بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Wasiat No. (57):
Al-Murabathah (Siaga/Konsisten dalam
Kebaikan) Berlaku untuk Setiap Kebaikan
الوصية رقم ا(٥٧)ا:ا
المرابطة تكون لكل خير
عليك بالرباط فإنه من أفضل أحوال المؤمن، فكل إنسان إذا مات يُختم له على عمله إلا المرابط فإنه ينمو له إلى يوم القيامة، ويأمن فتاني القبر، ثبت هذا عن رسول الله ﷺ. والرباط بأن يلزم الإنسانُ نفسَه طاعةَ الله دائماً من غير حدٍّ ينتهي إليه أو يجعله في نفسه، فإذا ربط نفسه بهذا الأمر فهو مرابطٌ، والرباط: في الخير كله، ما يختص به خيرٌ من خير، فالكل سبيلُ الله فإن سبيل الله ما شرع الله لعباده أن يعملوا به، وما يختص بملازمة الثغور فقط، ولا بالجهاد فإن رسول الله ﷺ قال في انتظار الصلاة بعد الصلاة: إنه رباط، والله تعالى يقول في كتابه للمؤمنين ﴿اصبروا وصابروا ورابطوا واتقوا الله﴾ (١) يعني في ذلك كلَّه أي اجعلوه سبحانه وقاية تتقون به العزائم، وذلك معونته في قوله ﴿استعينوا بالصبر والصلاة﴾ (٢) و ﴿استعينوا بالله﴾ (٣) وقوله تعالى ﴿وإياك نستعين﴾ (٤) فهذا معنى ﴿اتقوا الله لعلكم تفلحون﴾ (٥) أي تكون لكم النجاةُ من مشقة الصبر والرباط. وينبغي لك إذا ناجيتَ رسول الله ﷺ - وذلك زمانُ قراءتك الأحاديث المروية عنه ﷺ - أن تُقدِّم بين يدي نجواك صدقةً أي صدقة كانت، فإن ذلك خيرٌ كله، وتطهَّرْ بهذا أمرت، فإن الصدقَاتِ التي نصَّ الشرع عليها كثيرةً، ولذلك ورد أنه يصبح على كل سلامى منا صدقة في كل يوم تطلُّع فيه الشمس، ثم أخبر رسول الله ﷺ أن كُلَّ تهليلة صدقةً، وكلَّ تكبيرة صدقة، وكل تسبيحة صدقة، وكل تحميدة صدقة، وأمرٌ بمعروف صدقة، ونهيٌ عن منكر صدقة، فانظر حالك عندما تريدُ قراءة الحديث النبوي، وهي التي بقيت في العامة من مناجاة الرسول ﷺ، فالذي يُعينُّ لك حالك عند ذلك من الصدقَات تقدمها بين يدي قراءتك الحديث كانت ما كانت، فقد أوسع الله عليك في ذلك فلم يبقَ لك عذرٌ في التخلف بعد أن أعلمك ﷺ بأنواع الصدقات، فقمْ منها بين يدي نجواك ما أعطاه حالك بلغ ما بلغ، وحينئذ تشرعُ في قراءة الحديث النبوي.ا
وإياك أن تُحشَر يومَ القيامة مع المصورين الذين يصورون ذوات الأروّاح من الحيوانات، فإنك إن صورتَ صورَةً من صور الحيوانات تبعها روحها من عند الله من حيث لا تشعر بذلك في الدنيا، فإذا كان في الآخرة يجعل الله لكل مُصوِّر في النار لكل صورة صورها نفساً تعذبه في نار جهنم، فإن الخلق من اختصاص الله، فَمَنْ نازعه في خلقه فإنه يعذبه بما خلق من ذلك، والخلق لله لا لهم إذ لم يكن بإذن الله كخلق عيسى عليه السلام الطير من الطين بإذن الله ونَفَخَ فيه الروح بإذن الله، فلو أذن الله للمُصوِّر في ذلك لكان طاعةً فعلُ ذلك، فاعلم أن كل نفس يوم القيامة بما كسبت رهينة.ا
Hendaklah engkau melakukan ribath
(siaga/istiqamah dalam ketaatan), karena ia termasuk sebaik-baik keadaan
seorang mukmin. Setiap manusia apabila mati, amalannya akan terputus kecuali
orang yang ber-ribath, karena amalannya akan terus bertambah
(berkembang) hingga hari kiamat, serta ia akan aman dari fitnah dua malaikat
penanya di dalam kubur. Hal ini telah valid diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ.
Ribath adalah ketika seseorang senantiasa mewajibkan dirinya untuk
selalu taat kepada Allah tanpa batas waktu tertentu yang membatasinya atau yang
ia tentukan sendiri dalam hatinya. Jika ia telah mengikat dirinya dengan
perkara ini, maka ia adalah seorang murabith (orang yang ber-ribath).
Ribath mencakup seluruh kebaikan; sebagian kebaikan lebih utama daripada
sebagian yang lain, namun semuanya adalah jalan Allah (sabilillah).
Sebab jalan Allah adalah apa yang disyariatkan Allah untuk diamalkan
hamba-hamba-Nya, dan tidak hanya terbatas pada penjagaan pos perbatasan (tsughur)
semata, tidak pula hanya jihad fisik. Rasulullah ﷺ
bersabda tentang orang yang menunggu shalat setelah shalat: (Itu adalah
ribath).
Allah Ta'ala berfirman kepada
orang-orang beriman dalam Kitab-Nya: “Bersabarlah kamu dan kuatkanlah
kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (rabiṭū) dan bertakwalah kepada Allah”,
maksudnya dalam semua urusan tersebut adalah jadikanlah Allah Subhanahu sebagai
perisai yang dengannya engkau menjaga diri dari berbagai tekad/cobaan. Hal itu
merupakan pertolongan-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Mohonlah pertolongan
dengan sabar dan shalat”, dan “Mohonlah pertolongan kepada Allah”,
serta firman-Nya: “Dan hanya kepada-Engkaulah kami memohon pertolongan”.
Inilah makna dari firman-Nya: “Bertakwalah kepada Allah agar kalian
beruntung”, yakni agar kalian mendapatkan keselamatan dari kesulitan
kesabaran dan ribath.
Hendaklah engkau apabila hendak munajat
(berdialog/berinteraksi secara batin) kepada Rasulullah ﷺ—yaitu
pada saat waktu engkau membaca hadits-hadits yang diriwayatkan dari beliau ﷺ—agar
mendahului munajatmu dengan sedekah, sedekah apa pun bentuknya, karena
itu adalah kebaikan seluruhnya. Bersucilah, karena demikianlah engkau
diperintahkan. Sesungguhnya sedekah yang ditegaskan oleh syariat itu sangat
banyak; oleh karena itu diriwayatkan bahwa setiap ruas tulang manusia (salamah)
diwajibkan sedekah atasnya setiap hari tatkala matahari terbit. Kemudian
Rasulullah ﷺ memberitahukan bahwa setiap kalimat tahlil
adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tasbih
adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, berbuat amar makruf
adalah sedekah, dan mencegah dari kemungkaran (nahi mungkar) adalah
sedekah.
Maka perhatikanlah keadaanmu ketika
engkau hendak membaca hadits-hadits Nabi—yang mana tradisi ini merupakan
sisa-sisa adab dari munajat kepada Rasulullah ﷺ. Apa yang dapat
membantu keadaanmu saat itu adalah sedekah-sedekah yang engkau dahulukan di
hadapan bacaan haditsmu, apa pun bentuknya. Allah telah melapangkan bagimu
dalam hal ini, sehingga tidak ada lagi bagimu alasan untuk tertinggal setelah
beliau ﷺ memberitahukanmu tentang berbagai macam
sedekah. Maka keluarkanlah sedekah darinya di hadapan munajatmu sekemampuan
keadaanmu, berapapun jumlahnya, dan pada saat itulah engkau mulai membaca
hadits Nabi.
Dan jauhilah olehmu kelak pada hari kiamat dikumpulkan bersama para perupa/pembuat
gambar (makhluk bernyawa) yang melukis makhluk-makhluk bernyawa dari
kalangan hewan. Sesungguhnya engkau jika melukis satu gambar dari bentuk-bentuk
hewan, kelak ruhnya akan dituntutkan kepadamu dari sisi Allah tanpa engkau
sadari hal itu di dunia. Maka di akhirat nanti, Allah akan menjadikan bagi
setiap pembuat gambar di dalam neraka pada setiap gambar yang ia buat sebuah
jiwa yang akan menyiksanya di dalam neraka Jahanam.
Sesungguhnya penciptaan adalah hak
prerogatif Allah semata, maka barangsiapa yang menandingi-Nya dalam
ciptaan-Nya, Allah akan menyiksanya dengan apa yang ia ciptakan tersebut.
Penciptaan itu adalah milik Allah, bukan milik mereka, karena apa yang mereka
buat tidak dilakukan dengan izin Allah—berbeda dengan mukjizat Nabi Isa 'alaihissalam
yang menciptakan burung dari tanah liat atas izin Allah dan meniupkan ruh ke
dalamnya atas izin Allah. Seandainya Allah memberikan izin kepada pembuat
gambar untuk melakukan hal itu, tentu perbuatan tersebut menjadi ketaatan. Maka
ketahuilah bahwa setiap jiwa pada hari kiamat bertanggung jawab atas apa yang
telah diperbuatnya.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar isi Kitab Wasiat – Wasiat Ibn ‘Arabi
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya iklan adsens. Mohon Keridhoannya untuk ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih. Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Artikel Terkait :