: "Celakalah penyembah dinar, celakalah penyembah dirham, celakalah penyembah pakaian (al-khamishah). Celakalah ia dan tersungkurlah, dan jika ia tertusuk duri, semoga tidak dapat mencabutnya."

Maka, janganlah engkau membiarkan di dalam hatimu—wahai Mukmin—berkuasa sesuatu apa pun selain cinta kepada Allah dan kasih sayang-Nya. Karena engkau jauh lebih mulia daripada menjadi hamba bagi selain-Nya. Allah telah menjadikanmu seorang hamba yang mulia, maka janganlah engkau menjadi hamba yang hina.

Sungguh, Ahlul Fahm (orang-orang yang memiliki pemahaman mendalam) tentang Allah Ta’ala telah enggan membiarkan diri mereka merasa tenang karena mendapatkan sesuatu atau menoleh karena kehilangan sesuatu. Hal itu mereka lakukan demi memurnikan penghambaan mereka dan demi mensahihkan kemerdekaan mereka dari segala sesuatu selain Allah.

Aku mendengar guru kami, Abu al-Abbas—semoga Allah merahmatinya—berkata: "Seseorang yang berada dalam suatu kondisi (al-hal) terbagi menjadi dua kelompok: hamba yang terpaku pada kondisi ('abdun huwa fi al-hal bi al-hal*), dan hamba yang fokus pada Dzat yang merubah kondisi ('abdun huwa fi al-hal bi al-muhawwil).*

Adapun hamba yang terpaku pada kondisi: ia adalah hamba yang merasa gembira jika mendapatkan kondisi tersebut, dan bersedih jika kehilangannya.

Sedangkan hamba yang fokus pada Dzat yang merubah kondisi: dialah hamba Allah yang sesungguhnya, bukan hamba kondisi. Ia adalah orang yang tidak bersedih saat kondisi itu hilang, dan tidak pula bersikap congkak (merasa memiliki) saat kondisi itu ada." "Firman Allah Ta’ala: {Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah di tepi}, maksudnya adalah menyembah hanya pada satu sisi saja. Jika ketaatan itu hilang (keinginannya tidak terpenuhi), maka putuslah kesesuaiannya (hubungannya dengan ibadah tersebut). Seandainya mereka paham tentang kami (hakikat ketuhanan), niscaya mereka akan menyembah Kami dalam setiap keadaan dan dalam setiap sisi, sebagaimana Dia adalah Tuhanmu dalam setiap keadaan. Maka jadilah hamba bagi-Nya dalam segala situasi.

Adapun firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala: {maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu}, maksudnya adalah jika ia mendapatkan kebaikan yang sesuai dengan keinginan nafsunya, maka ia menganggapnya sebagai kebaikan (sejati), padahal bisa jadi dalam hakikat perkara tersebut hal itu adalah keburukan baginya.

{dan jika ia ditimpa oleh suatu cobaan (fitnah), berbaliklah ia}, maksudnya adalah kehilangan kebaikan yang sebelumnya membuatnya tenang. Allah menamainya sebagai 'fitnah' (ujian/cobaan) karena di dalam kehilangan itulah nampak ujian keimanan seorang mukmin; sebab dalam kehilangan itulah karakter asli seorang pria (hamba) akan terlihat.

Betapa banyak orang yang menyangka bahwa kekayaannya berasal dari Allah, padahal kekayaannya hanyalah karena adanya sebab-sebab (duniawi) dan banyaknya hasil usahanya.

Dan betapa banyak orang yang menyangka bahwa ia merasa tenang dengan Tuhannya, padahal ketenangannya hanyalah pada kondisinya (hal). Bukti dari hal tersebut adalah hilangnya rasa tenang itu saat kondisinya hilang (misal saat jatuh miskin atau sakit). Seandainya ketenangannya itu benar-benar bersama Tuhannya, niscaya ketenangannya akan kekal karena kekalnya Allah, dan akan tetap ada karena tetap adanya Allah.

Firman Allah Ta’ala: {Rugilah ia di dunia dan di akhirat}.

Ia rugi di dunia karena kehilangan apa yang ia inginkan dari dunia tersebut, dan ia rugi di akhirat karena ia tidak beramal untuk akhiratnya. Maka luputlah darinya apa yang ia cari (dunia) dan luput pula apa yang Kami minta darinya agar ia menjadi milik Kami. Maka pahamilah."

 

 

 <<Sebelumnya

Selanjutnya>>

Bab ke 10

Silahkan Bagikan Artikel ini

Mohon Maaf, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya iklan adsen. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih. Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.

Artikel Terkait :

Ditulis oleh:SHOLICHUL HAKIM on

Maret 26, 2026

Terjemah Kitab Tanwir al Qulub BAB III : Ruh itu urusan Tuhan

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Terjemah Kitab Tanwir al Qulub BAB III :

Ruh itu urusan Tuhan

 
(ومما يجب اعتقاده) 
أن أجل كل ذي روح بحسب علم الله واحد لا تعدد فيه ، وأن كل مقتول لم يمت إلا بحسب انقضاء أجله
 في الوقت الذي علم الله تعالى أزلا حصول موته فيه ، وأنه لو لم يقتل لمات في ذلك الوقت قال الله تعالى : ( فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ ) واعلم أن الروح مما استأثر الله تعالى بعلمه ، ولم يطلع عليه أحداً من خلقه ، قال تعالى : ( وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي ) أى مما استأثر الله بعلمه إظهاراً لعجز المرء حيث لم يعلم حقيقة نفسه التي بين جنبيه مع القطع بوجودها ، فيرد العلم إليه سبحانه وتعالى مع الإقرار بالعجز عن إدراك مالم يطلعه الله عليه ، ولم يخرج النبي صلى الله عليه وسلم من الدنيا حتى أطاعه الله تعالى على جميع ما أبهمه علينا إلا أنه أمره بكتم البعض ، والإعلام بالبعض الآخر ، فالأولى الكف عن الخوض في حقيقة الروح ، ولا يجوز البحث عنها بأكثر من أنها موجودة لقوله تعالى: ( وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ) وهذه طريقة ابن عباس وأكثر السلف ، ويجرى عليها الوقف عن الجزم بمحل مخصوص لها من البدن . وهناك فرقة ثانية تكلمت فيها وبحثت عن حقيقتها . قال النووى : وأوضحما قيل فيها على هذه الطريقة ما قاله إمام الحرمين : إنها جسم لطيف شفاف حي لذاته مشتبك بالأجسام الكثيفة اشتباك الماء بالعود الأخضر

Kita harus yakin bahwa dalam ilmu Allah Ta’ala, ajal semua yang bernyawa itu satu, tidak berbilang. Orang yang terbunuh tidak akan mati selain karena ajalnya yang—di dalam pengetahuan Allah Ta alatelah purna di saat dia terbunuh itu, yang kalaupun bukan karena sebab terbunuh, dia tetap akan mati pada waktu itu. Allah Ta’ala berfirman, “Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mendahulukannya. “
 
Ketahuilah bahwa ruh merupakan hal yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala, dan Dia tidak menyilakan seorang pun makhluk untuk bisa melihatnya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”? Yakni, ruh merupakan urusan yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala, untuk menunjukkan betapa lemahnya manusia hingga tidak dapat melihat hakikat dirinya padahal nyata adanya. Allah mengembalikan pengetahuan tentang ruh itu kepada Diri-Nya disertai penegasan akan ketidakmampuan siapa pun untuk mengetahui sesuatu yang tidak Dia beri pengetahuan tentangnya.
 
Rasulullah saw. beranjak dari dunia ini setelah Allah Ta’ala memperlihatkan semua hal yang Dia samarkan bagi kita (termasuk di antaranya urusan ruh). Hanya saja Allah menyuruh beliau untuk menyembunyikan sebagian dan memberitahukan sebagian lainnya. Yang terbaik bagi kita adalah menahan diri agar tidak terlalu dalam membahas hakikat yuh. Kita tidak boleh membahasnya lebih dari sekadar mengetahui bahwa ruh itu nyata adanya, karena Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. ”Ini adalah sikap yang dipilih oleh Ibnu Abbas dan kebanyakan ulama salaf. Mereka juga tidak berusaha memasii. kan tempat tertentu (satu bagian tententu) di dalam badan sebagai tem: pat menetap ruh.
 
Ada memang kelompok lain yang berbicara tentang ruh, bahkan berusaha meneliti hakikatnya. Tetapi an-Nawawi berkata, “Pendapat yang dianggap paling unggul mengenai masalah ruh adalah pendapat Imam al-Haramain. Beliau mengatakan bahwa ruh adalah jisim halus nan lembut yang hidup dan menubuh di jasad kasar seperti air menubuh di kayu yang segar.”

  

 <<Sebelumnya

Selanjutnya>>

Daftar Isi 

Download Terjemah Kitab Tanwirul Qulub

Download Kitab Tanwirul Qulub (arab)

Silahkan Bagikan Artikel ini

Mohon Maaf, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya iklan adsen. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih. Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.

Artikel Terkait :

Ditulis oleh:SHOLICHUL HAKIM on Maret 26, 2026

Maret 25, 2026

Download ebook Tafsir Al-Quran di Medsos Karya (Gus Nadir) Nadirsyah Hosen

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

 

Tafsir Al-Qur’an di Medsos: Membaca Kalam Ilahi di Era Digital

Karya Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D.
 
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi dengan ilmu agama, termasuk dalam mempelajari tafsir Al-Qur’an. Jika dulu umat Islam harus berangkat ke majelis taklim atau pesantren untuk mendengarkan para kiai dan ulama menafsirkan ayat-ayat suci, kini dakwah hadir di genggaman tangan. Melalui gawai, kita bisa mendengarkan ceramah, membaca tafsir, bahkan berdiskusi tentang agama kapan saja dan di mana saja—di tengah kemacetan, di ruang tunggu, atau bahkan menjelang tidur. Fenomena ini tentu membawa kemudahan luar biasa dalam menyebarkan ilmu dan nilai-nilai Islam di era modern.

Namun, kemudahan ini juga melahirkan tantangan baru: banjir informasi agama yang tidak semuanya benar. Banyak tafsir atau penjelasan Al-Qur’an yang beredar di media sosial tanpa landasan keilmuan yang kuat. Sebagian besar hanya bersandar pada terjemahan literal tanpa memahami konteks asbabun nuzul (sebab turunnya ayat) atau kaidah ilmu tafsir. Dalam kondisi ini, Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, atau yang akrab dikenal dengan Gus Nadir, hadir dengan karyanya Tafsir Al-Qur’an di Medsos untuk mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam memahami kalam Allah. Beliau menegaskan bahwa tafsir Al-Qur’an tidak bisa dilepaskan dari ilmu, sanad, dan tradisi ulama yang telah diwariskan turun-temurun dalam bingkai Ahlussunnah wal Jamaah.

Silahkan Download ebooknya Disini

https://drive.google.com/file/d/1_g04WJj3SAbgolq-mnimwG6so9VVGyQj/view?usp=sharing

Daftar EBOOK LAINNYA

Silahkan Bagikan Artikel ini

Mohon Maaf, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya iklan adsen. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih. Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.

Artikel Terkait :

Ditulis oleh:SHOLICHUL HAKIM on Maret 25, 2026

Kitab Iqazh al-Himam BAB 1: Allah Menampakkan Diri Kepada Hamba-Nya

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Allah Menampakkan Diri Kepada Hamba-Nya

تجلى الله للعبد

ولما كانت التعرفات القهرية ظاهرها جلال وباطنها جمال لما يعقبها من أوصاف الكمال  وربما يشك المريد فيها وعد الحق عليها من الخيرات ومارتب عليها من الفتوحات ، نبه الشيخ على ذلك فقال :[ إذا فتح لك وجهة من التعرف فلا تبال معها إن قل عملك ، فإنه ما فتحها لك إلا وهو يريد أن يتعرف إليك ، ألم تعلم أن التعرف هو مورده عليك والأعمال أنت مهديها إليه ؟ وأين ماتهديه إليه مما هو مورده عليك] 
فتح هنا : بمعنى هيأ ويسر ، والغالب استعماله في الخير ، فأشعر الإتيان به هنا أن جهة التعريف من الأمور الجميلة ، والوجهة : هي الجهة ، والمراد هنا الباب والمدخل . والتعريف : طلب المعرفة ، تقول تعرف لى فلان : إذا طلب منى معرفته ، والمعرفة : تمكن حقيقة العلم بالمعروف من القلب حتى لا يمكن الانفكاك عنه بحال ، والمبالاة التهمم بقوات الشيء
قلت : إذا تجلى لك الحق تعالى باسمه الجليل أو باسمه القهار وفتح لك منها بابا ووجهة لتعرفه منها ، فاعلم أن الله تعالى قد اعتنى بك وأراد أن يجتبيك لقربه ويصطفيك لحضرته ، فالتزم الأدب معه بالرضا والتسليم ، وقابله بالفرحوالسرور ؛ ولا تبال بما يفوتك بها معها من الأعمال البدنية ، فإنما هي وسيلة للأعمال القلبية ، فإنه مافتح هذا الباب إلا وهو يريد أن يرفع بينك وبينه الحجاب . ألم تعلم أن التعرفات الجلالية هو الذي أوردها عليك لتكون عليه واردا ، والأعمال البدنية أنت مهديها إليه لتكون إليه بها واصلا ، وفرق كبير بين ما تهديه أنت من الأعمال المدخولة والأحوال المعلولة ، وبين ما يورده عليك الحق تعالى من تحف المعارف الربانية والعلوم اللدنية ، فطب نفسسًا أيها المريد بما ينزل عليك من هذه التعرفات الجلالية والنوازل القهرية ، ومثل ذلك كالأمراض والأوجاع والشدائد والأهوال ، وكل ما يثقل على النفس ويؤلمها كالفقر والذل وأذية الخلق وغير ذلك مما تكرهه النفوس ، فكل ما ينزل بك من هذه الأمور فهى نعم كبيرة ومواهب غزيرة تدل على قوة صدقك ، إذ بقدر ما يعظم الصدق يعظم التعرف : « أَشَدُّكُمْ بَلَاءِ الْأَنْبِيَاءِ ، فَالْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ

والصدق متبوع ، وإذا أراد الله أن يطوى مسافة البعد بينه وبين عبده سلط عليه البلاء ، حتى إذا تخلص وتشحر صلح للحضرة كما تصفى الفضة والذهب بالنار لتصلح الخزانة الملك ، ومازال الشيوخ والعارفون يفرحون بهذه النوازل ويستعدون لها في كسب المواهب . وكان شيخ شيوخنا سيدى على العمراني رضى الله عنه يسميها ليلة القدر ويقول : كل الحيزة هي ليلة القدر التي هي خير من ألف شهر ، وذلك لأجل ما يجتنيه العبد منها من أعمال القلوب ، التي الذرة منها أفضل من أمثال الجبال من أعمال الجوارح ، وقد قلت في ذلك بيتين وهما 

إِذَا طَرَقَتْ بَابِي مِنَ الدَّهْرِ فَاقَة ٌ  فَتَحْتُ لَهَا بَابَ الْمَسَرَّةِ وَالْبِشْرِ
وَقُلْتُ لَهَا أَهْلًا وَسَهْلًا وَمَرْحَبًا   فَوَقْتُكِ عِنْدِي أَحْظَى مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Karena pengenalan-pengenalan yang bersifat memaksa (qahriyyah) di luarnya adalah keagungan dan di dalamnya adalah keindahan—berdasarkan sifat-sifat kesempurnaan
yang dihasilkannya—dan mungkin seorang murid ragu terhadap kebaikan yang dijanjikan Hakikat atasnya serta pembukaan-pembukaan yang ditetapkan atasnya, syaikh memberi peringatan tentang itu dan berkata:


إذا فتح لك وجها من التعرف فلا تبال معها إن قل عملك، فإنه ما فتحها عليك إلا وهو يريد أن يتعرف إليك، ألم تعلم أن التعرف هو مورده عليك، و الأعمال أنت تهديها إليه، و أين ما تهديه إليه مما هو مورده عليك

“Jika dibukakan bagimu satu arah dari pengenalan, jangan pedulikan sedikitnya amalmu bersamanya. Sebab, Dia tidak membukakannya atasmu kecuali karena Dia ingin mengenalkan diri kepadamu. Tidakkah engkau tahu bahwa pengenalan adalah apa yang Dia datangkan kepadamu, sedangkan amal-amal adalah apa yang engkau hadiahkan kepada-Nya? Di mana apa yang engkau hadiahkan kepada-Nya dibandingkan dengan apa yang Dia datangkan kepadamu?”
 

Fath di sini berarti mempersiapkan dan memudahkan, yang umumnya digunakan untuk kebaikan. Penggunaannya di sini mengisyaratkan bahwa arah pengenalan termasuk perkara-perkara indah. Wajhah adalah arah, dan yang dimaksud di sini adalah pintu dan jalan masuk.

 Ta‘arruf adalah pencarian pengenalan. Dikatakan, “Ta‘arraf lī fulān,” jika seseorang meminta pengenalan dariku. Ma‘rifah adalah kemantapan hakikat ilmu tentang yang dikenal di hati sehingga tidak dapat dipisahkan darinya dengan cara apa pun.  

Mubālāh adalah kepedulian terhadap hilangnya sesuatu.
Jika Hakikat Yang Maha Tinggi menampakkan diri kepadamu dengan nama-Nya yang Agung atau nama-Nya yang Maha Memaksa, dan membukakan bagimu darinya satu pintu dan arah untuk mengenal-Nya, ketahuilah bahwa Allah Yang Maha Tinggi telah memperhatikanmu dan ingin memilihmu untuk kedekatan-Nya serta memilihmu untuk hadirat-Nya. Maka, peganglah adab bersama-Nya dengan keridhaan dan penyerahan, sambutlah dengan kegembiraan dan kebahagiaan, dan jangan pedulikan apa yang terlewat darimu bersamanya dari amal-amal jasmani. Sebab, itu hanyalah sarana untuk amal-amal qalbu. Dia tidak membuka pintu ini kecuali karena Dia ingin mengangkat hijab antara engkau dan Dia. Tidakkah engkau tahu bahwa pengenalan-pengenalan keagungan adalah apa yang Dia datangkan kepadamu agar engkau menjadi orang yang datang kepada-Nya,
sedangkan amal-amal jasmani adalah apa yang engkau hadiahkan kepada-Nya agar engkau sampai kepada-Nya dengannya? 

Ada perbedaan besar antara apa yang engkau hadiahkan dari amal-amal yang cacat dan keadaan-keadaan yang lemah dengan apa yang didatangkan Hakikat Yang Maha Tinggi kepadamu dari hadiah-hadiah pengenalan rabbani dan ilmuilmu ilahi. Maka, tenangkan nafsumu, wahai murid, dengan apa yang turun kepadamu
dari pengenalan-pengenalan keagungan dan kejadian-kejadian yang memaksa ini, seperti penyakit, rasa sakit, kesulitan, ketakutan, dan segala yang memberatkan nafsu serta menyakitinya, seperti kemiskinan, kehinaan, gangguan makhluk, dan lain-lain yang dibenci nafsu. Segala yang menimpamu dari perkara-perkara ini adalah nikmat besar dan karunia melimpah yang menunjukkan kekuatan kejujuranmu. Sebab, sebesar kejujuran itu, sebesar pula pengenalannya. ‘
Yang paling berat cobaannya adalah para nabi, lalu yang semisal, lalu yang
semisal.’
Kejujuran itu diikuti. Jika Allah ingin melipat jarak jauh antara Dia dan hambaNya, Dia timpakan cobaan kepadanya hingga, ketika ia telah bersih dan murni, ia layak untuk hadirat, sebagaimana perak dan emas dimurnikan dengan api agar layak untuk perbendaharaan raja. Para syaikh dan gnostic (al-arif) selalu bergembira dengan kejadian kejadian ini dan bersiap untuknya demi memperoleh karunia. Guru dari guru kami, Sidi Ali al-‘Imrani—semoga Allah meridhainya—menamakannya Lailatul Qadar dan berkata, ‘Kesulitan adalah Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan,’ karena apa yang
diperoleh hamba darinya dari amal-amal hati, yang satu zarahnya lebih baik dari gunungan amal jasmani. Aku telah mengatakan dalam hal ini dua bait:

 
Jika kefakiran dari zaman mengetuk pintuku,
Aku bukakan baginya pintu kegembiraan dan keceriaan.
Aku katakan kepadanya, “Selamat datang dan sambutan hangat,”
Waktumu bagiku lebih beruntung dari Lailatul Qadar.
 

 واعلم أن هذه التعرفات الجلالية هي اختبار من الحق ومعيار للناس ، وبها تعرف الفضة والذهب من النحاس ، فكثير من المدعين يظهرون على ألسنتهم المعرفة واليقين ، فإذا وردت عليهم عواصف رياح الأقدار ألقتهم في مهاوي
القنط والإنكار . من ادعى ماليس فيه فضحته شواهد الامتحان . وكان شيخ شيخنا مولاى العربى رضى الله عنه يقول : العجب كل العجب ممن يطلب معرفة الله ويحرص عليها ، فإذا تعرف له الحق تعالى هرب منه وأنكره
وقال شيخنا اليزيدى رضى الله عنه : هذه التعرفات الجلالية على ثلاثة أقسام : قسم عقوبة وطرد ، وقسم تأديب وتنبيه ، وقسم زيادة وترق ، أما الذي هو عقوبة وطرد ، فهو الذي يسيء الأدب فيعاقبه الحق تعالى ويجهل فيها . فيسخط ويقنط وينكر ، فيزداد من الله طردًا وبعدا . وأما القسم الذي هو تأديب ، فهو يسيء الأدب فيؤدبه الحق تعالى فيعرفه فيها وينتبه لسوء أدبه وينهض من غفلته ، فهى فى حقه نعمة في مظهر النقمة ، وأما الذي هي في حقه زيادة وترق ، فهو الذى تنزل به هذه التعرفات من غير سبب فيعرف فيها ويتأدب معها ويترقى بها إلى مقام الرسوخ والتمكين اهـ بالمعنى
قلت : ولذلك قال بعضهم : بقدر الامتحان يكون الامتكان . وقال أيضًا : اختبار الباقي يقطع التباقي

فائدة : إذا أردت أن يسهل عليك الجلال فقابله بضده وهو الجمال فإنه ينقلب جمالا في ساعته . وكيفية ذلك : أنه إذا تجلى باسمه القابض في الظاهر فقابله أنت بالبسط في الباطن فإنه ينقلب بسطًا . وإذا تجلى لك باسمه القوى فقابله أنت بالضعف ، أو تجلى باسمه العزيز فقابله بالذل في الباطن ، وهكذا يقابل الشيء بضده قيامًا بالقدرة والحكمة  وكان شيخ شيخنا مولاى العربي رضى الله عنه يقول : ماهي إلا حقيقة واحدة إن شربتها عسلا وجدتها عسلا ، وإن شربتها لبنا وجدتها لبنا ، وإن شربتها حنظلا وجدتها حنظلا ، فاشرب يا أخى المليح ولا تشرب القبيح اهـ
ومعنى كلامه رضى الله عنه هو كما تقدم : كما تقابله يقابلك ، والله تعالى أعلم

Ketahuilah bahwa pengenalan-pengenalan keagungan (ta‘arrufāt jalāliyyah) ini adalah ujian dari Hakikat dan tolok ukur bagi manusia. Dengannya dapat dikenali perak dan emas dari tembaga. Banyak dari para pengaku menampakkan pengenalan dan keyakinan di lidah
mereka, tetapi ketika badai keuntungan takdir menerpa mereka, itu melemparkan mereka ke dalam jurang keputusasaan dan pengingkaran. Barang siapa mengaku apa yang tidak ada padanya, maka bukti-bukti ujian akan mempermalukannya.
Guru dari guru kami, Maulay al-Arabi—semoga Allah meridhainya—berkata, “Sungguh mengherankan, sangat mengherankan, orang yang mencari pengenalan kepada Allah dan tamak terhadapnya, tetapi ketika Hakikat Yang Maha Tinggi mengenalkan diri kepadanya, ia lari darinya dan mengingkarinya.”
Syaikh kami al-Buzaidi—semoga Allah meridhainya—berkata, “Pengenalanpengenalan keagungan ini terbagi atas tiga jenis: jenis hukuman dan pengusiran, jenis pendisiplinan, dan jenis peningkatan dan kenaikan. Jenis yang merupakan hukuman dan pengusiran adalah yang dialami oleh orang yang berbuat buruk dalam adab, lalu Hakikat
Yang Maha Tinggi menghukumnya. Ia tidak menyadarinya, sehingga ia murka, putus asa, dan mengingkari, maka ia semakin dijauhkan dan diusir dari Allah. Jenis yang merupakan pendisiplinan adalah yang dialami oleh orang yang berbuat buruk dalam adab, lalu Hakikat
Yang Maha Tinggi mendisiplinkannya. Ia menyadarinya dan terbangun dari kelalaiannya atas buruknya adabnya, lalu bangkit dari kelupaan. Maka, itu baginya adalah nikmat dalam wujud musibah. Jenis yang merupakan peningkatan dan kenaikan adalah yang menimpa
seseorang tanpa sebab, lalu ia menyadarinya, beradab dengannya, dan naik dengannya ke maqam keteguhan dan kemantapan.” Demikian dijelaskan secara
maknawi.
Oleh karena itu, sebagian berkata, ‘Sebesar ujian, sebesar pula kemantapan.’ Ia juga berkata, ‘Ujian dari Yang Kekal memutuskan segala yang tersisa.’

 
Faidah: Jika engkau ingin keagungan menjadi mudah bagimu, hadapilah dengan lawannya, yaitu keindahan, maka ia akan berubah menjadi keindahan pada saat itu juga. Caranya adalah jika Dia menampakkan diri dengan nama-Nya al-Qābidh (Yang
Menyempitkan) di zahir, hadapilah dengan
al-Basith (pelebaran) di batin, maka ia akan berubah menjadi pelebaran. Jika Dia menampakkan diri kepadamu dengan nama-Nya al-Qawiyy (Yang Maha Kuat), hadapilah dengan kelemahan. Jika Dia menampakkan diri dengan nama-Nya al-‘Azīz (Yang Maha Perkasa), hadapilah dengan kehinaan di batin.

Demikianlah, sesuatu dihadapi dengan lawannya demi menegakkan kekuasaan dan hikmah. Guru dari guru kami, Maulay al-Arabi—semoga Allah meridhainya—berkata, ‘Itu hanyalah satu hakikat. Jika engkau meminumnya sebagai madu, engkau akan mendapatinya
madu. Jika engkau meminumnya sebagai susu, engkau akan mendapatinya susu. Jika engkau meminumnya sebagai hanzhal (buah yang sangat susah dilupain), engkau akan mendapatinya hanzhal. Maka, minumlah yang indah, wahai saudaraku, dan jangan minum yang buruk.’ Makna ucapannya—semoga Allah meridhainya—adalah sebagaimana engkau menghadapinya, ia akan menghadapimu.
Wallahu A’lam

 

 <<Sebelumnya 

Sesudahnya>>

 Daftar Isi

Silahkan Download Kitab Aslinya Disini

 Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini

Silahkan Bagikan Artikel ini

Mohon Maaf, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya iklan adsen. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih. Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.

Artikel Terkait :

Ditulis oleh:SHOLICHUL HAKIM on
« Next
Prev »
Beranda
Lihat versi web

Donasi

Tulisan Terbaru

Silahkan Di subcribe

YANG PALING BANYAK DIBUKA

  • Download Kitab Kuning Klasik (dengan Makna ala Pesantren/Makna Petuk)بالمعنى على فسانترين
  • DOWNLOAD KITAB SYARAH FATHUL QORIB (MAKNA PESANTREN)
  • DOWNLOAD TILAWATIL-QUR'AN bersama H. MUAMMAR ZA. dan H. CHUMAIDI
  • Download Kitab Hasyiyah Showi juz 1 (حاشية الصاوى على تفسير الجلالين )Makna ala Pesantren
  • Download Kitab Matan Ghoyah wat Taqrib (Dengan makna ala Pesantren) متن الغاية والتقريب مع الترجمة
  • Daftar Kitab Kuning makna ala pesantren /Makna Petuk Pdf (2)
  • Download Kitab Kifayatul atqiya’ (Dengan Makna Ala Pesantren) كفاية الأتقياء

DOWNLOAD KITAB KHUSUS ARAB

Isi Blog PPA Yg Bisa di Download

KITAB KLASIK PENGAJIAN mp3 TAUSYYAH
  • 1* Download Al-Quran Digital dan terjemahan Untuk PC dan HP

  • 2* KITAB KUNING MAKNA ala PESATREN

  • 3* KITAB KUNING KLASIK ala PESANTREN

  • 4* KITAB-KITAB HADITS

  • 5* KITAB-KITAB TERJEMAH

  • `6* KITAB KUNING PESATREN mp3

  • 7* BAHTSUL MASA'IL PONDOK PESANTREN

  • 8* Ebook islami

  • 9* KITAB IRSYADUL-'IBAD mp3

  • 10* KITAB KUNING KHUSUS ANDROID dan HP java

  • 1. AL HIKAM mp3. KH.ABD WAHID ZUHDY

  • 2. KISAH PERANG BADAR mp3, KH ABD WAHID ZUHDY

  • 3. SULAMUTTAUFIQ mp3, KH ABD WAHID ZUHDY

  • 4. FIQIH/'UBUDYYAH mp3, KH ABD WAHID ZUHDY

  • 5. Pengajian Gus Mus Kitab Nashoihul Ibad (mp3)

  • 6. PENGAJIAN,MANAQIB,ISTIGHOTSAH KH.ASRORY

  • 7. TERJEMAH IHYA' ULUMUDDIN mp3

  • 8. DOWNLOAD VIDEO & MP3 AUROD PPA

  • 9. SHOLAWATAN H.MUAMMAR ZA mp3

  • 10. MUROTTAL H.MUAMMAR ZA. dll. mp3

  • 11. QIRO'TUL QUR'AN H.MUAMMAR ZA dll. mp3

  • 12.SHOLAWAT ala HABIB SYECH BIN ABDUL QODIR

  • 13.SHOLAWAT,NASYID,QOSIDAH,PUISI




  • HAUL PONDOK PETA

  • PUISI TERBAIK GUS MUS

  • TAUSIYYAH HABIB UMAR MUTOHHAR

  • KH ASRORI AL-ISHAQY

  • HABIB LUTHFI BIN YAHYA

  • TAUSIYYAH HABIB NAUFAL SOLO



  • Like Fb PPa

    PANJENENGAN TAMU INGKANG KAPING

    Niki Kulo

    Foto Saya
    SHOLICHUL HAKIM
    Khodim Padepokan Padang Ati (PPA)
     Lihat profil lengkapku

    Sahabat PPa

    MONGGO SHOLAT

    Copyright © 2012 Padepokan Padang Ati (ppa) - All Rights Reserved
    Design by AS HAKIM PPA - Blogger Templates - Powered by Blogger