بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
الرسالة القشيرية
Bab Wasiat untuk Para Murid
(Fasal-Fasal)
فَصْلٌ
ولا ينبغي للمريدِ أنْ يعتقدَ في المشايخِ العصمةَ ، بلِ الواجبُ أنْ يذَرَهُْم وأحوالَهُمْ ، فيحسِنَ بهِمُ الظنَّ (١) ، ويراعيَ معَ اللَّهِ تعالىٰ حدَّهُ فيما يتوجَّهُ عليهِ مِنَ الأمرِ ، والعلمُ كافيةٍ في التفرقةِ بينَ ما هوَ محمودٌ وما هوَ معلولٌ .ا
Fasal
Dan tidak sepatutnya bagi seorang
murid untuk menganggap bahwa para syekh (guru) itu memiliki sifat ‘ishmah
(terjaga dari dosa). Sebaliknya, kewajiban murid adalah membiarkan para syekh
dengan keadaan (spiritual) mereka, selalu berprasangka baik kepada mereka,
serta tetap menjaga batasan hukum Allah Taala dalam setiap urusan yang
ditujukan kepadanya. Adapun ilmu sudah cukup menjadi pembeda antara hal yang
terpuji dan hal yang cacat/rusak.
فَصْلٌ
وكلُّ مريدٍ بَقِيَ في قلبِهِ لشيءٍ مِنْ عُروضِ الدنيا مقدارٌ وخَطَرٌ .. فاسمُ الإرادةِ لهُ مجازٌ ، وإذا بقِيَ في قلبِهِ اختيارٌ فيما يخرجُ عنهُ مِنْ معلومِه ، ويُريدُ أنْ يخصَّ بهِ نوعاً مِنْ أنواعِ البِرِّ ، أوْ شخصاً دونَ شخصٍ .. فهو متكلِّفٌ في حالِه ، وبالخَطَرِ أنْ يعودَ سريعاً إلى الدنيا ؛ لأنَّ قصدَ المريدِ في حذفِ العلائقِ الخروجُ منها ، لا السعيُ في أعمالِ البِرِّ . ا ا
وقبيحٌ بالمريدِ أنْ يخرجَ مِنْ معلومِه مِنْ رأسِ مالِه وقُنْيَتِهِ ثمَّ يكونَ أسيرَ حرفةٍ . ا
وينبغي أنْ يستويَ عندَهُ وجودُ ذلكَ وعدمُهُ ؛ حتَّى لا ينافرَ لأجلِهِ فقيراً (٢) ، ولا يضايِقَ بهِ أحداً ولوْ مجوسِيّاً . ا
Fasal
Setiap murid yang di dalam hatinya
masih tersisa penilaian atau anggapan berharga terhadap kesenangan/perhiasan
dunia.. maka sebutan "kehendak spiritual" (iradah) padanya
hanyalah bersifat kiasan (majaz). Dan jika di dalam hatinya masih ada
keinginan memilih dalam menginfakkan hartanya yang ia ketahui, lalu ia ingin
mengkhususkannya untuk bentuk kebaikan tertentu saja, atau kepada seseorang dan
bukan yang lain.. maka ia tergolong orang yang memaksakan diri (mutakallif)
dalam keadaannya, dan sangat berbahaya baginya untuk segera kembali terikat
pada dunia; karena tujuan murid dalam memutus keterikatan adalah benar-benar
keluar darinya, bukan sekadar berupaya melakukan amal-amal kebaikan.
Dan sangat buruk bagi seorang murid
jika ia telah mendermakan harta pokok dan simpanannya, namun setelah itu ia
justru menjadi tawanan dari suatu mata pencaharian/pekerjaan duniawi.
Dan hendaknya baginya sama saja
antara keberadaan harta tersebut maupun ketiadaannya; sehingga ia tidak
menjauhi seorang miskin pun lantaran hal itu, dan tidak
mempersulit/memperhitungkan harta itu kepada siapa pun, meskipun kepada seorang
Majusi.
فَصْلٌ
وقَبُولُ قلوبِ المشايخِ للمريدِ أصدقُ شاهدٍ لسعادتِهِ ، ومَنْ ردَّهُ قلبُ شيخٍ مِنَ الشيوخِ .. فلا محالةَ أنَّهُ يرىٰ غِبَّ ذلكَ ولوْ بعدَ حينٍ (١) . ا
ومَنْ خُذِلَ بترْكِ حُرْمةِ الشيوخِ .. فقدْ أظهرَ رَقْمَ شقاوتِه (٢) ، وذلكَ لا يخطئُ . ا
Fasal
Penerimaan hati para syekh terhadap
seorang murid adalah bukti paling jujur bagi kebahagiaan/keberuntungannya. Dan
barang siapa yang ditolak oleh hati salah seorang syekh.. maka ia pasti akan
merasakan akibat buruknya, meskipun setelah beberapa waktu.
Dan barang siapa yang terpuruk
akibat meninggalkan rasa hormat kepada para syekh.. maka sungguh telah tampak
tanda kesengsaraannya, dan hal itu tidak pernah meleset.
فَصْلٌ
ومِنْ أصعَبِ الآفَاتِ في هذِهِ الطريقةِ : صُحبةُ الأحدَاثِ ، ومَنِ ابتلاهُ اللَّهُ تعالىٰ بشيءٍ مِنْ ذلكَ .. فبإجماعِ الشيوخِ ذلكَ عبدٌ أهانَهُ اللَّهُ وخَذَلَهُ ، بلْ عنْ نفسِهِ شغَلَهُ ، ولوْ بألفِ ألفِ كرامةٍ أهَّلَهُ .ا
وهَبْ أنَّهُ بلغَ رتبةَ الشهداءِ لِما في الخبرِ مِنْ تلويحٍ بذلكَ .. أليسَ قدْ شُغِلَ ذلكَ القلبُ بمخلوقٍ ؟! .ا
وأصعبُ مِنْ ذلكَ : تهوينُ ذلكَ علَى القلبِ ، حتَّى يعُدَّ ذلكَ يسيراً ، وقدْ قالَ اللَّهُ تعالىٰ : ﴿ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمٌ ﴾ . ا
وهذا الواسطيُّ رحمهُ اللَّهُ يقولُ : ( إذا أرادَ اللَّهُ هَوانَ عبدٍ .. ألقاهُ إلىٰ هؤُلاءِ الأنتانِ والجِيَفِ ) .
سمعتُ أبا عبدِ اللَّهِ الصوفيَّ يقولُ : سمعتُ محمدَ بنَ أحمدَ النَّجَّارَ يقولُ : سمعتُ أبا عبدِ اللَّهِ الحُضْرِيَّ يقولُ : سمعتُ فتحاً الموصليَّ يقولُ : صحبتُ ثلاثينَ شيخاً كانوا يُعدُّونَ مِنَ الأبدالِ ، كلُّهُم أوصَوْني عندَ فراقي إيَّاهُم وقالوا : اتَّقِ معاشرةَ الأحداثِ .ا
ومَنِ ارتقَىٰ في هذا البابِ عنْ حالةِ الفسْقِ ، وأشارَ إلىٰ أنَّ ذلكَ مِنْ بلاءِ الأرواحِ ، وأنَّهُ لا يضرُّ ، وما قالوهُ مِنْ وساوسِ القائلينَ بالشاهدِ ، وإيرادِ حكاياتٍ عنِ الشيوخِ بما كانَ الأولىٰ بهِم إسبالَ السَّتْرِ علَى هناتِهِم وآفاتِهِم .. فذلِكَ نظيرُ الشركِ وقرينُ الكفرِ .ا
فليحذرِ المريدُ مِنْ مجالسةِ الأحداثِ ومخالطتِهِم ؛ فإنَّ اليسيرَ منهُ فتحُ بابِ الخُذْلانِ ، وبدءُ حالِ الهِجْرانِ ، ونعوذُ باللَّهِ مِنْ قضاءِ السوءِ .ا
Fasal
Dan di antara bahaya/penyakit paling
berat dalam jalan spiritual (thariqah) ini adalah: berteman dekat dengan
orang-orang muda/pemula (al-ahdats). Barang siapa yang diuji oleh Allah
Taala dengan hal tersebut.. maka berdasarkan kesepakatan seluruh syekh, ia
adalah hamba yang telah dihinakan dan ditelantarkan oleh Allah, bahkan Allah
telah memalingkannya dari dirinya sendiri, meskipun Allah telah memuliakannya
dengan sejuta keramat.
Andaikata ia mencapai derajat para
syuhada sebagaimana diisyaratkan dalam sebuah riwayat.. bukankah hati tersebut
telah disibukkan oleh makhluk?!
Dan yang lebih berat dari itu
adalah: menganggap remeh hal tersebut di dalam hati, hingga menganggapnya
sebagai perkara sepele, padahal Allah Taala berfirman: "Kamu
menganggapnya sesuatu yang ringan saja, padahal ia di sisi Allah adalah sangat
besar." (QS. An-Nur: 15).
Al-Wasiti rahimahullah
berkata: "Apabila Allah menghendaki kehinaan bagi seorang hamba.. Dia
akan melemparnya kepada orang-orang yang busuk dan bangkai-bangkai ini."
Aku mendengar Abu Abdillah Ash-Shufi
berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ahmad An-Najjar berkata: Aku mendengar Abu
Abdillah Al-Hudhri berkata: Aku mendengar Fath Al-Maushili berkata: "Aku
telah bersahabat dengan 30 syekh yang tergolong sebagai wali Abdal, semuanya
berwasiat kepadaku ketika aku berpisah dengan mereka, kata mereka: 'Takutlah
kamu dari bergaul dengan orang-orang muda/pemula (al-ahdats).'"
Barang siapa yang merasa dirinya
telah naik derajat dalam hal ini melebihi keadaan kefasikan, lalu
mengisyaratkan bahwa hal itu bagian dari ujian jiwa/roh serta tidak berbahaya,
atau menggunakan dalih-dalih berupa wawasan mistis/persaksian (syahid),
serta menyampaikan kisah-kisah dari para syekh tentang hal-hal yang seharunya
ditutupi cela dan kekhilafannya.. maka hal itu adalah setara dengan kesyirikan
dan berdampingan dengan kekufuran.
Maka hendaklah seorang murid
berhati-hati dari duduk bersama dan bergaul dengan orang-orang muda/pemula (al-ahdats);
karena sedikit saja darinya dapat membuka pintu keterpurukan (khudzlan)
dan menjadi awal dari keadaan penderitaan/keterasingan spiritual (hijran).
Dan kita berlindung kepada Allah dari ketetapan takdir yang buruk.
فَصْلٌ
ومِنْ آفاتِ المريدِ ما يتداخلُ النفسَ مِنْ خفِيِّ الحسَدِ للإخوانِ ، والتأثُّرِ بما يفردُ اللَّهُ بهِ أشْكالَهُ مِنْ هذِه الطريقةِ ، وحرمانِهِ إيَّاهُ ذلكَ .ا
ولْيعلمْ : أنَّ الأُمورَ قِسَمٌ ، وإنَّما يتخلَّصُ العبدُ عنْ هذا باكتفائِهِ بوجودِ الحقِّ سبحانَهُ وقدمِه عنْ مقتضَىٰ جودِه ونعمِه .ا
فكلُّ مَنْ رأيتَ - أيُّها المريدُ - قدَّمَ الحقُّ سبحانَهُ رتبتَهُ .. فاحمِلْ أنتَ غاشيتَهُ ؛ فإنَّ الظرفاءَ مِنَ القاصدينَ علَى ذلكَ استمرَّتْ سنَّتُهُم .ا
Fasal
Dan di antara bahaya/penyakit murid
adalah apa yang menyusup ke dalam jiwa berupa dengki yang tersembunyi (khafi)
kepada sesama saudaranya, serta merasa terpengaruh/iri terhadap keistimewaan
yang diberikan Allah kepada orang-orang yang setara dengannya dalam jalan ini,
sementara dirinya dihalangi dari keistimewaan tersebut.
Dan hendaklah ia tahu: Bahwa segala
urusan itu telah dibagi-bagi. Seorang hamba hanya akan terbebas dari hal ini
dengan merasa cukup atas wujud dan keabadian Allah Yang Mahasuci, ketimbang
sekadar mengharapkan tuntutan kedermawanan dan kenikmatan-Nya.
Maka siapa pun yang engkau lihat
—wahai murid— telah didahulukan kedudukannya oleh Allah Yang Mahasuci.. maka
bawakanlah pelananya (layanilah ia dengan rendah hati); karena sungguh
orang-orang yang bijak di antara para pencari kebenaran senantiasa menjalankan
tradisi/kebiasaan seperti itu.
فَصْلٌ
واعلمْ : أنَّ مِنْ حقِّ المريدِ إذا اتفقَ وقوعُهُ في جَمْعٍ : إيثارُ الكلِّ بالكلِّ ؛ فيقدِّمُ الجائعَ والشبعانَ علَى نفسِه ، ويَتلمَذُ لكلِّ مَنْ أظهرَ عليهِ التشيُّخَ وإنْ كانَ هوَ أعلمَ منهُ ، ولا يصِلُ إلىٰ ذلِكَ إلَّا بتبرِّيهِ عنْ حولِه وقوَّتِه ، وتوصُّلِهِ إلىٰ ذلِكَ بطَوْلِ الحقِّ ومَنِّهِ . ا
Fasal
Dan ketahuilah: Bahwa di antara hak
kewajiban seorang murid apabila berada di dalam suatu majelis/perkumpulan
adalah: mengutamakan semua orang secara total daripada dirinya sendiri. Maka ia
harus mendahulukan orang yang lapar maupun yang kenyang melebihi dirinya
sendiri, serta berguru/menjadi murid kepada siapa pun yang menampakkan
kedudukan sebagai guru (tasyayyukh) kepadanya meskipun ia lebih berilmu
daripada orang tersebut. Dan ia tidak akan bisa mencapai tingkatan itu
melainkan dengan berlepas diri dari daya dan upayanya sendiri, serta
mencapainya hanya dengan karunia dan anugerah Allah semata.
فَصْلٌ
وأمَّا آدابُ المريدِ في السماعِ : فالمريدُ لا تسلَمُ لهُ الحركةُ في السماعِ بالاختيارِ أَلبتَّةَ ، فإنْ وردَ عليهِ واردٌ حرَّكَهُ ، ولمْ يكنْ فيهِ فضلُ قوَّةٍ .. فبمقدارِ الغَلبَةِ يُعذَرُ ، فإذا زالَتِ الغَلَبَةُ .. يجبُ عليهِ القعودُ والسكونُ ، فإنِ استدامَ الحركةَ مستجلِباً للوجْدِ مِنْ غيرِ غلبةٍ وضرورةٍ .. لمْ يصِحَّ ، فإنْ تعوَّدَ ذلِكَ .. يبقَىٰ متخلِّفاً لا يُكاشَفُ بشيءٍ مِنَ الحقائقِ ، فغايةُ أحوالِهِ حينئذٍ أنْ يطَيِّبَ قلبَهُ .ا
وفي الجملةِ : إنَّ الحركةَ تأخُذُ مِنْ كلِّ متحرِّكٍ وتُنقِصُ مِنْ حالِه ، مريداً كانَ أوْ شيخاً ، إلَّا أنْ يكونَ بإشارةٍ مِنَ الوقتِ ، أوْ غلبةٍ تأخُذُ عنِ التمييزِ .ا
فإنْ كانَ مريداً أشارَ عليهِ الشيخُ بالحركةِ فتحرَّكَ علَى إشارتِه .. فلا بأسَ إذا كانَ الشيخُ ممَّنْ لهُ حكمٌ علَى أمثالِهِ .ا
وأمَّا إذا أشارَ عليهِ الفقراءُ بالمساعدةِ في الحركةِ .. فيساعدُهُم في القيامِ ، وفي أدنىٰ ما لا يجدُ منهُ بُدّاً ممَّا يُراعي عنِ الاستيحاشِ قلوبَهُم .ا
ثمَّ إنَّ صدْقَهُ في حالِه يمنعُ قلوبَ الفقراءِ مِنْ سؤالِهِم عندَ المساعدةِ معَهُم . ا
Fasal
Adapun adab-adab murid dalam sima'
(mendengarkan lantunan/alunan spiritual): Seorang murid sama sekali tidak
dibenarkan bergerak (raqs/menari spiritual) dalam sima'
berdasarkan kehendak pilihannya sendiri. Jika datang kepadanya suatu
perasaan/kondisi spiritual (warid) yang menggerakkannya, sedangkan ia
tidak lagi memiliki sisa kekuatan untuk menahannya.. maka ia dimaklumi sejauh
tingkat gejolak (ghalabah) yang menguasainya. Namun jika gejolak
tersebut telah hilang.. wajib baginya untuk kembali duduk dan tenang. Apabila
ia terus melanggengkan gerakan dengan sengaja memancing-mancing rasa haru (wajd)
tanpa adanya gejolak yang menguasai dan tanpa darurat.. maka hal itu tidak sah.
Jika ia terbiasa melakukan hal itu.. ia akan tetap tertinggal dan tidak akan
tersingkap baginya hakikat-hakikat spiritual sedikit pun; sehingga puncak
keadaannya saat itu hanyalah sekadar menyenangkan/mensedapkan hatinya saja.
Kesimpulannya: Bahwa gerakan (dalam sima')
itu akan mengurangi kedudukan dari setiap orang yang bergerak dan menurunkan
kualitas keadaannya (hal), baik ia seorang murid maupun seorang syekh;
kecuali jika gerakan itu terjadi karena isyarat dari kondisi waktu (waqt),
atau gejolak spiritual yang melenyapkan daya pembeda/kesadarannya.
Maka jika ia seorang murid yang
diperintahkan oleh gurunya untuk bergerak, lalu ia bergerak karena mengikuti
isyarat gurunya.. maka hal itu tidak mengapa, apabila syekh tersebut termasuk
orang yang memiliki wewenang hukum atas orang-orang sepertinya.
Adapun jika orang-orang fakir (kaum
sufi) memintanya untuk membantu/bersama-sama bergerak.. maka ia membantu mereka
dengan berdiri, atau sekadar melakukan tindakan paling minim yang tidak bisa ia
hindari demi menjaga agar hati mereka tidak merasa asing/kecewa.
Kemudian, kesungguhan kejujurannya
dalam keadaan spiritualnya akan mencegah hati orang-orang fakir dari
menuntut/mempertanyakan hal itu saat ia berpartisipasi bersama mereka.
فَصْلٌ
وأمَّا طرْحُ الخِرْقَةِ .. فحقُّ المريدِ ألَّا يرجعَ في شيءٍ خرجَ منهُ ألبَتَّةَ ، اللهمَّ ؛ إلَّا أنْ يشيرَ عليهِ شيخٌ بالرجوعِ فيهِ ، فيأخُذَهُ علَى نيَّةِ العارِيَّةِ بقلبِه ، ثمَّ يخرجُ عنه بَعدُ مِنْ غيرِ أنْ يستوحِشَ قلبُ ذلكَ الشيخِ . ا
وإذا وقعَ بينَ قومٍ عادتُهُم طرْحُ الخِرَقِ ، وعلمَ أنَّهُم يرجعونَ فيهِ ؛ فإنْ لمْ يكنْ فيهِم شيخٌ تجِبُ حِشْمتُهُ وحُرمتُهُ ، وكانَ طريقُ هذا المريدِ ألَّا يعودَ في الخِرَقِ .. فالأحسنُ أنْ يساعدَهُم في الطرْحِ ، ثمَّ يؤثِرَ بهِ القَوَّالَ إذا رجعوا هم فيها .ا
ولوْ لمْ يطْرَحْ .. فإنَّهُ يجوزُ إذا علمَ مِنْ عادةِ القومِ أنَّهُم يعودونَ فيما طرحوا ؛ فإنَّ القبيحَ إنَّما هوَ سنَّتُهُم في العَوْدِ إلى الخِرَقِ ، لا مخالفتُهُ لهُم ، علَى أنَّ الأولىٰ الطرْحُ علَى الموافقةِ ، ثمَّ تَرْكُ الرجوعِ فيهِ . ا
ولا يُسلَّمُ للمريدِ ألبَتَّةَ التقاضي علَى القَوَّالِ (١) ؛ لأنَّ صدْقَ حالِهِ يحملُ القَوَّالَ علَى التكرارِ ، ويحملُ غيرَهُ علَى الاقتضاءِ . ا
ومَنْ تبرَّكَ بمريدٍ .. فقدْ جارَ عليهِ ؛ لأنَّهُ يضرُّهُ ؛ لقلَّةِ قوَّتِهِ ، فالواجبُ علَى المريدِ تَرْكُ تربيةِ الجاهِ عندَ مَنْ قالَ بترْكِهِ وإثباتِهِ (٢) . ا
Fasal
Adapun mengenai pelepasan/pencopotan
jubah spiritual (tharh al-khirqah).. maka hak kewajiban seorang murid
adalah sama sekali tidak mengambil kembali apa yang telah ia
lepaskan/keluarkan. Kecuali jika seorang syekh memerintahkannya untuk
mengambilnya kembali, maka ia mengambilnya dengan niat sekadar meminjam di
dalam hatinya, kemudian ia melepaskannya kembali setelah itu tanpa membuat hati
syekh tersebut merasa kecewa/asing.
Dan apabila ia berada di antara
suatu kaum yang kebiasaan mereka melepaskan jubah spiritual dan ia tahu bahwa
mereka akan mengambilnya kembali; lalu jika di antara mereka tidak ada seorang
syekh yang wajib dihormati dan disegani, sementara jalan murid ini adalah tidak
mengambil kembali jubah yang telah dilepas.. maka yang lebih baik adalah ia
menyertai/membantu mereka dalam melepaskan jubah, kemudian menyerahkan jubah
itu kepada pelantun syair (qawwal) ketika mereka mengambil kembali jubah
mereka.
Dan seandainya ia tidak melepaskan
jubahnya.. maka hal itu diperbolehkan apabila ia tahu dari kebiasaan kaum
tersebut bahwa mereka akan mengambil kembali apa yang mereka lepaskan; sebab
hal yang buruk sebenarnya adalah tradisi mereka dalam mengambil kembali jubah
tersebut, bukan sikap murid yang menyelisihi mereka. Meski demikian, yang utama
adalah tetap melepaskan jubah sebagai bentuk keselarasan (muwafaqah),
lalu tidak mengambilnya kembali.
Dan sama sekali tidak dibenarkan
bagi murid untuk menuntut/meminta pelantun syair (qawwal) mengulang
bacaannya; karena kejujuran keadaan spiritual murid itulah yang seharusnya
mendorong sang qawwal untuk mengulanginya secara spontan, serta
mendorong orang lain untuk memintanya.
Dan barang siapa yang mengambil
keberkahan dari seorang murid.. sungguh ia telah berbuat zalim/beban kepadanya;
karena hal itu membahayakannya akibat masih lemahnya kekuatan spiritual murid
tersebut. Maka wajib bagi murid untuk meninggalkan pemupukan
kedudukan/keduniaan (jah) di hadapan orang yang berpendapat untuk
meninggalkan maupun menetapkannya.
فَصْلٌ
وإنِ ابتُلِيَ مريدٌ بجاهٍ ، أوْ معلومٍ ، أوْ صحبةِ حَدَثٍ ، أوْ ميلٍ إلىٰ امرأةٍ ، أوِ استنامةٍ إلىٰ معلومٍ ، وليسَ هناكَ شيخٌ يدلُّهُ علَى حيلةٍ يتخلَّصُ بها مِنْ ذلكَ .. فعندَ ذلكَ حلَّ لهُ السفرُ والتحوُّلُ عنْ ذلكَ الموضعِ ؛ ليُشَوِّشَ علَى نفسِه تلكَ الحالةَ (٣) . ا
ولا شيءَ أضرُّ لقلوبِ المريدينَ مِنْ حصولِ الجاهِ لهُم قبلَ خمودِ بشريَّتِهِم . ا
ومِنْ آدابِ المريدِ : ألَّا يسبقَ علمُهُ في هذِه الطريقةِ منازلتَهُ (٤) ، فإنَّهُ إذا تعلَّمَ سيرَ هذِه الطائفةِ ، وتكلَّفَ الوقوفَ علَى معرفةِ مسائلِهِم وأحوالِهِم قبلَ تحقُّقِهِ بها بالمنازلةِ والمعاملةِ .. بعُدَ وصولُهُ إلىٰ هذِه المعاني ، ولهذا قالَ المشايخُ : إذا حدَّثَ العارفُ عنِ المعارفِ .. فجهِلُوهُ ؛ فإنَّ الإخبارَ عنِ المنازلِ دونَ المعارفِ . ا
ومَنْ غلَبَ علمُهُ منازلتَهُ .. فهو صاحبُ علمٍ ، لا صاحبُ سلوكٍ . ا
Fasal
Dan apabila seorang murid diuji
dengan kedudukan/keduniaan, harta/pencaharian yang pasti, pergaulan dengan
pemula/orang muda, kecenderungan kepada wanita, atau menyandarkan diri pada
harta/pengetahuan tertentu, sedangkan di sana tidak ada seorang syekh yang
menunjukkan cara/solusi untuk terbebas darinya.. maka pada saat itulah
dihalalkan baginya untuk bepergian (safar) dan berpindah dari tempat
tersebut; demi mengacaukan/memutus keadaan nafsu tersebut dari dirinya.
Dan tidak ada sesuatu pun yang lebih
berbahaya bagi hati para murid daripada memperoleh kedudukan/popularitas
sebelum padamnya sifat-sifat kebiasaan manusianya (basyariyyah).
Dan di antara adab seorang murid
adalah: hendaknya ilmunya tentang jalan spiritual ini tidak mendahului
kedudukan pencapaian spiritualnya (manazil). Sebab apabila ia
mempelajari perjalanan kelompok (sufi) ini dan memaksakan diri untuk mengetahui
masalah-masalah serta keadaan-keadaan mereka sebelum ia benar-benar mencapainya
melalui pengalaman batin (manazilah) dan perbuatan nyata (mu'amalah)..
maka akan semakin jauh pencapaiannya menuju hakikat makna-makna tersebut. Oleh
karena itu, para syekh berkata: "Apabila seorang 'arif (orang yang
bijak) berbicara tentang makrifat.. lalu mereka menganggapnya bodoh; karena
berita tentang maqam/kedudukan spiritual itu berbeda dari makrifat itu
sendiri."
Dan barang siapa yang ilmunya mengalahkan/mendahului
pencapaian batinnya (manazil).. maka ia adalah pemilik ilmu (konsep),
bukan pemilik perjalanan spiritual (salik).
فَصْلٌ
ومِنْ آدابِ المريدينَ : ألَّا يتعرَّضوا والتصدُّرِ ، وألَّا يكونَ لهُم تلميذٌ أوْ مريدٌ ؛ فإنَّ المريدَ إذا صارَ مُراداً قبْلَ خُمودِ بشريَّتِه وسقوطِ آفَتِهِ .. فهو محجوبٌ عنِ الحقيقةِ ، لا تنفعُ أحداً إشارَتُهُ وتكليمُهُ . ا
Fasal
Dan di antara adab para murid
adalah: hendaknya mereka tidak menonjolkan diri untuk memimpin/mengajar (tashaddur),
dan tidak memiliki murid atau pengikut. Sebab seorang murid, apabila ia menjadi
sosok yang diinginkan (murad) sebelum padamnya sifat-sifat kebiasaan
manusianya (basyariyyah) dan sebelum gugurnya bahaya/penyakit dirinya..
maka ia masih terhalang (mahjub) dari hakikat, sehingga isyarat maupun
pengajarannya tidak akan memberi manfaat kepada siapa pun.
فَصْلٌ
وإذا خدَمَ المريدُ الفقراءَ .. فخواطِرُ الفقراءِ رسُلُهُم إليهِ ، فلا ينبغي أنْ يخالِفَ المريدُ ما حكمَ باطنُهُ عليهِ مِنَ الخُلوصِ في الخدمةِ ، وبذْلِ الوُسْعِ والطاقةِ . ا
Fasal
Dan apabila seorang murid berkhidmat
kepada orang-orang fakir (kaum sufi).. maka bisikan/terbitan hati orang-orang
fakir tersebut adalah utusan mereka kepadanya. Maka tidak sepatutnya bagi murid
untuk menyelisihi apa yang telah ditetapkannya dalam batinnya berupa keikhlasan
dalam berkhidmat serta mencurahkan segenap kemampuan dan tenaganya.
فَصْلٌ
ومِنْ شأنِ المريدِ إذا كانَ طريقُهُ خدمةَ الفقراءِ : الصبرُ علَى جفاءِ القومِ معَهُ ، وأنْ يعتقدَ أنَّهُ يبذلُ روحَهُ في خدمتِهِم ثمَّ لا يحمدونَ لهُ أثراً ، فيعتذِرُ إليهِم مِنْ تقصيرِهِ ، ويقرُّ بالجنايةِ علَى نفسِهِ تطييباً لقلوبِهِم وإنْ علمَ أنَّهُ بريءُ الساحةِ (١) . ا
سمعتُ الإمامَ أبا بكرٍ ابنَ فُورَكٍ رحمهُ اللَّهُ يقولُ : إنَّ في المثلِ : ( إذا لمْ تصبرْ علَى المطرقةِ .. فلماذا كنتَ سندانَاً ؟! ) . ا
وفي معناهُ أنشدوا : رُبَّمَا جِئْتُهُ لأَسْتَلِفَ الْعُذْ *** رَ لِبَعْضِ الذُّنُوبِ قَبْلَ التَّجَنِّي
Fasal
Dan di antara perkara yang harus
dimiliki seorang murid jika jalannya adalah berkhidmat kepada orang-orang
fakir: bersabar atas sikap kasar/dingin kaum sufi terhadapnya, serta meyakini
bahwa ia telah mencurahkan jiwanya dalam berkhidmat kepada mereka namun mereka
tidak memuji jasanya sedikit pun. Maka ia tetap meminta maaf kepada mereka atas
kekurangannya, dan mengakui kesalahan pada dirinya sendiri demi menyenangkan
hati mereka, meskipun ia tahu bahwa dirinya tidak bersalah (bari'us-sahah).
Aku mendengar Imam Abu Bakar bin
Furak rahimahullah berkata: "Sesungguhnya dalam sebuah
peribahasa disebutkan: 'Jika engkau tidak mampu bersabar menahan pukulan
martil.. lalu mengapa engkau menjadi landasannya?!'"
Dan mengenai makna peribahasa ini,
mereka menuturkan syair (bermeter Al-Khafif):
"Boleh jadi aku mendatangi
beliau untuk meminta udzur (maaf)...
Atas sebagian dosa sebelum tuduhan itu dialamatkan padaku."
فَصْلٌ
وبناءُ هذا الأمرِ ومِلَاكُهُ : علَى حفظِ آدابِ الشريعةِ ، وصَوْنِ اليدِ عنِ المدِّ إلىٰ الحرامِ والشبهةِ ، وحفظِ الحواسِّ عنِ المحظوراتِ ، وعَدِّ الأنفسِ معَ اللَّهِ تعالىٰ عنِ الغَفَلاتِ ، وألَّا يستحِلَّ سِمْسِمَةً فيها شبهةٌ في أوانِ الضروراتِ ، فكيفَ عندَ الاختيارِ ووقتِ الراحاتِ ؟! ا
ومِنْ شأْنِ المريدِ : دوامُ المجاهدةِ في تركِ الشهواتِ ؛ فإنَّ مَنْ وافقَ شهوتَهُ .. عَدِمَ صفوتَهُ.ا
وأقبحُ الخصالِ بالمريدِ : رجوعُهُ إلىٰ شهوةٍ تركَها للَّهِ تعالىٰ .ا
Fasal
Dan fondasi serta inti (tiang utama)
dari perkara (jalan tasawuf) ini adalah: menjaga adab-adab syariat, memelihara
tangan dari mengulurkannya kepada hal yang haram dan syubhat, menjaga panca
indra dari hal-hal yang dilarang, memperhitungkan setiap helaan napas bersama
Allah Taala dari kelalaian, serta tidak menganggap halal sebutir biji wijen (simsimah)
yang mengandung syubhat di dalamnya pada saat kondisi darurat; lalu bagaimana
mungkin (seseorang menganggapnya halal) ketika ia bebas memilih dan dalam
situasi kelapangan/santai?!
Dan di antara perkara yang harus ada
pada murid adalah: terus-menerus bersungguh-sungguh (mujahadah) dalam
meninggalkan syahwat/hawa nafsu; sebab barang siapa yang menuruti syahwatnya..
ia akan kehilangan kesucian hatinya (shafwah).
Dan sifat yang paling buruk pada
diri seorang murid adalah: kembalinya ia kepada syahwat yang pernah ia
tinggalkan karena Allah Taala.
فَصْلٌ
ومِنْ شأْنِ المريدِ : حفظُ عهودِه معَ اللَّهِ تعالىٰ ؛ فإنَّ نقْضَ العهْدِ في طريقِ الإرادةِ كالرِّدَّةِ عنِ الدِّينِ لأهلِ الظاهرِ. ا
ولا ينبغي للمريدِ أنْ يعاهدَ اللَّهَ عزَّ وجلَّ علَى شيءٍ باختيارِه ما أمكَنَهُ ؛ فإنَّ في لوازمِ الشرعِ ما يستوفي منهُ كلَّ وُسْعٍ ، قالَ اللَّهُ تعالىٰ في صفةِ قومٍ : ﴿ٱبۡتَدَعُوهَا مَا كَتَبۡنَٰهَا عَلَيۡهِمۡ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ رِضۡوَٰنِ ٱللَّهِ﴾ ، ثمَّ قالَ : ﴿فَمَا رَعَوۡهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا﴾ (١). ا
Fasal
Dan di antara perkara yang harus
dijaga seorang murid adalah: menepati janji-janjinya kepada Allah Taala; sebab
merusak/membatalkan janji dalam jalan spiritual (thariq al-iradah) itu
seperti murtad dari agama bagi orang-orang ahli lahir.
Namun, tidak sepatutnya bagi seorang
murid untuk berjanji/berprakarsa janji kepada Allah Azza wa Jalla atas
sesuatu berdasarkan pilihannya sendiri selagi ia memungkinkan; sebab
kewajiban-kewajiban syariat saja sudah cukup menyerap seluruh kemampuannya.
Allah Taala berfirman menggambarkan tentang suatu kaum: "…mereka
mengada-adakannya, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka melainkan
untuk mencari keridaan Allah," kemudian Allah berfirman: "…tetapi
mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya." (QS.
Al-Hadid: 27)
فَصْلٌ
ومِنْ شأْنِ المريدِ : قصْرُ الأملِ ؛ فإنَّ الفقيرَ ابنُ وقتِه ، فإذا كانَ لهُ تدبيرٌ في المستقبلِ ، وتطلُّعٌ لغيرِ ما هوَ فيهِ مِنَ الوقتِ ، وأملٌ فيما يستأنِفُهُ .. لا يجيءُ منهُ شيءٌ. ا
Fasal
Dan di antara perkara yang harus ada
pada murid adalah: pendek angan-angan (qashr al-amal); sebab seorang فقير (sufi) adalah 'anak dari waktunya' (ibn
waqtih). Apabila ia sibuk merencanakan masa depan, memandang pada selain
keadaan waktunya saat ini, dan menggantungkan angan-angan pada apa yang akan
datang.. maka tidak akan menghasilkan kebaikan apa pun darinya.
فَصْلٌ
ومِنْ شأْنِ المريدِ : ألَّا يكونَ [لهُ] (٢) معلومٌ وإنْ قلَّ ، لا سيَّما إذا كانَ بينَ الفقراءِ ؛ فإنَّ ظلمةَ المعلومِ تطفِئُ نورَ الوقتِ. ا
Fasal
Dan di antara perkara yang harus ada
pada murid adalah: hendaknya ia tidak memiliki harta/penghasilan yang tetap (ma'lum)
meskipun sedikit, terlebih lagi jika ia berada di tengah-tengah kaum fakir;
sebab kegelapan dari keterikatan harta/pencaharian itu dapat memadamkan cahaya
spiritual waktunya (nur al-waqt).
فَصْلٌ
ومِنْ شأْنِ المريدِ - بلْ مِنْ طريقةِ سالكي هذا المذهبِ - : ترْكُ قَبولِ رِفْقِ النِّسوانِ (٣) ، فكيفَ التعرُّضُ لاستجلابِ ذلِكَ ؟! ا
علَى هذا درجَ شيوخُهُم ، وبذلِكَ نفذَتْ وصاياهُـم ، ومَنِ استصغرَ هذا .. فعمَّا قريبٍ يلقَىٰ ما يُفْتَضَحُ فيهِ. ا
Fasal
Dan di antara perkara yang harus ada
pada murid — bahkan termasuk metode para penempuh jalan (salik) mazhab
ini — adalah: meninggalkan penerimaan pemberian/kelembutan dari kaum wanita,
maka bagaimana mungkin ia malah sengaja memancing/mencari-cari hal tersebut?!
Atas dasar inilah para syekh mereka
berjalan, dan dengan itulah wasiat-wasiat mereka terlaksana. Barang siapa yang
menganggap remeh hal ini.. maka dalam waktu dekat ia akan menemui hal yang
membuat dirinya terhalang/terbongkar keburukannya.
فَصْلٌ
ومِنْ شأْنِ المريدِ : التباعدُ عنْ أبناءِ الدنيا ؛ فإنَّ صحبتَهُم سمٌّ مجرَّبٌ ؛ لأنَّهُم ينتفعونَ بهِ وهوَ ينتقصُ بهِم ، قالَ اللَّهُ تعالىٰ : ﴿وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُۥ عَن ذِكۡرِنَا﴾. ا
وإنَّ الزهَّادَ يخرجونَ المالَ عنِ الكيسِ تقرُّباً إلىٰ اللَّهِ تعالىٰ ، وأهلُ الصفاءِ يخرجونَ الخلقَ والمعارفَ مِنَ القلبِ تحقُّقاً باللَّهِ عزَّ وجلَّ. ا
قالَ الأستاذُ الإمامُ أبو القاسمِ رضيَ اللَّهُ عنهُ : فهذِهِ وصيَّتُنا إلىٰ المريدينَ ، نسألُ اللَّهَ تعالىٰ لهُمُ التوفيقَ ، وألَّا يجعلَها وبالاً علينا. ا
وقدْ نجزَ لنا إملاءُ هذِه الرسالةِ في أواكِلِ سنةِ ثمانٍ وثلاثينَ وأربعِ مئةٍ ، نسألُ اللَّهَ الكريمَ ألَّا يجعلَها علينا حُجَّةً ووبالاً ؛ إنَّ الفضلَ منهُ مألُوفٌ ، وهوَ بالعفوِ موصوفٌ. ا
Fasal
Dan di antara perkara yang harus ada
pada seorang murid adalah: menjauhkan diri dari orang-orang pemburu dunia (abna'
ad-dunya); sebab bersahabat dengan mereka adalah racun yang telah teruji
bahayanya. Hal itu karena mereka mengambil manfaat darinya, sedangkan ia
sendiri menjadi berkurang (kualitas spiritualnya) akibat bergaul dengan mereka.
Allah Taala berfirman: "…dan janganlah engkau mengikuti orang yang
hatinya telah Kami kelalaikan dari mengingat Kami…" (QS. Al-Kahf: 28).
Dan sesungguhnya orang-orang yang
zuhud mengeluarkan harta dari kantong dompet mereka untuk mendekatkan diri
kepada Allah Taala, sedangkan Ahlus-Shafa' (orang-orang sufi yang
hatinya murni) mengeluarkan makhluk dan kenalan-kenalan dari dalam hati mereka
demi merealisasikan ketakwaan/kesadaran penuh (tahaqquq) kepada Allah Azza
wa Jalla.
Al-Ustadz Al-Imam Abu Qasim (Imam
Al-Qushayri) radhiyallahu 'anhu berkata: "Inilah wasiat kami
kepada para murid, kami memohon kepada Allah Taala semoga memberikan taufik
kepada mereka, dan semoga Allah tidak menjadikannya sebagai beban/bencana bagi
kami."
Dan sungguh telah selesai
penulisan/dikte (imla') risalah ini bagi kami pada awal tahun 438
Hijriah. Kami memohon kepada Allah Yang Mahamulia agar tidak menjadikannya
sebagai hujah yang memberatkan dan beban bencana bagi kami; sesungguhnya
karunia dari-Nya adalah hal yang biasa dilimpahkan, dan Dia Maha Memiliki Sifat
Pemaaf.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.