بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
BAB SEbelas
At-Tanwir fi-Isqothi at-Tadbir
Syeikh Ibn ‘Atho’illah as-Sakandary ra

Contoh Orang yang Mengatur diri Sendiri (al-Mudabbirin) Bersama Allah Ta'ala
أمثلة للمدبرين مع
الله تعالى
فصل:
نذكر فيه أمثلة التدبير مع الله، والمدبرين معه، وأمثلة الرزق وضمان الحق تعالى
له، فان بالمثال يتبين الحال. .
مثل
المدبر مع الله، كمن بنى بناءه على شاطئ البحر، كلما اجتهد في بنائه، كثرت عليه
الأمواج، فتداعى جميع أنحائه.
كذلك
المدبر مع الله تعالى، يبني مباني التدبير وتهدمها واردات المقادير لأجل ذلك قيل:
(يدبر
المدبر، والقضاء يضحك).
وقال
الشاعر:
متى يبلغ البنيان يوما تمامه ***
إذا كنت تبنيه وغيرك يهدم؟
مثال
آخر: مثل المدبر مع الله تعالى كرجل جاء
إلى رمال متراكمة، فوضع عليها بناءه فجاءت العواصف فنسفت الرمال، فتهدم ما بناه،
كما قيل:
وعهودهم بالرمل قد درست ***
وكذاك ما يبنى على الرمل
مثال
آخر: مثل المدبر مع الله تعالى، كمثل والد سافر مع والده، فسارا ليلا، والأب
لإشفاقه على الولد يراقبه من حيث لا يراه الولد، والولد لا يرى الوالد للظلمة
الحائلة بينهما، فالولد مهموم بأمر نفسه كيف يفعل في شأنه، فإذا طلع القمر ورأى
قرب الأب منه سكن جأشه، وهدأ ورعه لأنه رأى قرب أبيه منه فاغتنى بتدبيره له عن
تدبيره لنفسه.
كذلك
المدبر مع الله تعالى لنفسه، إنما دبر لأنه في ليل القطيعة، فلم يشهد قرب الله
تعالى منه، فلو طلع قمر التوحيد، أو شمس المعرفة، لرأي قرب الحق تعالى منه، فاستحى
أن يدبر معه، واغتنى بتدبير الله تعالى له، عن تدبيره لنفسه.
مثال
آخر: التدبير شجرة تسقى بما سوء الظن وثمرتها القطيعة عن الله تعالى. إذ لو حسن
العبد ظنه بربه لماتت شجرة التدبير من قلبه لانقطاع غذائها، وإنما كان ثمرتها
القطيعة عن الله تعالى لأن من دبر لنفسه فقد اكتفى بعقله ورضي بتدبيره، واحتال على
وجوده، فعقوبته أن يحال عليه، وأن يمنع
واردات المنن أن تصل إليه.
مثال
آخر: مثل المدبر مع الله كعبد أرسله سيده إلى بلد له ليصنع له فيها قماشا فدخل
العبد تلك البلدة، فقال: أين أسكن؟ ومن أتزوج؟
فاشتغل
بذلك، وصرف همته لما هنا لك، وعطل ما أمره منه السيد حيث دعا سيده إليه، فجزاؤه من
سيده أن جازاه بالقطيعة، ووجود الحجبة لاشتغال بأمر نفسه، عن حق سيده:
كذلك
أنت أيها المؤمن، أخرجك الحق إلى هذه الدار، وأمرك فيها بخدمته، وقام له بوجود
التدبير لك منه فان اشتغلت بتدبير نفسك عن حق سيدك فقد عدلت عن سبيل الهدى وسلكت
مسلك الردى.
مثال
آخر: مثل المدبر مع الله تعالى، والذي لا يدبر كعبدين للمالك أما أحدهما: فمشتغل
بأوامر سيده ولا يلتفت إلى ملبس ولا مأكل؟ بل إنما تهمه خدمة السيد فأغفله ذلك من
التفرغ لحظوظ نفسه، ومهماتها. وعبد آخر: كيفهما طلبه
السيد وجده في غسل ثيابه، وسياسة مركوبه، وتحسين زيه.
فالعبد
الأول أولى بإقبال السيد من العبد الثاني المشتغل بحظوظ نفسه، ومهماتها عن حقوق
سيده، والعبد إنما اشترى للسيد لا لنفسه.
وكذلك
العبد البصير، لا تراه إلا مشغولا بحقوق الله تعالى، ومراقبة أوامره عن محاب نفسه،
ومهماتها، فلما كان كذلك قام له الحق تعالى بكل أمره، وتوجه له بجزيل عطائه لصدقه
في توكله: {ومن
يتوكل على الله فهو حسبه}.
والغافل
ليس كذلك، لا تجده إلا في تحصيل أسباب دنياه، وفي الأشياء التي توصله إلى هواه،
قائما بوجود التدبير من نفسه لنفسه، محالا عليها، مقطوعا به عن وجود حسن الثقة
وصدق التوكل.
مثال
آخر: مثل المدبر مع الله كالظل المنبسط في عدم استواء الشمس فإذا استوت الشمس فني
ذلك الظل، حتى لا يبقى منه إلا بقية رسم لا تمحوه المقابلة، كذلك شمس المعرفة إذا
قابلت القلوب محت منها وجود التدبير إلا بقاء رسم من تدبير العبد أبقى فيه ليجري
عليه التكليف.
مثال
آخر: مثل المدبر مع الله تعالى لنفسه، كرجل باع دارا، أو عبدا، ثم بعد المبايعة
وإتمامها جاء البائع إلى المشتري، فقال له: لا تبن فيها شيئا، أو اهدم منها بيت
كذا. أو افعل فيها كذا.
أو
جاء البائع ليفعل ذلك فيقال له: أنت قد بعت وليس لك بعد البيع تصرف فيما بعته، إذ
ليس بعد المبايعة منازعة، وقد قال سبحانه وتعالى:{إن الله اشترى من
المؤمنين أنفسهم وأموالهم بأن لهم الجنة}.
فعلى
المؤمن أن يسلم نفسه لله وما انتسب إليها، لأنه أنشأها:
ولأنه
اشتراها، ومن لازم التسليم ترك التدبير لما أنت له مسلم كما بيناه.
Fasal: Kami menyebutkan di dalamnya contoh-contoh tentang Tadbir (perencanaan diri) bersama Allah, orang yang mengatur bersama-Nya, serta contoh mengenai rezeki dan jaminan kebenaran (Al-Haq) Ta'ala baginya. Sebab, dengan perumpamaan, suatu keadaan menjadi jelas.
1. Perumpamaan Membangun di Tepi Pantai
Perumpamaan orang yang mengatur bersama Allah adalah seperti orang yang membangun bangunan di tepi laut. Setiap kali ia bersungguh-sungguh membangunnya, ombak besar datang menerjangnya, sehingga hancurlah seluruh bagiannya.
Demikian pula orang yang mengatur bersama Allah Ta’ala; ia membangun bangunan rencana, namun takdir-takdir yang datang menghancurkannya. Oleh karena itu dikatakan: "Manusia merencana (yudabbir), namun takdir menertawakannya.
"Sebagaimana penyair berkata:
Kapan bangunan itu akan mencapai kesempurnaannya... Jika engkau membangunnya, sementara yang lain meruntuhkannya?
2. Perumpamaan Membangun di Atas Pasir
Contoh lain: Perumpamaan orang yang mengatur bersama Allah Ta’ala seperti seorang lelaki yang mendatangi tumpukan pasir, lalu ia membangun bangunan di atasnya. Kemudian datanglah badai yang meniup pasir tersebut, maka runtuhlah apa yang telah ia bangun.
Sebagaimana dikatakan:
Janji mereka telah terkikis oleh pasir... begitupun apa yang dibangun di atas pasir.
3. Perumpamaan Anak dan Ayahnya di Malam Gelap
Contoh lain: Perumpamaan orang yang mengatur bersama Allah Ta’ala adalah seperti seorang anak yang bepergian bersama ayahnya di malam hari. Karena sayangnya, sang ayah mengawasi si anak dari tempat yang tidak terlihat oleh si anak. Si anak tidak bisa melihat ayahnya karena kegelapan yang menghalangi keduanya.
Si anak pun merasa cemas dengan urusannya sendiri, memikirkan bagaimana ia harus bertindak. Namun, ketika bulan terbit dan ia melihat ayahnya berada di dekatnya, hatinya menjadi tenang dan rasa takutnya hilang, karena ia melihat kedekatan ayahnya. Ia pun merasa cukup dengan pengaturan ayahnya daripada pengaturannya sendiri.
Begitu pula orang yang mengatur bersama Allah Ta'ala untuk dirinya sendiri. Ia mengatur hanya karena ia berada dalam "malam keterputusan" (lail al-qati’ah), sehingga ia tidak menyaksikan kedekatan Allah kepadanya. Seandainya terbit "Bulan Tauhid" atau "Matahari Makrifat", niscaya ia akan melihat kedekatan Al-Haq Ta'ala padanya, merasa malu untuk mengatur bersama-Nya, merasa cukup dengan pengaturan Allah untuknya, dan melepaskan pengaturan untuk dirinya sendiri.
4. Perumpamaan Pohon yang Disirami Prasangka Buruk
Contoh lain: Tadbir (mengatur sendiri) adalah pohon yang disirami oleh air prasangka buruk (su'uzhan), dan buahnya adalah keterputusan dari Allah Ta'ala. Sebab, seandainya seorang hamba berprasangka baik kepada Tuhannya, niscaya pohon Tadbir itu akan mati.
5. Perumpamaan Dua Orang Hamba
Contoh lain: Perumpamaan orang yang mengatur bersama Allah Ta'ala adalah seperti dua orang hamba di hadapan seorang raja:
Hamba pertama: Ia sibuk dengan perintah-perintah tuannya. Ia tidak menoleh pada urusan pakaian maupun makanannya. Baginya yang terpenting adalah melayani tuannya, sehingga ia lalai dari memikirkan nasib dan keinginan pribadinya.
Hamba kedua: Tuannya mendapatinya hanya sibuk mencuci pakaiannya, mengurus kendaraannya, dan memperindah penampilannya sendiri.
Maka, hamba yang pertama lebih utama mendapatkan perhatian tuannya dibandingkan hamba kedua yang sibuk dengan kepentingan dirinya sendiri. Sebab, hamba itu dibeli untuk tuannya, bukan untuk dirinya sendiri.
Begitu pula seorang hamba yang memiliki mata hati (bashirah). Engkau tidak akan melihatnya kecuali sibuk dengan hak-hak Allah Ta'ala dan menjaga perintah-perintah-Nya daripada keinginan dan ambisi pribadinya. Maka, Allah akan mengurus seluruh urusannya dan melimpahkan pemberian-Nya karena kejujuran tawakal hamba tersebut.
“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
Adapun orang yang lalai tidaklah demikian. Engkau tidak mendapatinya kecuali sibuk mengusahakan sebab-sebab dunianya dan hal-hal yang menyambungkannya pada hawa nafsunya. Ia merasa mampu mengatur dirinya sendiri, namun sebenarnya ia terputus dari husnuzhan dan kejujuran tawakal.
6. Perumpamaan Bayangan di Bawah Matahari
Contoh lain: Perumpamaan orang yang mengatur bersama Allah adalah seperti bayangan yang memanjang saat matahari tidak tepat di atas kepala. Jika matahari telah tegak lurus (zuhur), maka bayangan itu sirna, hingga tidak tersisa kecuali sedikit sisa bayangan yang tidak bisa dihapus. Demikian pula "Matahari Makrifat", jika ia telah menyinari hati, maka keberadaan Tadbir akan terhapus, kecuali sisa-sisa kecil perencanaan yang memang dibiarkan ada pada hamba agar ia tetap bisa menjalankan beban syariat (taklif).
7. Perumpamaan Penjual dan Pembeli
Contoh lain: Perumpamaan orang yang mengatur bersama Allah Ta'ala untuk dirinya sendiri adalah seperti orang yang menjual rumah atau budak. Setelah transaksi jual beli selesai dan penyerahan dilakukan, si penjual mendatangi si pembeli lalu berkata: "Jangan bangun apapun di sini," atau "Hancurkan bagian ini," atau "Lakukan begini dan begitu." (Hal ini tentu tidak pantas karena kepemilikan telah berpindah).
Atau jika penjual datang untuk melakukan hal itu (mengatur setelah menjual), maka dikatakan kepadanya: "Engkau telah menjual, dan tidak ada hak bagimu setelah penjualan untuk mengatur apa yang telah engkau jual." Sebab, tidak ada ruang untuk bersengketa setelah transaksi selesai. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (QS. At-Tawbah: 111)
Maka, wajib bagi seorang mukmin untuk menyerahkan dirinya dan segala yang berkaitan dengannya kepada Allah; karena Dialah yang menciptakannya dan Dialah yang telah membelinya. Dan di antara konsekuensi dari penyerahan diri (taslim) adalah meninggalkan tadbir (mengatur sendiri), karena engkau adalah milik-Nya, sebagaimana telah kami jelaskan.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.