بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
KAJIAN KITAB AYYUHAL WALAD
Al Ghazali

CARA MENGHORMATI GURU ATAU MURSYID
MENURUT IMAM GHAZALI
أَمَّا احْتِرَامُ الظَّاهِرِ فَهُوَ أَنْ لَا يُجَادِلَهُ
وَلَا يَشْتَغِلُ بِالْإِحْتِجَاجِ مَعَهُ فِيْ كُلِّ مَسْأَلَةٍ وَإِنْ عَلِمَ
خَطَأَهُ، وَلَا يُلْقِيَ بَيْنَ يَدَيْهِ سَجَادَتَهُ إِلَّا وَقْتَ أَدَاءِ
الصَّلَاةِ فَإِذَا فَرَغَ يَرْفَعُهَا، وَلَا يُكْثِرَ نَوَافِلَ الصَّلَاِة
بِحَضْرَتِهِ، وَيَعْمَلَ مَا يَأْمُرُهُ الشَّيْخُ مِنَ الْعَمَلِ بِقَدْرِ
وُسْعِهِ وَطَاقَتِهِ
Adapun cara memuliakan secara dhahir yaitu
[1] Tidak mendebatnya dan tidak tersibukkan dengan
memprotesnya dalam setiap masalah meskipun ia mengetahui kesalahan guru itu
[2] Tidak membeber sajadahnya di hadapan guru itu kecuali
pada waktu melaksanakan sholat lalu tatkala ia sudah selesai sholat maka ia
boleh mengangkat sajadahnya
[3] Tidak memperbanyak melakukan sholat-shola sunnah di
hadapan guru itu
[4] Dan melakukan apapun pekerjaan yang telah diperintah
oleh guru itu semampu dan sekuatnya
وَأَمَّا احْتِرَامُ الْبَاطِنِ فَهُوَ أَنَّ كُلَّ مَا
يَسْمَعُ وَيَقْبَلُ مِنْهُ فِى الظَّاهِرِ لَا يُنْكِرُهُ فِى الْبَاطِنِ لَا
فِعْلًا وَلَا قَوْلًا لِئَلَّا يَتَّسِمَ بِالنِّفَاقِ وَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
يَتْرُكْ صُحْبَتَهُ إِلٰى أَنْ يُوَافِقَ بَاطِنُهُ ظَاهِرَهُ، وَيَحْتَرَزُ عَنْ
مُجَالَسَةِ صَاحِبِ السُّوْءِ لِيَقْصُرَ وِلَايَةُ شَيَاطِيْنَ الْجِنِّ
وَالْإِنْسِ عَنْ صَحْنِ قَلْبِهِ فَيُصَفَّى مِنْ لَوْثِ الشَّيْطَنَةِ وَعَلٰى
كُلِّ حَالٍ يَخْتَارُ الْفَقْرَ عَلَى الْغِنٰى
Dan adapun cara memuliakan secara batin yaitu
[1] Setiap apapun yang ia dengar dan ia terima dari guru itu
secara dhahir maka tidak mengingkarinya secara batin, tidak mengingkari
perbuatan dan juga ucapan, agar guru itu tidak menyebutnya sebagai munafik.
Jika ia tidak mampu, maka tinggalkan menemani guru itu sampai batinnya
(batinnya si murid) berkesesuaiaan dengan dhahirnya.
[2] Menjaga dari berteman dengan orang yang memiliki prilaku
buruk agar dapat mempersempit wilayah kekuasaan syetan dari golongan jin dan
manusia di piringan hatinya, maka hatinya menjadi bersih dari kotoran yang
bersifat syaitaniyyah.
[3] Dan ia memilih fakir daripada kaya pada setiap keadaan.
Wallahu a'lam bis showab.
Daftar isi
Kitab Terjemahnya Disini
Untuk Kitabnya Download Disini
Untuk Kitab Makna pesantren Download Disini
<<Kajian Sebelumnya
Kajian Selanjutnya>>
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya iklan adsen. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih. Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Artikel Terkait :