بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Kitab Mukasyafatul Qulub Bab Ke-59.
Tentang Penjelasan Mencela Dunia dan
Peringatan Darinya
البَابُ التَّاسِعُ وَالخَمْسُونَ
فِي بَيَانِ ذَمِّ الدُّنْيَا وَالتَّحْذِيرِ مِنْهَا
رُوِيَ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ البَاهِلِيِّ: أَنَّ ثَعْلَبَةَ بْنَ حَاطِبٍ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ اللهَ أَنْ يَرْزُقَنِي مَالًا. قَالَ: «يَا ثَعْلَبَةُ، قَلِيلٌ تُؤَدِّي شُكْرَهُ، خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ لَا تُطِيقُهُ» قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ اللهَ أَنْ يَرْزُقَنِي مَالًا. قَالَ: «يَا ثَعْلَبَةُ، أَمَا لَكَ فِيَّ أُسْوَةٌ؟ أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِثْلَ نَبِيِّ اللهِ تَعَالَى؟ أَمَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ شِئْتُ أَنْ تَسِيرَ مَعِيَ الجِبَالُ ذَهَبًا وَفِضَّةً لَسَارَتْ» قَالَ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالحَقِّ نَبِيًّا، لَئِنْ دَعَوْتَ اللهَ أَنْ يَرْزُقَنِي مَالًا لَأُعْطِيَنَّ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ، وَلَأَفْعَلَنَّ وَلَأَفْعَلَنَّ
قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «اللَّهُمَّ ارْزُقْ ثَعْلَبَةَ مَالًا» فَاتَّخَذَ غَنَمًا فَنَمَتْ كَمَا يَنْمُو الدُّودُ، فَضَاقَتْ عَلَيْهِ المَدِينَةُ، فَتَنَحَّى عَنْهَا فَنَزَلَ وَادِيًا مِنْ أَوْدِيَتِهَا حَتَّى جَعَلَ يُصَلِّي الظُّهْرَ وَالعَصْرَ فِي الجَمَاعَةِ، وَيَدَعُ مَا سِوَاهُمَا، ثُمَّ نَمَتْ وَكَثُرَتْ، فَتَنَحَّى حَتَّى تَرَكَ الجَمَاعَةَ إِلَّا الجُمُعَةَ، وَهِيَ تَنْمُو كَمَا يَنْمُو الدُّودُ، حَتَّى تَرَكَ الجُمُعَةَ، وَطَفِقَ يَلْقَى الرُّكْبَانَ يَوْمَ الجُمُعَةِ فَيَسْأَلُهُمْ عَنِ الأَخْبَارِ فِي المَدِينَةِ، وَسَأَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنْهُ. فَقَالَ: «مَا فَعَلَ ثَعْلَبَةُ بْنُ حَاطِبٍ؟» فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ اتَّخَذَ غَنَمًا فَضَاقَتْ عَلَيْهِ المَدِينَةُ. وَأُخْبِرَ بِأَمْرِهِ كُلِّهِ، فَقَالَ: «يَا وَيْحَ ثَعْلَبَةَ، يَا وَيْحَ ثَعْلَبَةَ وَيَا وَيْحَ ثَعْلَبَةَ
قَالَ: وَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى: ﴿خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ﴾ وَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى فَرَائِضَ الصَّدَقَةِ، فَبَعَثَ رَسُولُ اللهِ ﷺ رَجُلًا مِنْ جُهَيْنَةَ وَرَجُلًا مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى الصَّدَقَةِ، وَكَتَبَ لَهُمَا كِتَابًا بِأَخْذِ الصَّدَقَةِ، وَأَمَرَهُمَا أَنْ يَخْرُجَا فَيَأْخُذَا الصَّدَقَةَ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَقَالَ: «مُرَّا بِثَعْلَبَةَ بْنِ حَاطِبٍ، وَبِفُلَانٍ - رَجُلٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ - وَخُذَا صَدَقَاتِهِمَا» فَخَرَجَا حَتَّى أَتَيَا ثَعْلَبَةَ فَسَأَلَاهُ الصَّدَقَةَ. وَأَقْرَآهُ كِتَابَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: مَا هَذِهِ إِلَّا جِزْيَةٌ، مَا هَذِهِ إِلَّا جِزْيَةٌ، مَا هَذِهِ إِلَّا أُخْتُ الجِزْيَةِ، انْطَلِقَا حَتَّى تَفْرُغَا ثُمَّ تَعُودَا إِلَيَّ، فَانْطَلَقَا نَحْوَ السُّلَيْمِيِّ، فَسَمِعَ بِهَا، فَقَامَ إِلَى أَخْيَارِ أَسْنَانِ إِبِلِهِ، فَعَزَلَهَا لِلصَّدَقَةِ. ثُمَّ اسْتَقْبَلَهُمَا بِهِمَا، فَلَمَّا رَأَيَاهَا قَالَا: لَا يَجِبُ عَلَيْكَ ذَلِكَ، وَمَا نُرِيدُ أَنْ نَأْخُذَ هَذَا مِنْكَ. قَالَ: بَلَى خُذَاهَا نَفْسِي بِهَا طَيِّبَةٌ، وَإِنَّمَا هِيَ لِتَأْخُذَاهَا
فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ صَدَقَاتِهِمَا رَجَعَا حَتَّى مَرَّا بِثَعْلَبَةَ. فَسَأَلَاهُ الصَّدَقَةَ. فَقَالَ: أَرِيَانِي كِتَابَكُمَا. فَنَظَرَ فِيهِ فَقَالَ: هَذِهِ أُخْتُ الجِزْيَةِ. انْطَلِقَا حَتَّى أَرَى رَأْيِي
فَانْطَلَقَا حَتَّى أَتَيَا النَّبِيَّ ﷺ، فَلَمَّا رَآهُمَا قَالَ: «يَا وَيْحَ ثَعْلَبَةَ» قَبْلَ أَنْ يُكَلِّمَاهُ، وَدَعَا لِلسُّلَيْمِيِّ، فَأَخْبَرَاهُ بِالَّذِي صَنَعَ ثَعْلَبَةُ، وَبِالَّذِي صَنَعَ السُّلَيْمِيُّ، فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى فِي ثَعْلَبَةَ: ﴿وَمِنْهُم مَّنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِن فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ ۞ فَلَمَّا آتَاهُم مِّن فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوا وَّهُم مُّعْرِضُونَ ۞ فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ﴾ وَعِنْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ رَجُلٌ مِنْ أَقَارِبِ ثَعْلَبَةَ، فَسَمِعَ مَا أَنْزَلَ اللهُ فِيهِ، فَخَرَجَ حَتَّى أَتَى ثَعْلَبَةَ. فَقَالَ: لَا أُمَّ لَكَ يَا ثَعْلَبَةُ، قَدْ أَنْزَلَ اللهُ فِيكَ كَذَا وَكَذَا. فَخَرَجَ ثَعْلَبَةُ حَتَّى أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَسَأَلَهُ أَنْ يَقْبَلَ مِنْهُ صَدَقَتَهُ، فَقَالَ: «إِنَّ اللهَ مَنَعَنِي أَنْ أَقْبَلَ مِنْكَ صَدَقَتَكَ» فَجَعَلَ يَحْثُو التُّرَابَ عَلَى رَأْسِهِ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «هَذَا عَمَلُكَ أَمَرْتُكَ فَلَمْ تُطِعْنِي» فَلَمَّا أَبَى أَنْ يَقْبَلَ مِنْهُ شَيْئًا، رَجَعَ إِلَى مَنْزِلِهِ، فَلَمَّا قُبِضَ رَسُولُ اللهِ جَاءَ بِهَا إِلَى أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا مِنْهُ، وَجَاءَ بِهَا عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا مِنْهُ، وَتُُوُفِّيَ ثَعْلَبَةُ بَعْدُ خِلَافَةِ عُثْمَانَ
Diriwayatkan dari Abu Umamah
al-Bahili: Bahwa Tsa'labah bin Hathib berkata: "Wahai Rasulullah,
doakanlah kepada Allah agar Dia memberiku rezeki harta." Nabi bersabda: “Wahai
Tsa'labah, sedikit harta yang engkau mampu tunaikan syukurnya itu lebih baik
daripada harta banyak yang engkau tidak sanggup menanggungnya.” Tsa'labah
berkata lagi: "Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar Dia memberiku
rezeki harta." Nabi bersabda: “Wahai Tsa'labah, tidakkah engkau ingin
meneladani aku? Tidakkah engkau ridha menjadi seperti Nabi Allah Ta'ala? Demi
Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya aku menghendaki
gunung-gunung berjalan bersamaku menjadi emas dan perak, niscaya ia akan
berjalan.” Tsa'labah berkata: "Demi Tuhan yang mengutusmu dengan hak
sebagai Nabi, sungguh jika engkau berdoa kepada Allah agar memberi rezeki harta
padaku, aku benar-benar akan memberikan hak kepada setiap orang yang berhak
menerimanya, dan aku sungguh-sungguh akan berbuat (kebaikan ini dan itu)."
Maka Rasulullah ﷺ
berdoa: “Ya Allah, berilah Tsa'labah rezeki berupa harta.” Lantas
Tsa'labah memelihara kambing, lalu berkembang biak dengan sangat cepat seperti
berbiaknya ulat/cacing. Kota Madinah pun terasa sempit baginya, sehingga ia
pindah dari Madinah dan tinggal di salah satu lembahnya. Ia hanya bisa
melaksanakan shalat Zuhur dan Ashar secara berjamaah, lalu meninggalkan shalat
lainnya. Kemudian kambingnya semakin berkembang dan bertambah banyak, sehingga
ia makin menjauh hingga tidak lagi shalat berjamaah kecuali shalat Jumat saja.
Kambing-kambing itu terus berkembang pesat hingga akhirnya ia meninggalkan
shalat Jumat sekalipun. Ia hanya mencegat rombongan musafir pada hari Jumat
untuk menanyakan kabar kota Madinah. Rasulullah ﷺ
pun menanyakannya: “Apa yang dilakukan oleh Tsa'labah bin Hathib?”
Dikatakan kepada beliau: "Wahai Rasulullah, ia memelihara kambing hingga
Madinah terasa sempit baginya," lalu diceritakanlah seluruh perihalnya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh celaka Tsa'labah,
celakalah Tsa'labah, celakalah Tsa'labah!”
Diriwayatkan: Dan Allah Ta'ala
menurunkan firman-Nya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan
zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoakanlah untuk
mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.”
(QS. At-Taubah: 103). Allah Ta'ala juga menurunkan kewajiban-kewajiban zakat.
Maka Rasulullah ﷺ mengutus seorang laki-laki dari suku
Juhainah dan seorang laki-laki dari Bani Sulaim untuk memungut zakat. Beliau menuliskan
surat ketentuan pengambilan zakat untuk mereka berdua dan memerintahkan
keduanya keluar mengambil zakat dari kaum muslimin. Beliau bersabda: “Datangilah
Tsa'labah bin Hathib dan fulan —seorang laki-laki dari Bani Sulaim— dan
ambillah zakat mereka berdua.”
Keduanya pun berangkat hingga
mendatangi Tsa'labah dan meminta zakat darinya serta membacakan surat
Rasulullah ﷺ. Tsa'labah berkata: "Ini tidak lain
hanyalah upeti (jizyah)! Ini tidak lain hanyalah upeti, atau saudara kandung
upeti! Pergilah kalian berdua sampai selesai tugas kalian, lalu kembalilah
kemari."
Keduanya pun pergi menuju lelaki
dari suku Sulaim. Ketika lelaki Sulaim itu mendengarnya, ia mengambil unta-unta
terbaiknya dan menyisihkannya untuk zakat, lalu menyambut petugas dengan membawa
unta-unta tersebut. Ketika kedua petugas melihatnya, mereka berkata:
"Engkau tidak wajib menyerahkan yang sebagus ini, dan kami tidak ingin
mengambilnya dari kamu (karena melebihi ketentuan)." Lelaki itu menjawab:
"Tidak, ambillah! Hati saya sangat ikhlas mengerjakannya, dan unta ini
memang sengaja saya peruntukkan bagi kalian."
Setelah kedua petugas selesai
memungut zakat lainnya, mereka kembali mendatangi Tsa'labah dan meminta
zakatnya. Tsa'labah berkata: "Perlihatkan padaku surat kalian!" Ia
melihat surat itu lalu berkata: "Ini adalah saudara kandung jizyah!
Pergilah kalian, biar aku berpikir dulu."
Kedua petugas itu pun berangkat
hingga kembali kepada Nabi ﷺ. Ketika melihat
mereka, sebelum mereka berbicara, Nabi ﷺ bersabda: “Celakalah
Tsa'labah!” dan beliau mendoakan kebaikan untuk lelaki dari suku Sulaim.
Kemudian mereka melaporkan apa yang dilakukan Tsa'labah dan apa yang dilakukan
lelaki Sulaim tersebut. Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat mengenai Tsa'labah:
“Dan di antara mereka ada orang yang
telah berjanji kepada Allah: 'Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian
karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan niscaya kami termasuk
orang-orang yang saleh.' Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian
dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka
memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah
menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada hari mereka menemui
Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka
janjikan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.” (QS. At-Taubah: 75-77).
وَقَدْ رُوِيَ عَنْ جَرِيرٍ عَنْ لَيْثٍ قَالَ: صَحِبَ رَجُلٌ عِيسَى بْنَ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ: أَكُونُ مَعَكَ وَأَصْحَبُكَ. فَانْطَلَقَا حَتَّى انْتَهَيَا إِلَى شَطِّ نَهْرٍ، فَجَلَسَا يَتَغَدَّيَانِ، وَمَعَهُمَا ثَلَاثَةُ أَرْغِفَةٍ، فَأَكَلَا رَغِيفَيْنِ، وَبَقِيَ رَغِيفٌ ثَالِثٌ، فَقَامَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى النَّهْرِ فَشَرِبَ، ثُمَّ رَجَعَ، فَلَمْ يَجِدِ الرَّغِيفَ، فَقَالَ لِلرَّجُلِ: مَنْ أَخَذَ الرَّغِيفَ؟ فَقَالَ: لَا أَدْرِي. قَالَ: فَانْطَلَقَ وَمَعَهُ صَاحِبُهُ، فَرَأَى ظَبْيَةً وَمَعَهَا خِشْفَانِ لَهَا، فَدَعَا أَحَدَهُمَا فَأَتَاهُ فَذَبَحَهُ، فَاشْتَوَى مِنْهُ فَأَكَلَ هُوَ وَذَاكَ الرَّجُلُ، قَالَ لِلْخِشْفِ: قُمْ بِإِذْنِ اللهِ. فَقَامَ فَذَهَبَ، فَقَالَ لِلرَّجُلِ: أَسْأَلُكَ بِالَّذِي أَرَاكَ هَذِهِ الآيَةَ، مَنْ أَخَذَ الرَّغِيفَ؟ فَقَالَ: لَا أَدْرِي، ثُمَّ انْتَهَيَا إِلَى وَادِي مَاءٍ فَأَخَذَ عِيسَى بِيَدِ الرَّجُلِ، فَمَشَيَا عَلَى المَاءِ.
فَلَمَّا جَاوَزُوهُ، قَالَ لَهُ: أَسْأَلُكَ بِالَّذِي أَرَاكَ هَذِهِ الآيَةَ. مَنْ أَخَذَ الرَّغِيفَ؟ فَقَالَ: لَا أَدْرِي.
فَانْتَهَيَا إِلَى مَفَازَةٍ فَجَلَسَا فَأَخَذَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ يَجْمَعُ تُرَابًا وَكَثِيبًا. ثُمَّ قَالَ: كُنْ ذَهَبًا بِإِذْنِ اللهِ تَعَالَى. فَصَارَ ذَهَبًا، فَقَسَمَهُ ثَلَاثَةَ أَثْلَاثٍ ثُمَّ قَالَ: ثُلُثٌ لِي، وَثُلُثٌ لَكَ، وَثُلُثٌ لِمَنْ أَخَذَ الرَّغِيفَ. فَقَالَ: أَنَا الَّذِي أَخَذْتُ الرَّغِيفَ. فَقَالَ: كُلُّهُ لَكَ.
وَفَارَقَهُ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَانْتَهَى إِلَيْهِ رَجُلَانِ فِي المَفَازَةِ وَمَعَهُ المَالُ، فَأَرَادَا أَنْ يَأْخُذَاهُ مِنْهُ، وَيَقْتُلَاهُ، فَقَالَ: هُوَ بَيْنَنَا أَثْلَاثًا، فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ إِلَى القَرْيَةِ حَتَّى يَشْتَرِيَ لَنَا طَعَامًا نَأْكُلُهُ. قَالَ: فَبَعَثُوا أَحَدَهُمْ، فَقَالَ الَّذِي بُعِثَ: لِأَيِّ شَيْءٍ أُقَاسِمُ هَؤُلَاءِ هَذَا المَالَ؟ لَكِنِّي أَضَعُ فِي الطَّعَامِ سُمًّا فَأَقْتُلُهُمَا، وَآخُذُ المَالَ وَحْدِي. قَالَ: فَفَعَلَ، وَقَالَ ذَلِكَ الرَّجُلَانِ: لِأَيِّ شَيْءٍ نَجْعَلُ لِهَذَا ثُلُثَ المَالِ؟ وَلَكِنْ إِذَا رَجَعَ قَتَلْنَاهُ، وَاقْتَسَمْنَا المَالَ بَيْنَنَا. قَالَ: فَلَمَّا رَجَعَ إِلَيْهِمَا قَتَلَاهُ، وَأَكَلَا الطَّعَامَ فَمَاتَا فَبَقِيَ ذَلِكَ المَالُ فِي المَفَازَةِ، وَأُولَئِكَ الثَّلَاثَةُ عِنْدَهُ قَتْلَى، فَمَرَّ بِهِمْ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ عَلَى تِلْكَ الحَالَةِ. فَقَالَ لِأَصْحَابِهِ: هَذِهِ هِيَ الدُّنْيَا، فَاحْذَرُوهَا.
وُحُكِيَ أَنَّ ذَا القَرْنَيْنِ أَتَى عَلَى أُمَّةٍ مِنَ الأُمَمِ، لَيْسَ بِأَيْدِيهِمْ شَيْءٌ مِمَّا يَسْتَمْتِعُ بِهِ النَّاسُ مِنْ دُنْيَاهُمْ، وَقَدِ احْتَفَرُوا قُبُورًا فَإِذَا أَصْبَحُوا تَعَهَّدُوا تِلْكَ القُبُورَ وَكَنَسُوهَا، وَصَلَّوْا عِنْدَهَا، وَرَعَوُا البَقْلَ كَمَا تَرْعَى البَهَائِمُ، وَقَدْ قُيِّضَ لَهُمْ فِي ذَلِكَ مَعَايِشُ مِنْ نَبَاتِ الأَرْضِ، وَأَرْسَلَ ذُو القَرْنَيْنِ إِلَى مَلِكِهِمْ، فَقَالَ لَهُ: أَجِبْ ذَا القَرْنَيْنِ. فَقَالَ: مَا لِي إِلَيْهِ حَاجَةٌ، فَإِنْ كَانَ لَهُ حَاجَةٌ فَلْيَأْتِنِي. فَقَالَ ذُو القَرْنَيْنِ: صَدَقَ. فَأَقْبَلَ ذُو القَرْنَيْنِ. وَقَالَ لَهُ: أَرْسَلْتُ إِلَيْكَ لِتَأْتِيَنِي، فَأَبَيْتَ فَهَا أَنَا قَدْ جِئْتُ. فَقَالَ: لَوْ كَانَ لِي إِلَيْكَ حَاجَةٌ لَأَتَيْتُكَ. فَقَالَ لَهُ ذُو القَرْنَيْنِ: مَا لِي أَرَاكُمْ عَلَى حَالَةٍ لَمْ أَرَ أَحَدًا مِنَ الأُمَمِ عَلَيْهَا؟ قَالَ: وَمَا ذَاكَ؟ قَالَ: لَيْسَ لَكُمْ دُنْيَا وَلَا شَيْءٌ. أَفَلَا اتَّخَذْتُمُ الذَّهَبَ وَالفِضَّةَ، فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهِمَا؟ قَالَ: إِنَّمَا كَرِهْنَاهُمَا. لِأَنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ مِنْهُمَا شَيْئًا، إِلَّا تَاقَتْ نَفْسُهُ، وَدَعَتْهُ إِلَى مَا هُوَ أَفْضَلُ مِنْهُ.
Diriwayatkan dari Jarir, dari Laits,
ia berkata: Ada seorang laki-laki menyertai Nabi Isa bin Maryam 'alaihissalam
dan berkata: "Aku ingin bersamamu dan menjadi sahabatmu." Keduanya
pun berjalan hingga sampai di tepi sebuah sungai. Lalu mereka duduk untuk makan
siang dengan membawa tiga potong roti. Keduanya memakan dua potong roti,
sehingga tersisa roti ketiga. Nabi Isa 'alaihissalam berdiri menuju
sungai untuk minum, kemudian kembali, namun ia tidak menemukan roti tersebut.
Beliau bertanya kepada lelaki itu: "Siapa yang mengambil roti itu?"
Lelaki itu menjawab: "Aku tidak tahu."
Nabi Isa pun melanjutkan perjalanan
bersama sahabatnya itu. Di jalan, beliau melihat seekor rusa betina bersama dua
ekor anaknya. Beliau memanggil salah satu anak rusa itu, lalu anak rusa itu
datang dan beliau menyembelihnya, kemudian memanggang sebagian dagingnya. Nabi
Isa dan lelaki itu pun memakannya. Setelah itu, Nabi Isa berkata kepada anak
rusa yang telah disembelih tadi: "Bangkitlah dengan izin Allah!" Anak
rusa itu pun bangkit dan berlari pergi. Nabi Isa berkata kepada lelaki
tersebut: "Aku bertanya kepadamu demi Zat yang telah memperlihatkan
mukjizat ini kepadamu, siapa yang mengambil roti itu?" Lelaki itu tetap
menjawab: "Aku tidak tahu."
Kemudian keduanya sampai di sebuah
sungai/lembah air. Nabi Isa memegang tangan lelaki itu, lalu mereka berjalan di
atas air. Setelah berhasil menyeberanginya, Nabi Isa berkata: "Aku
bertanya kepadamu demi Zat yang telah memperlihatkan mukjizat ini kepadamu,
siapa yang mengambil roti itu?" Lelaki itu menjawab lagi: "Aku tidak
tahu."
Hingga sampailah mereka di sebuah padang
sahara (gurun pasir). Mereka duduk, lalu Nabi Isa 'alaihissalam
mengumpulkan tanah dan tumpukan pasir. Beliau berkata: "Jadilah emas
dengan izin Allah Ta'ala!" Maka tumpukan tanah itu berubah menjadi emas.
Nabi Isa membaginya menjadi tiga bagian, lalu berkata: "Satu pertiga
untukku, satu pertiga untukmu, dan satu pertiga lagi untuk orang yang mengambil
roti." Sontak lelaki itu berkata: "Akulah yang mengambil roti
itu!" Nabi Isa berkata: "Kalau begitu, seluruh emas ini untukmu."
Nabi Isa 'alaihissalam pun
meninggalkannya. Tak lama kemudian, datang dua orang laki-laki menghampirinya
di padang sahara itu sementara ia membawa harta emas tersebut. Kedua orang itu
berniat merebut emas dan membunuhnya. Lelaki itu berkata: "Harta ini kita
bagi tiga saja di antara kita. Utuslah salah seorang dari kalian ke desa
terdekat untuk membeli makanan yang bisa kita makan."
Maka mereka mengutus salah seorang
dari mereka. Orang yang diutus membeli makanan itu berkata dalam hatinya:
"Untuk apa aku membagikan harta ini kepada mereka? Lebih baik aku beri
racun pada makanan ini agar mereka mati, sehingga aku bisa menguasai harta ini
sendirian." Ia pun melakukan niat jahatnya. Sementara itu, dua orang yang
tinggal berkata: "Untuk apa kita berikan sepertiga harta ini kepadanya? Jika
ia kembali nanti, kita bunuh saja dia lalu kita bagi dua harta ini."
Ketika orang yang membeli makanan
itu kembali, keduanya langsung membunuhnya. Setelah itu mereka memakan makanan
yang telah diberi racun, lalu mereka berdua pun mati. Harta emas itu tetap
tergeletak di padang sahara, sedangkan ketiga orang tersebut tewas membusuk di
sampingnya.
Kemudian Nabi Isa 'alaihissalam
lewat di tempat itu dan melihat kondisi mereka. Beliau berkata kepada para
pengikutnya: "Inilah hakikat dunia, maka berhati-hatilah kalian
darinya!"
Dan diceritakan bahwasanya
Dzulkarnain mendatangi suatu kaum/bangsa yang tidak memiliki sedikit pun dari
kenikmatan dunia yang biasa dinikmati manusia. Mereka telah menggali kuburannya
masing-masing. Apabila pagi tiba, mereka merawat kuburan-kuburan tersebut,
menyapunya, dan shalat di sisinya. Mereka memakan tumbuh-tumbuhan sebagaimana
binatang ternak makan, dan Allah telah menjamin kelangsungan hidup mereka dari
tumbuh-tumbuhan bumi.
Dzulkarnain mengutus utusan kepada
raja mereka dan berpesan: "Penuhilah panggilan Dzulkarnain." Raja itu
menjawab: "Aku tidak memiliki keperluan dengannya. Jika ia memiliki
keperluan denganku, dialah yang harus mendatangi aku." Dzulkarnain
berkata: "Dia benar."
Lalu Dzulkarnain mendatangi raja
tersebut dan berkata: "Aku telah mengutus utusan kepadamu agar engkau
mendatangiku, tetapi engkau menolak, maka akulah yang datang kepadamu."
Raja itu menjawab: "Seandainya aku ada keperluan padamu, tentu aku yang
akan mendatangi mu."
Dzulkarnain berkata kepadanya:
"Mengapa aku melihat kalian dalam keadaan tidak seperti kaum-kaum lain
yang pernah kukunjungi?" Raja bertanya: "Keadaan yang
bagaimana?" Dzulkarnain menjawab: "Kalian tidak memiliki harta dunia
atau benda apa pun. Mengapa kalian tidak mengumpulkan emas dan perak lalu
menikmatinya?" Raja menjawab: "Kami membencinya, karena tidaklah
seseorang diberi sedikit saja dari emas dan perak, melainkan jiwanya akan
selalu merogoh kesenangan (serakah) dan mengajaknya untuk menuntut apa yang
lebih banyak dari yang dimilikinya."
فَقَالَ: مَا بَالُكُمْ قَدِ احْتَفَرْتُمْ قُبُورًا، فَإِذَا أَصْبَحْتُمْ تَعَهَّدْتُمُوهَا، فَكَنَسْتُمُوهَا، وَصَلَّيْتُمْ عِنْدَهَا؟ قَالَ: أَرَدْنَا إِذَا نَظَرْنَا إِلَيْهَا وَأَمَّلْنَا الدُّنْيَا مَنَعَتْنَا قُبُورُنَا مِنَ الأَمَلِ. قَالَ: وَأَرََاكُمْ لَا طَعَامَ لَكُمْ إِلَّا البَقْلَ مِنَ الأَرْضِ أَفَلَا اتَّخَذْتُمُ البَهَائِمَ مِنَ الأَنْعَامِ فَاحْتَلَبْتُمُوهَا وَرَكِبْتُمُوهَا فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا؟ قَالَ: كَرِهْنَا أَنْ نَجْعَلَ بُطُونَنَا قُبُورًا لَهَا، وَرَأَيْنَا فِي نَبَاتِ الأَرْضِ بَلَاغًا، وَإِنَّمَا يَكْفِي ابْنَ آدَمَ أَدْنَى العَيْشِ مِنَ الطَّعَامِ، وَأَيُّ مَا جَاوَزَ الحَنَكَ مِنَ الطَّعَامِ، لَمْ نَجِدْ لَهُ طَعْمًا كَائِنًا مَا كَانَ مِنَ الطَّعَامِ، ثُمَّ بَسَطَ مَلِكُ تِلْكَ الأَرْضِ يَدَهُ خَلْفَ ذِي القَرْنَيْنِ فَتَنَاوَلَ جُمْجُمَةً، فَقَالَ: يَا ذَا القَرْنَيْنِ، أَتَدْرِي مَنْ هَذَا؟ قَالَ: لَا، وَمَنْ هُوَ؟ قَالَ: مَلِكٌ مِنْ مُلُوكِ الأَرْضِ، أَعْطَاهُ اللهُ سُلْطَانًا عَلَى أَهْلِ الأَرْضِ، فَغَشَمَ وَظَلَمَ وَعَتَا، فَلَمَّا رَأَى اللهُ سُبْحَانَهُ ذَلِكَ مِنْهُ حَسَمَهُ بِالمَوْتِ، فَصَارَ كَالحَجَرِ المُلْقَى، وَقَدْ أَحْصَى عَلَيْهِ عَمَلَهُ حَتَّى يَجْزِيَهُ بِهِ فِي آخِرَتِهِ
ثُمَّ تَنَاوَلَ جُمْجُمَةً أُخْرَى بَالِيَةً، فَقَالَ: يَا ذَا القَرْنَيْنِ، هَلْ تَدْرِي مَنْ هَذَا؟ قَالَ: لَا أَدْرِي، وَمَنْ هُوَ؟ قَالَ: هَذَا مَلِكٌ مَلَّكَهُ اللهُ بَعْدَهُ، قَدْ كَانَ يَرَى مَا يَصْنَعُ الَّذِي قَبْلَهُ بِالنَّاسِ مِنَ الغَشْمِ وَالظُّلْمِ وَالتَّجَبُّرِ، فَتَوَاضَعَ وَخَشَعَ للهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَمَرَ بِالعَدْلِ فِي أَهْلِ مَمْلَكَتِهِ، فَصَارَ كَمَا تَرَى، قَدْ أَحْصَى اللهُ عَلَيْهِ عَمَلَهُ، حَتَّى يَجْزِيَهُ بِهِ فِي آخِرَتِهِ، ثُمَّ أَهْوَى إِلَى جُمْجُمَةِ ذِي القَرْنَيْنِ فَقَالَ: وَهَذِهِ الجُمْجُمَةُ سَتَصِيرُ كَهَاتَيْنِ، فَانْظُرْ يَا ذَا القَرْنَيْنِ مَا أَنْتَ صَانِعٌ. فَقَالَ لَهُ ذُو القَرْنَيْنِ: هَلْ لَكَ فِي صُحْبَتِي فَأَتَّخِذَكَ أَخًا وَوَزِيرًا وَشَرِيكًا فِيمَا آتَانِي اللهُ مِنْ هَذَا المَالِ؟ قَالَ: مَا أَصْلُحُ أَنَا وَأَنْتَ فِي مَكَانٍ، وَلَا أَنْ نَكُونَ جَمِيعًا. قَالَ ذُو القَرْنَيْنِ: وَلِمَ؟ قَالَ مِنْ أَجْلِ أَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ لَكَ عَدُوٌّ، وَلِي صَدِيقٌ. قَالَ: وَلِمَ؟ قَالَ: يُعَادُونَكَ لِمَا فِي يَدَيْكَ مِنَ المُلْكِ وَالمَالِ وَالدُّنْيَا، وَلَا أَجِدُ أَحَدًا يُعَادِينِي لِرَفْضِي لِذَلِكَ، وَلِمَا عِنْدِي مِنَ الحَاجَةِ وَقِلَّةِ الشَّيْءِ. قَالَ: فَانْصَرَفَ عَنْهُ ذُو القَرْنَيْنِ مُتَعَجِّبًا مِنْهُ، وَمُتَّعِظًا بِهِ
وَمَا أَحْسَنَ قَوْلَ القَائِلِ
يَا مَنْ تَمَتَّعَ بِالدُّنْيَا وَزِينَتِهَا ... وَلَا تَنَامُ عَنِ اللَّذَّاتِ عَيْنَاهُ
شَغَلْتَ نَفْسَكَ فِيمَا لَيْسَ تُدْرِكُهُ ... تَقُولُ للهِ مَاذَا حِينَ تَلْقَاهُ؟
وَقَالَ الآخَرُ
عَتَبْتُ عَلَى الدُّنْيَا لِرِفْعَةِ جَاهِلٍ ... وَتَأْخِيرِ ذِي فَضْلٍ فَقَالَتْ: خُذِ العُذْرَا
بَنُو الجَهْلِ أَبْنَائِي لِهَذَا رَفَعْتُهُمْ ... وَأَهْلُ التُّقَى أَبْنَاءُ ضَرَّتِي الأُخْرَى
وَقَوْلُ مَحْمُودٍ البَاهِلِيِّ
إِلَا إِنَّمَا الدُّنْيَا عَلَى المَرْءِ فِتْنَةٌ ... عَلَى كُلِّ حَالٍ أَقْبَلَتْ أَوْ تَوَلَّتِ
فَإِنْ أَقْبَلَتْ فَاسْتَقْبِلِ الشُّكْرَ دَائِمًا ... وَمَهْمَا تَوَلَّتْ فَاصْطَبِرْ وَتَثَبَّتِ
Maka (Dzulkarnain) bertanya:
"Mengapa kalian menggali kubur, lalu jika pagi hari tiba kalian
merawatnya, menyapunya, dan shalat di sisinya?" Raja itu menjawab:
"Kami menghendaki agar ketika kami melihatnya dan berangan-angan tentang
dunia, kuburan kami melarang kami dari berangan-angan kosong." Dzulkarnain
bertanya lagi: "Dan aku lihat kalian tidak memiliki makanan selain
tumbuh-tumbuhan dari tanah, mengapa kalian tidak memelihara hewan ternak agar
kalian bisa memerah susunya, menungganginya, dan menikmatinya?" Raja
menjawab: "Kami tidak suka menjadikan perut kami sebagai kuburan bagi
hewan-hewan itu, dan kami menilai tumbuh-tumbuhan bumi sudah cukup (sebagai
bekal hidup). Sungguh, manusia itu cukup dengan makanan yang paling minim. Dan
apa pun makanan yang telah melewati tenggorokan, kami tidak lagi merasakan
lezatnya, apa pun jenis makanan itu."
Kemudian raja negeri itu mengulurkan
tangannya ke belakang Dzulkarnain lalu mengambil sebuah tengkorak, dan berkata:
"Wahai Dzulkarnain, tahukah engkau tengkorak siapa ini?" Dzulkarnain
menjawab: "Tidak, siapakah dia?" Raja berkata: "Dia adalah
seorang raja dari raja-raja bumi yang dahulu Allah berikan kekuasaan atas
penduduk bumi, namun ia berbuat sewenang-wenang, zalim, dan melampaui batas.
Ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala melihat perbuatannya itu, Allah
menghentikannya dengan kematian, sehingga ia menjadi seperti batu yang
terbuang. Dan Allah telah mencatat seluruh perbuatannya untuk membalasnya di
akhirat."
Kemudian raja itu mengambil
tengkorak lain yang sudah rapuh, lalu berkata: "Wahai Dzulkarnain, tahukah
engkau tengkorak siapa ini?" Dzulkarnain menjawab: "Aku tidak tahu,
siapakah dia?" Raja berkata: "Ini adalah seorang raja yang diberi
kekuasaan oleh Allah setelah raja tadi. Ia telah melihat apa yang dilakukan
raja sebelumnya kepada manusia berupa kesewenang-wenangan, kezaliman, dan
kesombongan. Maka ia pun bertawadhu (rendah hati) dan tunduk kepada Allah 'Azza
wa Jalla, serta memerintahkan keadilan di antara rakyatnya. Maka ia menjadi
seperti yang engkau lihat (tetap mati), dan Allah telah mencatat perbuatannya
untuk membalasnya kelak di akhirat."
Kemudian raja itu menunjuk ke arah
tengkorak kepala Dzulkarnain seraya berkata: "Dan tengkorak ini (kepalamu)
kelak akan menjadi seperti kedua tengkorak ini, maka perhatikanlah wahai
Dzulkarnain apa yang akan engkau perbuat!"
Maka Dzulkarnain berkata kepadanya:
"Maukah engkau menyertaiku sehingga aku menjadikannya engkau sebagai
saudara, menteri, dan sekutu dalam mengelola harta yang Allah berikan padaku
ini?" Raja menjawab: "Aku dan engkau tidak cocok berada di satu tempat,
dan kita tidak bisa bersama." Dzulkarnain bertanya: "Mengapa
demikian?" Raja menjawab: "Karena seluruh manusia adalah musuh
bagimu, sedangkan bagiku mereka adalah teman." Dzulkarnain bertanya:
"Mengapa bisa begitu?" Raja menjawab: "Merek memusuhimu karena
kerajaan, harta, dan dunia yang ada di tanganmu. Sedangkan aku tidak menemukan
seorang pun yang memusuhiku karena aku telah membuang dunia itu, serta karena
keadaanku yang bersahaja dan sedikitnya harta milikku." Maka Dzulkarnain
pun pergi meninggalkannya dengan perasaan kagum dan mengambil pelajaran
padanya.
Alangkah indahnya ucapan penyair
berikut:
Wahai orang yang bersenang-senang
dengan dunia dan perhiasannya... Dan matanya tak pernah tertidur dari mengejar
kelezatan.
Engkau telah menyibukkan dirimu
dengan apa yang tidak akan engkau capai... Apa yang akan kau katakan kepada
Allah saat bertemu dengan-Nya kelak?
Penyair lain berkata:
Aku mencela dunia atas tingginya
derajat orang bodoh... Dan terbelakangnya orang yang memiliki keutamaan, maka
dunia berkata: "Dengarkan alasanku!"
“Orang-orang bodoh itu adalah
anak-anak kandungku, karena itulah aku meninggikan mereka... Sedangkan
orang-orang bertakwa adalah anak-anak dari maduku yang lain.”
Dan ucapan Mahmud al-Bahili:
Ingatlah, sesungguhnya dunia bagi
seseorang adalah ujian... Dalam setiap keadaan, baik saat ia datang mendekat
maupun berpaling pergi.
Jika dunia datang menghampirimu,
maka sambutlah dengan senantiasa bersyukur... Dan apabila ia berpaling pergi,
maka bersabarlah dan tetapkanlah hatimu.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
KEMBALI KE AWAL (Daftar isi)
Download Terjemah Kitab Mukasyafatul Qulub
Download Kitab Mukasyafatul Qulub (Arab)
Cara cepat dan tanpa Ribet untuk memiliki 200 +
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya iklan adsens. Mohon Keridhoannya untuk ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih. Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Artikel Terkait :