Hendaklah engkau berakhlak
yang baik, mengambil kemuliaannya, dan menjauhi yang buruknya. Rasulullah
saw, bersabda : “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan
akhlak.”
Beliau telah memberikan
jaminan dengan sebuah rumah di tempat yang paling tinggi di surga bagi orang
yang membaguskan akhlaknya.
Ketika akhlak yang baik
itu merupakan ungkapan dalam perbuatanmu dalam menjalin hubungan dan pergaulan
bersama orang yang beruat dusta, maka engkau tahu bahwa tujuan-tujuan makhluk
itu saling bertolak belakang.
Jika ia menyukai si anu, maka dia membenci
seseorang yang menjadi musuhnya. Tidak bisa tidak, keadaannya pasti demikian.
Mustahil engkau bisa menyukai seluruh makhluk dengan akhlak mulia. Ketika kita
melihat bahwa permasalahan sampai pada batas ini, maka Allah memasukkan
diri-Nya dalam persahabatan bersama hamba-hamba-Nya, sebagaimana diriwayatkan
dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata kepada Tuhannya : “Engkaulah sahabat
(ash-shahib) dalam perjalanan dan pengganti ( al-khalifah) bagi keluarga yang
ditinggalkan.” Allah SWT berfirman : “Dia bersamamu di mana saja kamu berada.”
(QS. Al-Hadid, 57:4), dan juga : Ketika ia berkata kepada sahabatnya,
:Janganlah kamu berduka cita. Sesungguhnya Allah bersama kita,.” (QS.
At-Tawbah, 9 :40). Dia juga berfirman : “Sesungguhnya Aku bersma kamu berdua.
Aku mendengar dan melihat (QS. Thaha, 20:47).
Kukatakan bahwa janganlah engkau
membuat kemuliaan akhlak kecuali dalam persahabatan dengan Allah secara khusus.
Karena itu, lakukanlah segala sesuatu yang diridhai Allah, dan jauhilah segala
sesuatu yang tidak diridhai-Nya, entah pergaulan dan akhlak yang bersifat
khusus di sisi Allah, atau dalam hubungannya dengan orang lain, maka yang
demikian itu diridhai oleh Allah, entah engkau menyukai orang itu ataupun
tidak. Sebab, jika dia seorang Mukmin, maka dia senang kepada apa yang diridhai
oleh Allah. Akan tetapi, jika ia adalah musuh Allah, maka kita tidak usah
memberikan penghargaan kepadanya.
Allah berfirman : “Sesungguhnya
orang-orang Mukmin itu bersaudara (QS. Al-Hujarat, 49:10) dan juga : “Janganlah
kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman setia yang kamu sampaikan
kepada mereka (berita Muhammad) karena rasa kasih sayang (QS. Al-Mujadilah,
58:1). Akhlak mulia hanya ada pada apa yang diridhai oleh Allah. Janganlah kamu
melakukannya kecuali bersama Allah, entah itu ditujukan kepada makhluk maupun
segala sesuatu yang bersifat khusus di sisi Allah.
Barangsiapa menjaga apa yang
ada di sisi Allah, maka seluruh kaum Mukmin dan ahl-adz-dzimmah (orang-orang
non Muslim yang di bawah perlindungan pemerintahan Islam. Pen) bakal memperoleh
manfaat darinya. Allah memiliki hak atas setiap orang Mukmin dalam pergaulannya
dengan setiap makhluk Allah secara mutlak dari setiap kelompok malaikat, jin,
manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, barang tambang, dan benda-benda mati.
Mukmin maupun non Mukmin. Aku telah menyebutkan hal itu dalam Risalah
al-Akhlaq, yang kutulis untuk saudara-saudara kita (pada 591 H).
Itu merupakan
bagian yang menarik dan unik maknanya. Di situ disebutkan pergaulan seluruh
makhluk dengan akhlak mulia yang sepatutnya. Akhlak mulia didasarkan pada
keadaan orang yang melakukannya, di mana dan dengan siapa. Ini sudah lumrah dan
umum sifatnya. Rincian dan penjelasannya engkau jumpai dalam kenyataan. Perhatikanlah,
Allah memberikan petunjuk kepada segala sesuatu yang bisa engkau hitung kendati
sangat panjang deretannya. Tidak ada Tuhan selain Allah. Demikian pula,
hendaklah engkau menjauhi akhlak tercela. Engkau tidak mengetahui mana
akhlak mulia dan mana akhlak tercela, kecuali setelah engkau mengetahui
kecenderungannya.
Jika engkau sudah mengetahui kecenderungannya, maka engkau
akan mengetahui mana akhlak mulia dan mana akhlak tercela. Inilah ilmu yang
terpendam. Ilmu tentang kecenderungan akhlak ini tidak akan hilang darimu.
Hanya saja, ilmu ini akan berubah seiring dengan berubahnya keadan.